Markesot Gundah



     Ada anekdot sederhana buat para pembaca artikel yang kangen sama hobinya membaca, anekdot ini saya angkat dibuku karangan ‘ema ainun najib” yang berjudul “Markesot Bertutur” didalam buku tersebut banyak yang bisa kita ambil ilmunya entah itu ilmu politik, renungan, perkembangan zaman, hingga guyonan yang amat mengasikan untuk dihayati oleh para pembaca, ok semoga artikel ini menambah khazanah ilmu kita, terimakasih.

     Ketika itu, Markesot gundah kebetulan menyaksikan peristiwa yang menggundahkan hati. Jumat yang penuh duka dan berlumur darah.
     Untuk kesekian kalinya terlontar dari mulut Markesot seperti dulu ketika malaikat bertanya kepada pencipta awal manusia : “Ya Allah, untuk apa, sih, Engkau ciptakan manusia, yang toh nanti akan bikin rusak di bumi dan menumpahkan darah …?”
Dan terngiang-ngiang lagi jawaban Tuhan : “Aku tahu, dan engkau tak tahu …”
Maka, senantiasa harus kita cari cara memandang yang lebih dewasa dalam kehidupan ini. Kenapa harus ada anak-anak muda yang dihargai sedemikian rupa, ditendangi tubuhnya, dipukuli kepalanya, dan digejroh dengan popor senapan ?, kenapa di tempat lain pada saat yang lain seakan manusia harus menemui ajalnya dengan berondong peluru? Ada apa, sih, hidup manusia ini?, Apa, sih, yang mereka cari? Apa yang mereka pertahankan? Sedemikian agung dan indahkah sesuatu yang dipertahankan dengan cara yang sedemikian keras dan penuh darah itu?
     Anak-anak muda yang polos. Mereka mereka berkumpul didepan siding pengadilan dan memprotes keputusan hakim. Anak-anak muda yang polos, berani, dan masih pintar, merasa bahwa hukuman itu tidak adil. Kalau si terhukum harus memikul vonis seberat itu, ada beribu-ribu orang lain yang harus orang juga menerima hukuman yang sama, atau bahkan yang lebih berat. Bahkan lebih berat. Bahkan, selama ini bertindak anasionalistik, merugikan bangsa dan negara, tapi tetap saja aman dan sentosa, justru memperoleh bagian yang nyaman dan mewah dari kekayaan negeri ini.
     Anak-anak muda yang polos itu beramai-ramai menyanyikan lagu patriotik.. kemudian, berjamaah shalat jumat dengan menunjukan salah seorang dari mereka untuk jadi khatib dan imam darurat, dan dilangsungkan di tengah jalan raya. Kemudian, kerena kepolosan mereka, mereka tak lagi bisa menemukan di mana akan meletakan hasil penalaran hukum dan politik mereka, maka diputuskanlah untuk bersama-sama pergi ke gedung perwakilan rakyat.
     Maka, dimulai teragedi itu. Seolah-olah Qabil sedang menanti pentungan kekayaan. Seolah-olah Ibrahim sedang diikat untuk dibakar oleh Fir’aun. Meskipun demikian, zaman ini sudah sedemikian semeraut, siapa Ibrahim, siapa Fir’aun, sudah samar. Struktur persoalan sudah sedemikian kompleks. Terkadang kita adalah Ibrahim, terkadang kita Fir’aun, terkadang kita adalah kayu bakar, terkadang kita adalah tapi yang menyala-nyala ….
     Entah siapa yang mebisikan, tiba-tiba saja anak muda yang saling berentang tangan itu dibentak, dihardik, dipikul, di protholkan giginya, diberdarahkan mulutnya, dan diseret dilemparkan naik ke kendaraan untuk “diamankan”.
     Seperti juga yang terjadi di satu dua tempat lain sebelum ini, kota itu menjadi geger. Markesot ada ditempat tertentu menyaksikan adegan tersebut. Bersama ribuan manusia yang menonton, Markesot hanya sanggup menggumamkan : “Allah Akbar, Allah Akbar”. Besoknya keluar pernyataan dikoran dari apparat : “Itu hanyalah jeweran seseorang bapak kepada anaknya ….”
     Maka, kalau mengenang-ngenang peristiwa dikota itu, Markesot terus terang jadi bingung. Peristiwa itu hanyalah satu contoh kecil dari berbagai peristiwa lain yang menghasilkan darah. Bahkan, juga kematian ketumpasan dari banyak orang. Belum lagi kalau kita hitung bentuk ketupasan lain yang sifatnya sistemik: kita semua tahu ada banyak kalangan masyarakat yang semaput secara sosial ekonomi, pingsan politik, dan seterusnya. Bahkan, gampang sekali tiap hari kita mencari contoh dari ketumpasan nilai-nilai baik, kebenaran, keadilan, keberadaban, kebudidayaan, kearifan, keilahian ….
Markesot adalah seorang laki-laki berasal dari dusun yang begitu ingin menjadi warga negara yang baik. Dia ingin menaati sebanyak sebanyak mungkin berita-berita kebaikan. Baik berita kebaikan dari kitab suci, dari buku-buku akhlak dan moral, dari karya-karya seni, dari pidato pejabat, maupun dari obrolan sehari-hari dikampung, di pasar, di masjid, di gardu, atau dimana saja.
Tapi, amat sukar mencari contoh. Sering, kalau dia berbuat baik, malah susah. Kalau dia berbuat jujur, malah celaka. Kalau dia membela kebenaran, malah dicurigai. Kalau dia memperjuangkan ke adilan malah dianggap penjahat. Kalau dia menerapkan kemuliaan, malah dianggap melawan. Kalau dia mengemukakan keluhuran, malah dianggap pemberontak.
     Rupanya selalu ada pertentangan dalam merumuskan apa yang disebut baik, jujur, mulia, benar, konstitusional, edukatif, atau apa saja. Begantung mata siapa yang memandangnya. Bergantung telinga siapa yang mendengarnya. Bergantung hati siap yang merasakannya. Bergantung mulut siapa yang mengucapkannya. Bergantung siapa yang punya kepentinganya, siapa yang berkuasa . . . . Lantas Markesot mesti menaati yang mana?
     Di ujung berbagai permenunganya, selalu akhirnya Markesot tiba pada suatu kesimpulan yang diyakininya paling benar. Yakni, bahwa manusia harus melihat sesuatu dengan mata Allah. Melihat dan menilai serta mengerjakan sesuatu secara mata dan tangan Allah. Maka, apa hak manusia yang tak bisa bikin matanya sendiri ini untuk tidak melihat sesuatu secara Allah.
Namun, sudah dialaminya, kalau dia sungguh-sungguh melihat kehidupan dan segala persoalannya ini secara Allah, betapa banyak bahaya yang dihadapi.
Apakah itu berarti dunia ini penuh dengan musuh-musuh Allah?
Markesot bingung. Maka, dia hanya kembali shalat dan senantiasa mengucap astaghfirullah, subhanallah, ya Hafizh, ya Hafiz, ihfazhnaa ….[]
     Bagaimana sahabat artikel yang sudah membaca Markesot Gundah, apa kalian tak mengerti apa yang dimaksud dalam anekdot markesot ini, coba lebih dihayati lagi dan direnungkan lagi, pasti kita akan sadar dizaman ini, zaman yang entah seperti apa, kita melihatnya bukan seolah-olah melihat dengan kedua mata kita ya, coba kita melihat dengan mata sang pencipta atau karena Allah dengan tangan Allah semuanya karna Allah pasti kita terutama saya sadar, dunia ini terasa banyak musuh atau tidak ada musih, ingin saya menjelaskan tetapi sungguh terlalu miris untuk dijelaskan dan sedih untuk didengarkan, semoga kita bisa terus bertafakur kepada sang maha pencipta melihat lebih luas alam ini, ilmu ini, ilmu Allah yang diberikan kepada kita dan alam keapda kita supaya kita bisa menjaganya dan melestarikannya hingga menujuh lebih sejahtera.

Comments

Popular Posts