Status Media Cetak dan Media Elektronik

Dalam dekade kedepan media masa sangat berkembang pesat terutama media di indonesia, entah itu media cetak atau media elektronik yang menggandrungi informasi di tanah air saat ini, tetapi yang lebih dominan umumnya dikonsumsi oleh masyarakat lebih kepada media elektronik seperti (berita nasional, berita lokal, blogger, mikroblog) pada initinya yang berbasis digital.

Lalu bagaimana nasibnya dengan media cetak untuk hari ini, seperti (koran, tabloid, majalah, katalog) yang non-digital (tidak elektronik) untuk media yang semakin kesini semakin terbelakang atau terdistrupsi oleh media elektronik. Media juga berasal dari baahsa latin “medium” (jamak), yang memiliki arti “perantara” atau “pengantar”. Media juga diartikan sebagai sesuatu yang menjadi perantaran atau penegah komunikasi, serta saluran komunikasi antar pengirim dan penerima pesan berlangsung.

Sejarah perkembangan media pers di indonesia pasti sudah tidak lepas dari sejarah politik indonesia, pada masa pergerakan sampai pada masa kemerdekaan tentunya hingga saaat ini. Tidak menutup kemungkinan media-media yang dulunya sudah merintis dijaman saat orde baru seperti majalah tempo, harian sinar harapan, harian indonesia raya harian rakyat dan harian abadi sudah tidak bisa dipungkiri media yang dahulunya dengan sangat efik hanya berfokus kepada media cetak sekarang didukung dengan media-media yang digital.

Tetapi sangat disayangkan untuk saat ini, media digital terlalu banyak menyalahgunakan berita yang (supermetabolis) dari judul berita (clikbait) berlebihan dengan tidak sesuainya pada fokus redaksi yang dibuat dengan keseimbangan dari realita. Terpaksa saya kutip dalam buku “Demokrasi Damai Era Digital” cerita curhatan seorang temannya yang bekerja disebuah media nasional. Katanya, dia harus pintar membuat judul yang mengandung clicbait, karena itu akan meningkatan page view dari berita yang dibuatnya. Kegetirann tersirat melalui kata-katanya, sebenarnya akum alas membuat judul receh, tapi bagaimana lagi. Kalau nggk begitu, kami tidak bisa bersaing. Disisi lain, ketika saya mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan media masa, banyak mahasiswa saya mengaku selalu terpancing dengan judul-judul lucu, receh, bombastis, meski isinya tidak sesuai. Mereka cukup terhibur dengan judul seperti itu.

Receh dalam kamus KBBI adalah turunan dari recehan yang berarti uang. Kata “receh” saat ini banyak digunakan oleh mahasiswa saya untuk yang menganggap hal yang remeh-temeh.

Cara di atas merupakan gambaran atas fenomena clickbait. Tidak hanya di indonesia tetanpi dalam ranah global mediapun sama. Fenomena ini ketika muncul jurnalisme mamasuki era digital dimana pengelola media harus tahu cara meningkatkan traffic dari berita yang mereka buat, klik dari penggunapun akan dapat diukur, dan menjadi pemasukan bagi mereka.

Clickbait adalah judul yang menjebak, yang biasanya dipakai oleh pembuat konten untuk menarik pembaca. Untuk membuat judul clickbait pun, pembuat konten perlu memikirkan rumus tertentu saat membuat judul berita. Menurut Chen, Conroy, dan Rubin (2015, h. 5), karakteristik clickbait di antaranya tidak ada penyelesaian kata, menggunakan kata langsung/ajakan, kata provokatif, kata hiperbola/bombastis, bahasa menegangkan, bahasa ambigu, serta kata ganti yang tidak terselesaikan. Beberapa judul clickbait seperti “wow”, “astaga”, “ckckc”, “yuk”, dan lainnya. Zaenudin (2018) menyatakan clickbait adalah fenomena di media karena memuja-muja page view.

Abhijnan Cakraborty (dalam Zaenudin, 2018) mengungkapkan bahwa clickbait mengeksploitasi sisi kognitif manusia yang disebut curiosity gap. Curiosity gap adalah kesenjangan pengetahuan yang memiliki konsekuensi emosional. Judul clickbait memantik emosional pembaca, mereka terpuaskan emosinya. Menariknya, meskipun sadar bahwa clickbait adalah jebakan, mereka tetap mengkliknya. Mereka menganggap judul itu menarik dan menghibur. Ironisnya, judul yang menarik tersebut tidak sesuai isi beritanya. Bahkan, beritanya seringkali hanya berisi informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Dari pernyataan diatas sangat tidak bisa dipungkiri status media cetak dan media elektronik punya kekuatan yang berbeda tetapi disisi lain media yang konvensional (media cetak) haru lebih memberikan inovasi-inovasi lagi untuk menyediakan layanan-layanan yang lebih beda atau khas dengan dibanding media elektronik yang mempunyai superkelebihan yang sangat tinggi dibanding media konvensional, resiko media elektronik juga mempunyai kosukwensi sangat besar untuk perkembangan media diindonesia maupun global karena pelung dan tantangannya kedepan semakin berat lagi untuk menjadikan media cetak ataupun media elektronik (digital) dengan tetap menjaga ke integritasan isi media dan ke’faktaan di lapangan untuk penyampaian berita.

 


Comments

Popular Posts