Kesehatan Mental di Era Digital

Seiring dengan perubahan-perubahan yang berada disekitar kita, terkusunya untuk perubahan dalam ruang lingkup sosial di negara masing-masing atau perubahan yang menghantam dunia. Perubahan akan terus berjentang panjang terkusunya perubahan sosial dan perubahan sosial akan melingkupi beberapa elemen seperti perubahan alam, manusia, berpolitik, bisnis, komunikasi, wirausaha atau berorganisasi dan lain-lain.

Bila semuanya perubahan itu didasari dengan adanya inovasi-inovasi baru yang berkekuatan besar ataupun hadirnya teknologi dalam lingkup semua posisi maka secara tidak langsung perubahan tersebut bakal berdampak langsung meliputi semua unsur terutama unsur yang menyangkut manusia. manusia adalah makhluk sosial yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi wakil Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi untuk memberikan dampat yang manfaat terhadap disekitarnya.

Tetapi hakekatnya manusia mungkin layaknya seperti binatang dan mungkin yang dilihat sekarang yang bernama manusia itu hanya tampilannya, para awliya seperti Imam Ja’far memepunyai hakekat manusia dibalik penampilan kemanusiaannya. Kemampuan itulah di transfer ke murid, meski sebentar. Tuhan menolong kita untuk memelihara kesucian hati. Tetapi dari perubahan-perubahan sosial manusia adalah objek yang paling real dari dampak perubahan-perubahan tersebut.

Era internet semua manusia yang meliputi elemen anak dibawah umur, remaja dewasa (lansia) satu persatu pasti mempunya smart phone dalam dirinya masing-masing entah itu ada yang punya 2 smart phone dalam 1 orang ataupun 1 orang ada 1 smart phone yang jelas pengguna internet ataupun yang mempunyai handphone gegam lebih dari 132,7 juta menurut APJI. Mungkin ini cukup pantasti angka yang besar diperoleh oleh negara kita indonesia yang akar budayanya sangat beragam-ragam.

Teknologi informasi memang memudahkan manusia terutana internet dan alatnya yang diperoleh manusia hingga bisa membawa individu menjadi lebih cepat, lebih smart, dan lebih menghemat waktu terhadap aktivitas kehidupan manusia. Layanan transpormasi online misalnya, memudhkan individu menuju tempat yang kita tuju. Maka, semua orang setuju era digital informasi ini memiliki dampak positif dan membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Namun, era baru juga ini memiliki akses yang dapat berdampak negative terhadap kesehatan mental kita, gangguan tidur, stres, depresi (dan berakhir dengan bunuh diri), permasalaha pada atensi dan memori akibat seringnya Multitasking, Fear of Missing Out (FOMO) atau suatu kecemasan sosial karena kurang update, narsis yang patologis, menurunnya empati, dan adiksi internet merupakan sederet permasalahan yang mungkin terjadi pada individu yang kurang mampu “berselancar” dengan baik di era digital informasi. Maka, Scott Backer, Ph.D (2015) dari MSU Counseling Center memaparkan dengan gamblang atropi yang terjadi pada beberapa bagian otak seperti halnya korteks prefontal, striatum, dan insula skibat kekurangmampuan individu hidup di era digital informasi.

Korteks prefrontal merupakan bagian otak yang menjadi pembeda manusia dengan mahluk lainnya. Pengamilan keputusan, pengendalian implus (dorongan), perencanaan, dan kebijaksanaan ada di dalamnya. Sementara striatum, bagian otak yang berkaitan dengan penghargaan dan juga learning (proses belajar). Insula merupakan bagian yang berhubungan dengan empati dan compassion (kasih sayang). Jadi apa jadinya jika pada kedua bagian tersebut terjadi atropi atau penyusutan ? individu menjadi seorang yang reaktif, terburu-buru dalam mengambil keputusan, sulit konsentrasi dan mudah lupa, ingin mendapat hasil yang cepat atau kurang mau menjalani proses, dan kurang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Makan kemampuan “berselancar” dan beradaptasi ei era digital informasi menjadi kebutuhan yang layak dipertimbangkan bahkan disejajar dengan kebutuhan pokok kita. Salah satu dari kemampuan “berselancar” itu adalah ability to live in the present moment, seperti yang dikatakan Abraham Maslow, psikologi ternama dunia. Kemampuan untuk hidup ada saat ini  (in the present) dan disadari seutuhnya itu bernama mindfulness.

Germer,Siegel, dan Fulton (2005) menyebutkan mindfulness adalah suatu kondisi kesadaran pada saat ini dengan penuh penerimaan. Mindfulness menekankan pada kesadaran, menjadi sadar sepenuhnya pada hal yang terjadi saat ini dengan mengalihkan pengalaman yang lain, diterima sepenuhnya tanpa penilaian. Mindfulness merupakan suatu keterampilan dalam memberikan perhatian dengan berfokus pada satu keterampilan dalam memberikan perhatian dengan berfokus pada suatu tujuan, saat ini, dan tidak menilai. Sederhananya mindfulness merupakan suatu dimana pikiran, perasaan, dan tubuh kita berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu maupun masa depan.

Mindfulness sangat berorientasi pada hidup saat ini. Konsep hidup saat ini (living in the present) berbeda dengan hidup untuk saat ini (living for the present). Hidup untuk saat (living for the present) ini dapat membuat seorang individu berprilaku dengan tidak mempertimbangkan konsukuensi yang terjadi dimasa depan. Sementara hidup pada saat ini (living in the present) mengembangkan prilaku berdasarkan kontrol diri dan pencapaian tujuan yang lebih efektif (Brown, Ryan, & Cresewell, 2007)
Orang yang sehat dan bahagia mengembangkan kehidupan yang mindful.pikirannya tidak membara kemana-mana, baik ke masa lalu maupun masa depan. Biasanya orang yang hidup di masa lalu masih memendam kekecewaan, kemarahan, kekesalan, dendam, dan perasaan bersalah. Sedangkan orang yang hidup di masa depan merupakan tipe orang yang cemas dan khawatir berlebihan, selain itu hidupnya juga cenderung terburu-buru dan tidak tenang.

Mungkin ini yang dinamakan gangguan kesehatan mental yang bisa berdampak kepada manusia terganggu secara tidak sadar (aware) dampak yang begitu ada korelasi antara manusia dan gangguna mental di era digital. Mudah-mudahan secara sadar kita wajib mengetahui dan menjegah atau yang kita alami.

Comments

Popular Posts