Perlu Belajar dari Kehidupan disekitar


     Hidup tak seindah pelangi, pelangipun diciptakan dengan awan yang gelap, hujan yang deras, badai yang kencang, dan angina yang dasyat nah disitu kita bisa melihat pelangi yang indah dan berwarna ada merah, kuning, hijau dan warna yang indah, dan pelangipun contoh buat kita  mengajarkan kita untuk berbangsa—bangsa saling menghormati dan saling memberi, karna manusia tak hanya satu tapi berbagai etnis dan prilaku, begitupun pelangi berbeda warna tapi tetap bisa menghasilkan indah dilihat dengan berbagai warna.
Perlu belajar dari yang namanya kehidupan, kehidupan dari berbagai orang disekitar sekalipun dia preman, penjaga parker, tukang sampah, tukang besi, tukang beca, tukang kuli. Karna mereka lah yang tau akan makna kehidupan kehidupan yang harus dihadapi dengan bersyukur dan tafakur dalam melihat persoalaan kehidupan, dan satu yang membuat saya sadar adalah pengalaman (experience) yang meewarnai hidup ini, karna ada pengalaman pasti adal ilmu yang menghampiri, dan begitupun kita belajar ilmu pasti ada pengalaman, dan dua unsur inilah yang menjadi bagian dari hokum preogratif manusia dalam mencapai hidup bermakna, dan tergantung manusinya mencapai hidup yang sejahtera. Ada orang memilih bekerja keras guna memperoleh kesejahteraan diri yang lebih baik, tetapi tak kurang pula orang memilih pekerjaan yang tak berduit demi mendapatkan kepuasaan batin.
Dan salah satunya kita bisa belajar dari nenek ini, nenek yang hebat sebagai heroik Indonesia, beliau bernama ibu Hajjah Sabariyah, umur nenek sekitar 82, beliau mengusasi 22 bahasa salah satunya Bahasa jepang, inggris, jerman dan 22 bahasa berikutnya, beliau juga pernah traveling atau berkeliling ke 22 nusantara, simak demikian cerita ibu Hajjah Sabariah.
     Hajjah Sabariah beliau nenek nan pedalaman lincah dan perkasa yang selalu mengisi hidupnya di pedalama Kabupaten Jaya Wijaya (Irian Jaya) untuk mengajar anak-anak papua. Sedemikian jauh, Nenek Guru Sabariah tak juga merencanakan hendak pension dari “tugasnya” “Semasa saya masih kuat berjalan, saya akan tetap mengajar disini” kata beliau, ibu Hajjah Sabariah sama sekali tak dapat gajih sepeserpun beliaupun menggantungkan hidupnya dari kebaikan alam dan manusia di mana ia berada, dan untuk hidup sehari-hari perempuan kelahiran pangkalan Brandan Sumatra Utara itu nyaris tak bermasalah.
Sejak meminta pension dari profesi guru pegawai negri sipil di sebuah SMP di Sumut tahun 1968, Sabariyah tak lagi makan nasi. Ia hanya makan ubi direbus dan beberapa jenis sayur pohon daun papaya, singkong dan buah-buahan kata beliau “Badan saya malah makin sehat, saya tidak pernah sakit berat paling hanya flu, tetapi kalau saya minum rebus daun papaya bisa sembuh lagi” tutur kata beliau masih dengan suara yang sangat jelas.
Akan tetapi, beliau yang dikenal sebagai guru bahasa Indonesia tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Sekalipun jasmaninya nyaris tak membutuhkan apa pun, ia masih memikirkan kebutuhan buku, pakaian dan peralatan (property education) dan pakaian sekolah untuk anak-anak di pedalaman papua yang ia ajar beserta orang tua mereka yang kehidupannya masih sangat terbelakang. Untuk keperluan itu ia tak segan datang ke sana ke sini meminta sumbangan buku pelajaran atau buku cerita baik buku cerita dalam bahasa Indonesia maupun buku cerita lainnya, dan salah satu pejabat ia datangi seperti Fuad Hassan mentri pendidikan dan ke budayaan, dan mentri Yahya Muhaimin.
Sengaja ia tak meminta bantuan dalam bentuk uang, untuk menghindarkan diri dari prasangka banyak orang, tetapi tak semua dermawan memberi buku. Agar lebih praktis, banyak bupati di seragen (Jawa Tengah) yang membantu dalam donasi buku lumayan banyak, dan untuk mencari sumbangan, sang nenek bisa dua kali dalam setahun “Turun Gunung” ke Jakarta atau kota lain. Jatah rutin keluar dari pedalaman dari irian ke medan dilakukan setiap bulan Maret untuk mengambil uang pensiun dirinya dan suaminya, almarhum kapten sukiman. Menurut Sabariah, uang pensiaun yang ia terima mencapai Rp 13 Juta setahun. Dan semua uang itu di belikan barang dan kebutuhan untuk anak-anak di Aceh dan Irian. Dan menariknya beliau kemana mana selalu gratis (free) kemana-mana, saat beliau  membawa barang-barang semacam alat pelajaran, buku, baju baru mapun bekas dan alat masak dari Jakarta atau Kota Irian Jaya kata beliau “Tak ada yang susah. Ke mana-mana saya pergi selalu di bantu orang lain. Ada malaikat yang selalu menyertai saya” katanya terkekeh-kekeh.
Kemanapun beliau pergi, nenek Hajjah Sabariah tak perlu mengeluarkan ongkos. Untuk keluar dari Wamena menuju Bandara Sentani di Jayapura, ia hanya butuh tumpangan kapal TNI AL. dan si Senati ia langsung melapor ke pimpinan TNI AU untuk bisa ikut ke Jakarta, dan selama di Jakarta ada dermawan memberikan tumpangan dan kalau beliau pergi dari tempat satu ke tempat lain, kalau saja ia ingin naik taksi Kosti atau Citra, Sopirnya pasti tak akan mau dibayar karena sudah mendapat pemberitahuan dari pemimpin mereka. Tetapi beliau memilih naik bus umum bumel kecuali harus membawa banyak barang.
     Hebat ya beliau ini kita perlu belajar dari beliau, inilah heroik Indonesia, dan saya perlu belajar dari beliau arti kehidupan, dimana beliau mengajar tak henti-henti tak lelah mesti tak dibayar dan harus nya pemerintah harus melihat ke pedalaman yang minim akan pendidikan (education) Irian Jaya, Papua, Manokwari, Bangka Belitung masih banyak yang belum merata, semoga pemerintah  bisa menangani masalah ini, dan ada satu lagi cerita yang cerita tadi diangkat dari kisah buku judul “Guru dalam Tinta Emas” dan yang cerita ke dua ini asli cerita tak disangka bisa mengenal penjaga parker.
Saya dan teman saya yang namanya yoga dan saya, dihari senin waktu pukul jam 13:15 saya ingin membayar SKS ke bank BNI yang dilampu merah di kota bogor, saya sewaktu itu taka da teman saya BBM teman saya yang berada di pesantren namanya yoga, diapun mau mengantar saya pergi membayar SKS ke bank BNI langsung saya on the way ke pesantren si bogel, sudah sampai pesantren turunlah si bogel alias yoga, langsung saya pergi on the way lagi ke bank BNI di dekat lampu merah pas disana, ada seorang penjaga parker di bank BNI, saya sih pertamanya sangat sinis ko tak dimana-mana ada tukang penjaga parker, kan terkadang motor yang ditunggupun harus membayar parker, eeeeh ternyata pas saya sudah membayar SKS ke bang BNI dan keluar si yoga pun mengobrol saya si bapak-bapak penjaga parkir itu berbagi cerita pengalaman buruk maupun baik, ternyata beliau amat berharga pengalaman beliau positif maupun yang negatif, beliau mangajarkan arti kehidupan membari nasehat ke pada kami untuk hidup seperti layak nya manusia atau bisa memanusiakan manusia, dan beliaupun tak gampang mendapatkan lapas tempat parkiran yang dekat dengan bank BNI, banyak tangtangan atau rintangan yang harus dihadapi oleh beliau, saya tak tau namanya siapa lu pa entah siapa, semoga beliau juga diberi kemudahan dalam mendapatkan rezeki dan menjadi hidup yang berkah,
Inilah cerita kali ini semoga apa yang kita pandang janganlah terbilang rendah, misalkan kita mahasiswa, pelajar yang tinggi atau paling pandai di mana-mana sadarlah kawan banyak orang yang lebih pintar di banding anda, dan banyak orang yang punya jabatan dibanding anda dan kita perlu belajar dari orang-orang terdekat sekalipun pengamen, karna merekalah yang tau apa arti kakta “Bersyukur” inilah hidup, semoga bermanfaat dan bisa menjadi refrensi kehidupan sehari-hari.
Bila hal yang ingin ditanyakan langsung ajah Mlutfisopyan@gmail.com, semoga saya bisa memberi nasehat apapun itu dan bisa memotivasi anda, kita saling-saling menginspirasi satu sama lain dalam hidup ini, perlu belajar dari kehidupan di sekitar


Comments

Popular Posts