Darah Dagingku Riba
Seorang
mahasiswa di malang, melalui suratnya, menyatakan rasa cemas, jangan-jangan
yang selama ini ia makan dari orangtuannya yang pedagang itu dari riba. Bahkan
barang haram. Ia mencoba mengisahkannya, memperingatkan orangtuannya, memberontak,
dan terus mencoba menyatakan sikap.
“DalamBerdagang” tulisnya, Bapak saya selalu mencampurkan antara barang yang bagus
dan jelek, sementara ia memberi harga seolah-olah semuannya adalah barang
bagus, dan pembeli tidak diberi tahu bahwa barang itu campuran. Jelas dalam hal
ini mengandung penipuan.
“Sebagai
putrinya, saya telah berusaha menasehati Bapak, juga berdoa kepada Tuhan agar
beliau menghentikan kecurangan itu. Namun, bapak terus saja, padahal makan,
minum, dan biaya hidup saya berasal dari kecurangan ini.
Saya
jadi merasa bahwa saya juga berdosa. Bahwa seluruh perbuatan baik saya, shalat,
puasa dan amal-amal saya tidak ada gunannya. Darah daging ini riba, haram …
Memang.
Para penjual bensin eceran di kios-kios pinggir jalanpun selalu memasang papan
“Jual Bensin Murni” padahal, orang yang paling bodoh pun bisa mengerti bahwa si
penjual tidak mungkin mengebor minyak sendiri dan langsung dijual dalam keadaan
murni. Bahwa ia harus mengambil laba dari bensin, dua satu-satunya kemungkinan
untuk memperoleh laba adalah dengan mencampurkan minyak tanah.
Penipuan
sudah sangat telanjang. Adapun pada mekanisme perdagangan yang samar dan bisa
ditutupi, yang terjadi mungkin “maha” penipuan. Dan, kita semua sudah imun.
Sudah merasa bisa dan normal. Di bawah sadar yang kita bahwa sehari-hari dalam
berdagang, hal itu “bukan dosa” lagi.
Sesungguhnya,
dalam kosmologi hidup ini ada yang namanya gelombang, vibrasi, getaran atau
resonasi. Kalua istri kita hamil, kita rajin-rajin membisiki perutnya dengan kalimah
tahyyibah serta doa-doa yang bijak buat anak kita. Itu artinya kita
menciptakan atmosfer batin yang akan merupakan landasan kemakhlukan dan
keperibadiannya kelak. Bukankah Allah sendiri memperkenakan dan meminjamkan
kesanggupan semacam ini dengan pernyataan melalui Rasul-nya bahwa para
orangtualah yang memerahkan atau menghijaukan anak-anaknya?
Maka
kita putihkan atau kita kuningkan putra tidak hanya melalui gerbang kesadaran
akalnya, tetapi juga melalui seribu pintu biologis dan spiritual lainnya. Kita
lantunkan doa dan harapan melalui pori-pori kulit istri kita dengan harapan
pantulan kun fayakun-Nya akan berlaku lagi anak-anak kita sesuai dengan
pemenuhannya atas dambaan kita.
Bagi
bayi, pendidikan tahap awal adalah spiritualitas, selanjutnya baru intelektual-rasional,
pedagogis maupun andragogis. Bagi orang dewasa dan tua, pendidikan tahap
pertama haruslah dialog intelektual, strategi rayuan empiris, baru kemudian
mendayagunakan gelombang spiritual. Jadi, mahasiswa kita di malang itu boleh
berhenti melakukan ketiga-tiganya.
Rumah
sehari-hari yang diisi oleh suara mengaji firman berbeda getaran dan roso-nya
dengan rumah yang dididik oleh suara anjing atau musik-musik serba duniawi.
Demikian juga apabila di lubang telinga seseorang yang berbuat dosa kita kirimkan
vibrasi firman Allah terus-menerus, para malaikat dengan sendirinya akan
bertugas untuk melaksanakan efek logisnya menuju perbaikan.
Di
Jakarta saya sering sieng-iseng omong kepada teman-teman bahwa setiap hirupan
napas saya dikota metropolitan ini merupakan defisit spiritual kosmologis.
Kenapa ?
Kalua
dihati seseorang tergetar suara niat jahat, misalnya untuk menipu, merampok
atau menyembah kefanaan dunia, sel-sel udara yang ia isap akan berbeda dengan
yang ia embuskan. Udara yang di embuskannya sudah mengandung muatan gelombang
negatif tertentu. Apalagi, jika gelombang itu bukan sekedar berupa iktikad di
dalam hati, tetapi telah merupakan perbuatan-perbuatan nyata.
Dan,
akan lebih parah lagi apabila pekerjaan sehari-hari udara yang dianugrahkan oleh
Allah ini diisi oleh sistem-sistem dan mekanisme ketidakadilan, penindasan,
atau untuk menularkannya kepada kita melalui muatan-muatannya, getaran, dan
resonasinya. Sesudah melewati jarak waktu tertentu, kita akan dengan sendirinya
tuning ini kecenderungan-kecenderungan negatif tersebut.
Di
manakah ada tersisa tempat yang tidak membuat kita tuning in dosa-dosa,
riba-riba, haram-haram? Setiap saat orang-orang di sekitar kita barkata:
“Mencari uang haram saja susah, apalagi yang halal”
Allah
tidak menuntut kita putih bersih tatkala kita berada di tengah lautan yang
kotor, kumuh, dan busuk airnya. Juga ditengah arus yang kuat, kita tidak
dituntut untuk mampu melawannya, sebab untuk tegak bertahan saja pun sudah amat
terpuji. Kalua kita shalat ratusan rakaat sehari karena kita adalah anggota
masyarakat Negeri Madinah yang baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur pada
zaman Rasullulah, itu wajar.
Akan
tetapi, kalau shalat lima waktu kita bisa lengkap plus wirid sekian jam saja
sambil jalan-jalan di tengah peradaban maksiat abad 20, itu sudah luar biasa,
atau, uang kita hanya seribu perak, kita nafkahkan Sembilan ratus perak, itu
pahala lebih besar dibanding tetangga yang menafkahkan sepuluh perak dari
sepuluh sepuluh juta perak uangnya.
Kalau
burung-burung bisa terbang, itu normal. Namun, kalau tikus melayang-layang di
udara, itu luar biasa namanya. Maka, mahasiswa kita dikota dingin itu tak perlu
meratap, melainkan mensyukuri upaya-upaya perbaikannya yang tak mengenal kata
stop.

Numpang promo ya Admin^^
ReplyDeleteingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat
ayo segera bergabung dengan kami di ionqq^^com
add Whatshapp : +85515373217 || ditunggu ya^^