Mendengar Yang Bukan Suara




Rombongan yang mencari Markesot ke Krian itu berbicara tidak saja tentang kebiasaan-kebiasaan aneh Markesot, tapi tentu saja tentang sepak bola.
“Maradona itu sebenarnya mewakili tuhan, apa mewakilin setan menurut kamu ?”
“Kalau mewakili tuhan bagaimana, dan kalau mewakili setan bagaimana ?”
“Ya, kalau menjadi penyalur keajaiban itu namanya mewakili Tuhan. Misalnya, sudah membel begitu melawan berazil ehh ko tiba-tiba diakhiri dengan acara ada momentum ajaib yang membuahkan gold an juga menggugurkan seluruh keterampilan, keindahan dan perjuangan ke sebelasan berazil. Lantas kalau curang, itu yang namanya mewakili setan. Waktu melawan inggris pada tahun 1986, dia bilang itu tangan Tuhan, dan waktu curang lagi waktu melawan Soviet, wartawan bilang itu tangan setan.”
“Mungkin pertanyaannya yang salah. Kalau ada setan  menggoda Adam, itu setan mewakili siapa ?, Mewakili dirinya sendiri ?, Padahal, godaan setan itu justru yang memunginkan manusia yang memiliki lahan untuk berjuang, dan dengan berjuang, ia memperoleh kemuliaan dari Tuhan. Jadi soal Maradona tergantung caran melihat hakikat hidup, Yang penting menurut saya dua hal.
Yang pertama, poknyah banyak keanehan hasil pertandingan di Piala Dunia, Tuhan makin banyak disebut-sebut. Backbeour saja nervous dan lari ke gereja sebelum melawan belanda. Orang Berazil juga berintropeksi dengan mengkhawatirkan jangan-jangan Tuhan. marah gara-gara menganggap sepak bola sebagai agama.
Dan yangkedua, sebenar nya Maradona itu seperti ditugaskan untuk menyindir berbagai hal, Misalnya : soal kecurangan itu, kita seolah-olah diingatkan bahwa kita boleh mencuri asal tidak ketahuan. Maradona curang dan wasit tidak mengetahuinya. Jika dunia persepakbolaan tidak dilandasi oleh tujuan dan kesadaran dan nilai yang lebih luas, perkembangan teknologinya nanti mengarah pada pencanggihan pelanggaran. Di bidang lain, Maradona juga disindir untuk menyindir relativitas nilai-nilai. Sebab juara bertahan Argentina digasak Kamerun, lantas mereka malah menggasak Berazil. Dengan demikian, kita berfikir bahwa keunggulan-keunggulan dalam sepak bola itu bersifat relatif. Karena itu, tangis dan tawa kita sebaiknya tidak digantungkan kepada hasil gol. Pemain Brazil, misalnya, telah berjuang secara bagus dan indah, untuk itu kita yang melihat sepak bola lebih dari sekedar olah raga, sudah punya alasan untuk bergembira, Sepak bola lebih luas dari sekedar terciptanya goal”
“Tidak usah terus-terusan omong begitu!, salah seorang memotong, “itukan ilmunya Markesot…..””
“Lho! Itu pemikiran saya sendiri. bahwa ada kecenderungan yang sama dengan Markesot, itu’kan sama dengan kamu menjumpai pohon kelapa di Irian Jaya seperti yang kamu jumpai di Pulau Jawa. Janan lantas bilang kelapa Irian Jaya itu tumbuh itu meniru kelapa pulau Jawa!”
Sangat banyak yang mereka perbincangkan tentang Piala Dunia. Habis memang banyak yang aneh-aneh. Seolah merupakan tanda-tanda zaman. Kebangkitan kamerun diidentifikasikan sebagai indicator dari “MEGATRED” dimana kaum lemah memunculkan perlawanan serius. Tapi, ketika orang memakai kerangka Politik dimana persepak bolaan negara dunia ketiga dibela atau dipihaki, Brazil yang miskin justru memperoleh, “BENCANA” semua menjadi tak menentu. Dan kalau memang orang tak bersungguh-sungguh percaya pada “Perlawanaan Kepada Kaum Tertindas” orang justru akan panik karena Deutsche Uber Alles sangatlah nggegirisi tank-tanknya.
“Tapi, apapun rumus yang kita pakai untuk menganalisis zaman dari indicator dunia persepakbolaan, yang pasti adalah dewasa ini, sedang berlangsung perubahan-perubahan besar yang serius dalam peradaban manusia. Pergeseran-pergeseran yang seolah-olah ajaib. Kalau kita mencari inti makna kehancuran komunisme di Eropa Timur, semsetinya sejak mula kita menyiapkan diri untuk tidak kaget untuk menyaksikan hasil-hasil aneh dari pertandingan sepak bola ………”
“Maksudmu?”
“Didunia sedang berlanggsung ke ajaiban ke ajaiban yang tidak bisa diukur dengan segala keindahan rasional. Kita harus bergerak memakai metode dan kerangka pandang yang lebih luas.”
“Paranormal?”
“Jangan pakai kata istilah itu, mungkin yang lebih tepat adalah Suprarasional. Yang jelas, informasi agama semakin kita perlukan menghadapi gejala-gejala sekarang dan tahun-tahun sesudahnya.”
“Lantas, apa hubungan lenyapnya Markesot ?”
“Mungkin dia sedang menyepi atau bertapa …..”
“Klenik!”
“Jangan tergesa-gesa menyimpulkan. Menyepi tu penting, supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi keramaian.”
“Malah kamu sendiri mengutif dari ilmunya Markesot.”
“Memang, sebab yang kita cari sekarang adalah Markesot. Jadi, kita harus memakai cara dengan mendekatkan diri kepada kerangka Markesot sendiri”
“Pintar silatmu!”
“Terserah apa katamu. Yang penting, pasti bukan taka da maksud nya. Markesot embambung di Krian. Mungkin dia betul-bertul sedang menyepi. Sambil mengambil jaraj dari kehidupan ramai, supaya dia punya presfektif untuk melihat dan menilai apa yang terjadi. Menyepi itu seperti puasa, kamu pernah kelaparan enggak sih?, cobalah jangan makan tiga hari tiga malam. Amatilah apa yang terjadi setelah 12 jam, sesudah 24 jam, sesudah 36 jam, amati apa yang terjadi pada tubuhmu, pikiranmu, jiwamu. Bahkan kamu akan kaget karena telinga pun mengalami pertumbuhan fungsi. Kamu akan tau sesudah lapar dalam jangka waktu tertentu, seperti ada dingding yang jebol yang selama ini memabatasi pendengaran, sesudah dingding itu jebol, telinga mu akan mendengar suaru yang kamu belum pernah ada dan ada yang kamu bisa tidak dengar. Mungkin suara dari kesunyian, dari kedalaman lubuk kehidupan. Suara yang sebenarnya yang bukan suara, tapi sangat merupakan suara karena ia lebih sejati. Selama ini orang menjalankan puasa Ramadhan secara keliru. Mereka tidak mempertahankan atau tidak memelihara lapar. Sudah bagus-bagus lapar sampai sore, tiba magrib malah makan kenyang-kenyang hingga sia-sia laparnya. Apalagi kalau makanya pada waktu bulan puasa malah lebih banyak dibanding dengan bulan-bulan biasa. Padahal, ketika magrib kita diwajibkan untuk pertimbangan medis. Kita makan ala kadarnya supaya kesehatan terjaga, tapi laparnya masti kita teruskan. Dan situasi lapar itu bisa kita pertahankan sebulan, sambil kita betul-betul apa yang dialami oleh jiwa kita sebulan lapar itu. Kita betul-betul memperoleh keadaan idul fitri. Jadi, Markesot ini ibaratnya sedang melaparkan diri dari makanan-makanan dunia lingkungan ini yang sudah membuat ia sudah muntah ……..”
“Bagus, bagsu sebaiknya kita tidak usah meneruskan pencarian Markesot ini……..”
“Apa maksudmu?”
“Toh, sudah ada penceramah penggantinya!”
Semua tertawa. Tapi mereka memang tak sia-sia Krian. Di sekitar stasiun itu, taka da batang idung Markesot.
Tolol mereka Markesot ko dicari……..[]”

Comments

Popular Posts