Menembus Batasan-Batasan
Adakah
hal yang aneh untuk menembus suatu batasan-batasan dimuka bumi ini,
batasan-batasan untuk menemukan identitas tersebut, identitas yang samar bahkan tidak terlihat
oleh lensa mata kita secara kongkrit dan jelas, masih abu-abu.
Setiap
insan manusia mempunyai identitas-identitas secara personal dalam diri pribadi
dan identitas itu mungkin sejak lahir harus ditemukan secara mencari, mencari
dengan tekun, teliti (presisi), konsisten dan keyakinan hati, tetapi tidak
semua orang menemuan hal itu, identitas dirinya dalam jiwanya kadang ada yang
hanya setengah-setengah dalam menggapainya dan adapun terpanggil dalam dirinya.
Jadi
ingat idiom beliau tuan imam al-ghazali atau bernama lengkap Abu Hamid Muhammad
bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii adalah seorang ulama yang
produktif dan beliau pernah membagi manusia menjadi 4 golongan versi (bentuk)
beliau :
1. “Rojulun
Yadri wa Yadri Annahu Yadri”
Artinya
: Seseorang yang tahu (berilmu), dan tahu bahwa dirinya tahu.
Ini adalah jenis manusia yang paling baik
yang tahu akan ilmunya dan dia tahu bahwa dirinya berilmu maka dari itu iya
menggunakan ilmunya dengan secara manfaat dan berusaha semaksimal mungkin untuk
terus mengembangkan ilmunya dengan ketekunan dan konsisten. Tipikal manusia ini
adalah manusia yang unggul dan beruntung akan ketahuan dirinya.
2. “Rojulun
Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri”
Artinya
: Seseorang yang tahu (berilmu), tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu
Model
manusia ini seolah manusia yang sedang tertidur, dibangunkan malah tidur lagi
maksudnya manusia type ini dia tahu bahwa dalam dirinya punya kecakapan dan
determinasi ilmu yang sesuai dirinya terkadang type manusia ini sering kali
banyak di keliling sekitar kitabahwa dia tahu akan potensi dirinya tetapi dia
tidak tahu tentang potensi dalam dirinya.
3. “Rojulun
Laa Yadri wa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri”
Artinya
: Seseorang yang tidak tahu (tidak atau belum tahu belum berilmu), tapi dia
tahu alias sadar diri kalau dirinya tidak tahu.
Jenis
manusia seperti ini masih tergolong manusia baik karena masih sadar akan
kekurangan pada dirinya, ia muhasabah atau awas diri terhadap dirinya dan bisa
menempatkan dirinya yang sepantasnya karena dirinya tidak tahu bahwa dirinya
tidak berilmu, maka dia belajar (interenship). Dia tidak tahau maka dia
belajar.
4. “Rojulun
Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri”
Artinya
: Seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu) dan dia tidak tahu bahwa dirinya
tidak tahu.
Jenis
manusia ini tergolong manusia yang paling dominan ora tidak tahu diri dan type
ini manusia yang selalu merasa mengerti dan selalu merasa tahu ilmu (sok tahu)
padahal ia tidak tahu apa-apa.
Manurut beliau imam Al-ghazali seperti ini
type model manusia yang mempunyai 4 golongan, kita sebagai manusia yang
diciptakan kea alam semesta termasuk golongan manakah kita dalam setiap
peribadi kita, kita tanyakan terus ke lubuk hati yang paling terdalam ?
“Jangan
melihat keluar, lihatlah ke dalam diri sendiri (your self) dan carilah itu” (Jalaluddin
Rumi).
Ada
yang mengerti tentang ungkapan seorang sufistik ini, ungkapan beliau ini sangat
dalam sedalam lautan, beliau mengajarkan kita untuk menemukan jati diri (personal
identity) dan mencari itu lewat ikhtiar sesuai hati, dan mencoba,
mencoba sehingga riset mencoba itu menjadi adanya suatu (interested/affinity)
ketertarikan suatu bidang yang di coba meskipun bidang atau ilmu itu di nilai
kecil oleh masyarakat, masyarakat disini artinya oleh orang-orang disekitar,
misallkan anda tertarik ke dunia pendidikan, jurnalistik, penulis (kolumnis),
batu akik (bebatuan), otomitif dan lain-lain. Itu semua bisa di gali dan di
kembangkan sampai menemukan kesesuaian dan marketable (bisa dipasarkan) sesuai
karya dan kemampuan, ada pepatah “hobi itu enaknya dibayar” lah ini hobi, hobi
yang ditemukan dan menjadi apresiasi untuk menjadi nilai kualitas diri kita
untuk marketable (dipasarkan).
Hasilnya
pun bisa menembus batasan-batasan yang tidak terpikirkan oleh sebagian manusia
berdasarkan kemampuan (identitasnya), dan bukti nyatanya mentri perikanann dan
kelautan yang membuat konsisten dan ulet terhadap cintanya kepada ikat dan
pemasaran sejak (wirausaha) meskipun jenjang tempuh pendidikannya berakhir di
kelas 2 SMA Negeri 1 Yogyakarta, dan beliau bisa mencapai hobinya hingga tanpa
menjadi sarjanapun bisa menduduki kursi kabinet menjadi mentri perikanan dan
kelautan di Indonesia dan tembuslah batasan-batasan tersebut dengan kerja keras
dan hasil (result) nyapun menjadi hal yang membuat tidak mungkin oleh pandangan
masyarakat.
Saha
percaya ungkapan yang dilontarkan budayawan Emha Ainun Najib bahwa “Tuhan
(Allah SWT) tidak mengajarkan kita untuk sukses melainkan untuk berusaha
(berikhtiar)” hingga konteks berusaha di sini menjadi semua akumulasi dari
pencapaian yang ditempuh, dan
Terus
bertanya dan terus bertanya, bukan yang ditanyakan “berapa” tetapi yang harus
di tanyakan “mengapa” semua awal dari bertanya, bertanya dan bertanya mengetuk
dan mengetuk hingga menghasilkan goal (tujuan) untuk sesuai pokus kita, karena
terciptanya keilmuan kita terhadap pribadi adalah rasa ingin tahu dalam diri
kita.
Dan
percaya tidak percaya ungkapan dari seorang ilmua steve hawking yang
menciptakan teori big bang tetang lakon alam semesta bahwa “manusia itu sangat
istimewa, dan istimewanya manusia bisa melampaui dengan kemampuannya melebihi
alam semesta” dan begitu hebatnya manusia-manusia ini diciptakan oleh Allah SWT
yang telah menciptakan kita secara tidak sia-sia (walaqad karamna bani adam)
(“dan sungguh telah kami muliakan bani adam (manusia)) takdir manusia adalah
menjadi makhluk yang mulia dan janganlah kalian hinakan diri kalian sendiri.
Kalian
adalah makhluk-makluk yang heboh, super, heroik, luar biasa, stronk, ambisi
tetapi makluk-makluk ini belum bertemu dengan baju supernya masing-masing dalam
dirinya, bila mana ada yang berkata ada orang bodoh (jumud) mereka yang
mengatakan itu adalah seseorang yang tidak punya formulasi kerangka berpikir
yang secara tersusun (komperhensif) masih acak-acakan.
Bila
mana manusia menemukan insan dalam dirinya atau mengenal dirinya maka ia akan
sibuk mempernaiki dirinya dan tidak memperdulikan cacat orang lain, cinta dan
jatuh cinta pada dalam dirinya dan menemukan ke autentikan dalam dirinya dan
cinta akan keperibadiannya, dan cita itu akan berdampak menjadi cinta kepada
manusia dan salah satu cinta itu apresiasi cinta kepada Allah SWT.
Sungguh
tuhan menciptakan kita tidak sembarangan asal menciptakan, dan kitapun harus
sadar akan jati diri kita masing masing hingga cinta tersebut menembus
mabatas-batasan yang tidak terpikir oleh manusia tersebut dan dampak tersebut
suatu hal yang membanggakan untuk suatu prestasi keunggulan kita dan
diapresiasi atau manfaat untuk masyarakat dan sekitar sekalipun negara.

Comments
Post a Comment