Saya Tetap Seorang Guru
Saya Tetap SeorangGuru, itulah visi lelaki kelahiran asal
Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937, dengan umur lumayan sudah lanjut usia 67
tahun, beliau kerap dipanggil Budi Darma seorang professor dari rector IKIP
Universitas Negri Surabaya, sosok beliau santun, ramah, bersahaja dan rendah
hati.
Siapa saja yang bertemu
dengan Budi Darma, beliau adalah sastrawan terkemuka sekalipun guru besar
Universitas Negri Surabaya, beliau pernah menerima penghargaan Satya Lencana
Bidang Kebudayaan ini dekat dengan mahasiswa, bahkan dengan mahasiswanya di
Indonesia maupun diberbagai Asia, seperti singapura, beliau pada tahun 2002
pernah sempat mangajar di Nasional Institut of Education atau sekarang Nanyang
Technology University, Singapura beliau mengajar dijurusan mengajar di Bahasa
dan Kebudayaan Asia.
Beliau sempat mengajar
di Singapura tak mau dipanggil dengan nama Profesor, beliau senang dipanggil
dengan sebutan “Cek Gu” pada mahasiswa di Nanyang Academy “Cik Gu” singkatan
dari sebutan bahasa melayu “Encik Guru” yaitu artinya “Tuan Guru” atau di negara kita “Bapak Guru”, kata beliau :
“Saya tidak senag dipanggil ‘Prof’ karena sebutan itu langsung membangun batas
jelas antara dosen dan mahasiswa, karna Dosen dan Mahasiswa itu sama-sama
mencari kebenaran melalui pendekatan akademis dan ilmiah. Yang harus dijaga
dalam hubungan itu kan hanya etika atau aqhlak, pergaulan dan sopan santun”
Tutur beliau.
Alasan lain : “Saya
tidak memiliki prestasi luar biasa untuk dipanggil ‘Doktor’ atau ‘Prof’ karna terlalu
besar untuk saya” Ujarnya. Menurut beliau karena karena prestasi yang dia
dapatkan sudah di akui oleh kalangan, menurut dia, karena apa yang dia lakukan
itu adalah suatu kuajiban yang harus
dilakukan, dan beliaupun sempat menjabat guru besar tamu di Northern Teriority
University pada tahun 1997 “Ketika cucunya lahir, lalu saya beri nama Dawinda
melalui Email” ujar kake bercucu satu
dan ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Sitaresmi. Pasangan ini
tinggal di perumahan Dosen Universitas Negri Surabaya (UNESA) di ketintang,
Surabaya Jawa Tmur.
Disamping menjadi guru
seperti cita-citanya sejak kecil, dan menjadi pengarang adalah pemantul dari
perenungan-perenungan. “Mengapa air sungai mengalir ke laut, dan mengapa laut
tidak banjir, ?, apakah ada seorang selalu nasibnya selalu berada dibawah
meskipun dia selalu berlari ke atas, namun kemudian selalu terbawa turun lagi
?”
Beliaupun tidak
canggung mengunjungi tempat-tempat menurut orang tidak layak untuk di datangi,
seperti lokalisasi pelacuran. “itu bukan untuk acting, namun untuk melihat dan
menghayati “ jelasnya.
Pertanyaan-pertanyaan
ekstensial, mengapa manusia lahir, dewasa lalu mati itu mengalir dan melahirkan
pertanyaan-pertanyaan baru “kalau manusia tidak mati, apakah dunia menjadi
sesak”
Beliaupun sempat
bercerita tentang pengalamannya sewaktu mengajar di Singapura, tentang budaya
global atau Globalisasi, dia memberi contoh di singapura di mana terdapat tiga
etnis besar, yaitu Tamil (India), China, dan Melayu, para pengarangnya masih
mengarang dalam bahasa ibu, masing-masing katanya “Yang melau menggunakan
bahasa Melayu, Sastrawan China mengarang dalam bahasa China.
Dalam pandangan Budi
Darma, menjadi manusia di dunia global tidak berarti seseorang harus
meninggalkan akar budayanya. “Globalisasi harus di terjemahkan sebagai ‘tatap
mengakar ke dalam (Budaya Aslinya), namun memiliki kemampuan (bergaul) keluar,
katanya.
Itulah sikap beliau
yang ramah tamah dan tidak membanding-bandingkan mana yang jagoan, jagoan
penyandang gelar ‘Doktor’ atau ‘Profesor’ bagi beliau ini sebuah kewajiban
harus menuntut ilmu hingga lanjut usia, ilmu yang membawa beliau kemana-mana ke
singapura maupun ke eropa, berbagai universitas dijelajahi untuk mencari
sensasi diri mengajar dan mengabdi, bagi baliau dia lebih enak dipanggil
seorang Bapak Guru kalau di Indonesia kalau di singapura beda lagi beliau
dipanggil “Cek Gu” artinya sama Bapak Guru, itulah profil singkat beliau,
cerita ini di ambil dari buku berjudul “Guru dalam Tinta Emas”
Mohon bila ada
kesalahan dalam penulisan Artikel ini tolong kasing masukan atau tegoran suaya penulis bisa memperbaiki
dikeudian yang akan datang, marilah kita sama-sama menginspirasi banyak orang
apapun itu, dan semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Comments
Post a Comment