A Cultural Prlgrimage To New York
Inilah
anekdot yang sederhana yang diaktori oleh seorang yang bernama Markesot, ini
cerita wajib ditelaah atau diserasipi dan dihayati oleh para pembaca artikel
ini, bagaimanakah kota yang berkembang itu?, dan seperti apakah kota modern
itu?, dan bagaimanakah masadepan tentang berkembangnya jaman dari regenerasi to
regenerasi, mari kita hayati dan resapi tetang isi dalam cerita tokoh Markesot
ini, diangkat dari buku karangan Emai Ainun Najib (Cak Nun) “Markesot Bertutur”
Hilangnya Markesot selama seminggu lebih
ternyata tidak untuk suatu perjalanan menggelandang para wali, dengan pakaian
lusuh, meminta-minta, dan menguji rasa sosial manusia-manusia tertentu yang
ditemuinya. Tidak, Markesot ternyata bagaikan kaum borjuis pergi tamasya
(vication) ke New York.
Mbok-mbok! Nang New York rek!
Seorang teman kental Markesot dulu
dijerman barat kebetulan mengundang ke amerika serikat. Si sahabat itu jadi
orang sukses di sana dan dia cukup tahu diri untuk sesekali balas jasa kepada
Markesot. Jelek-jelek begitu, Markesot dulu pernah menolongnya waktu diberlin
barat. Sahabatnya itu pejudi berat waktu diberlin dan tatkala pada suatu malam
dia sungguh-sungguh menjadi embambung alias munal khasirin, tak seorang pun
bersedia membukakan pintu untuknya kecuali Markesot.
Markesot menampungnya dikamar
kontrakannya, memberinya makanan dan minuman, dan bersedia meneladeni ngobrol
menumpahkan segala kesedihan hidupnya, sampai akhirnya dia sungguh-sungguh terhenti
dari kebiasaan berjudi.
Kini Markesot dimuliakan, diundang ke New
York, sekedar untuk jalan-jalan melihat avenues, broadway,naik kereta bawah
tanah, serta menikmati gedung-gedung raksasa.
Markesot yang hari itu tampak dengan
makelaran sepeda motor, dua hari kemudian ternyata sudah berada dikota tebesar,
tersibuk, dan terkotor didunia bernama New York, New York bagian mana?, Bagian
Manhattan, yaitu sebuah pulau “kecil” yang dulu diberi oleh amerika seharga 25
dolar AS dari orang indian.
Ketika tiba disurabaya kembali, dan sudah
semua temannya mengetahui bahwa dia pulang dari kota metropolitan yang
fantastis itu, Markesot setiap hari dikerumuni orang banyak seperti baru pulang
naik haji.
“Kok,
saya ditanya terus seperti Pak Haji pulang dari mekah, sih?” Markesot bertanya
“Lho, New York’kan memang kiblat
kebudayaan modern!”jawab seorang temannya. “Semua pembangunan yang dilaksanakan
di sini’kan memang berkiblat kesana. Bikin gedung-gedung tinggi, super market,
bar dan nite club, pelacuran dan tinju professional.”
“Tapi jangan disebut kiblat, dong. Kiblat itu
pengertiannya’kan arah menghadapi ketika shalat, katakana saja sebagai pusat
perhatian . . . . . . . .”
“Apa bedanya? Bantah temannya lagi. “Pusat
perhatian itu kiblat namanya. Waktu sembayang, orang memang berkiblat ke ka’bah
di Makkah. Tapi waktu mengurus konsumsi dan gaya hidup, hampir semua orang
berkiblat ke New York semacam cultural pilgrimage, semacam ‘berhaji’ ke puncak
kebudayaan modern!” sambung teman-teman yang lainnya.
Markesot kemudian harus menjawab setiap
pertanyaan mengenai NeYork.
“Apa di sana ada pencopet?”
“Lebih banyak pencopet di sana dari pada
di sini, “Jawab Markesot”.
“Kamu kecopetan atau tidak?”
Markesot tertawa “Orang selalu menghindari
diri dari diri saya karena takut dicopet . . . “jawabnya.
“Kok begitu?”
“Mungkin potongan saya yang bikin saya
takut. . . .”
“Apa yang menakutkan dari kamu?”
“Paling tidak karena kulit saya berwarna. Orang
ulit berwarna lebih diimajikan sebagai orang yang mungkin mencopet dari pada
orang yang pantas dicopet.”
“Kurang ajar betul anggapan itu!”
“itu malah bagus. Jadi kemana-mana kita
aman. Saya jalan ke lorong-lorong yang paling gelap pun selalu aman. Sesame kulit
cenderung berwarna solider satu sama lain. Di samping, itu tampang kita akan
cenderung disangka pintar main kungfu. Itu jasa Bruce lee dia amat terkenal dan
kungfu yang amat ditakuti oleh kebanyakan orang di sana. Kalau kalian ke New
York, silahkan saja kalian jalan-jalan ke daerah hitam Bronx tempat Mike Tyson
dulu memberandal. Tak seorang pun gali Negro berani menyentuh kalian. Bahkan sangat
segan dan menghormai kalian. Apalagi kalau kalian pintar berlaga seperti saya
jalan tegap. Wajah dimantap-mantapkan gerakan tubuh dan tangan di
luwes-luweskan seperti pendekar. Kemudian dengan penuh keberanian justru
membaur ke tengah-tengah mereka . . . . . .”
“Kalau ada nantang berkelah, bagaimana?”
“Tolaklah dengan tersenyum, seolah-olah
kalian adalah seorang kungfu master yang sedang keberatan untuk meladeni
anak-anak kecil . . . .”
“Kalau kalian terus digangu dan dipukul?”
“itu tidak pernah terjadi ke pada saya,
sebab saya sudah lama latihan ngemut silet. Kemana-mana saya selalu bawa silet.
Siap-siap kalau ada kaum homo yang mau memperkosa. Begitu ada gelagat bahaya
cepat-cepat silet saya kulum sambil sesekali saya keluarkan diantara dikedua
bibir. Kalau mereka masih berani, silet itu akan saya gigit sehingga pecah
menjadi beberapa bagian, kalau masih juga berani, saya akan demonstrasikan
betapa silet itu lumat di dalam mulut saya. . . . .”
“Ngawur! Ngawur! Bagaimana itu?”
“Bisa saja, lidah dan mulut tau bagaimana
mengerjakan fungsi-fungsinya. Asal tidak tegang, tak akan terluka dan tak akan
tertelan seperti kalau kita makan debu, sepahnya tidak akan masuk ke
kerongkong!”
Interviu kemudian menjadi amat riuh
memperbincangkan masalah dunia perbanditan New York. Beberapa pola jaringan dan
manajemen pergalian di sana kadang-kadang mirip dengan yang ada di Surabaya
atau ditemapat-tempat lain.tapi, Markesot tidak akan mejawab di ibu kota Jatim
ini ada juga tingkat mekanisme perbanditan organisasional seprti kaum mafia
diNew York.
“Yang terpenting yang daya ingin kemukakan
kepada kalian ialah,” katanya, “kalau kalian memang hendak menumbuhkan kota
metropolitan Surabaya ini menjadi New York atau kota-kota modern lain didunia,
sejak sekarang kalian harus menyimpan faktor-faktor lain pada kebudayaan
masyarakatnya. Pertimbangan apakah pada wilayah di sekitar Blauran atau Tunjungan akan tidak berkembang menjadi
misalnya wilayah ’52 Street’ di manhattan di mana pasar dan pertujukan seks
dihamparkan terbuka. Dari pukul 10 pagi hingga pukul 2 dini hari, setiap orang
bisa masuk menonton film biru untuk seks normal, homoseksual atau lesbian atau
apa saja. Pertimbangan apakah kita diindoensia ini memang benar-benar akan
membikin suatu kebudayaan masyarakat kota modern yang liberal, lengang dari
moralitas, sistem sosial yang membuat setiap orang merasa kesepian sambil
bekerja seperti mesin dan menghibur diri seperti bintang, dengan tingkat
frustasi sosial yang tinggi, akan amat bunuh diri yang amat tinggi…..”
Sampai
subuh pun belum selesai Markesot mendongengkan berbagai hal, kemudian selalu
mengunjungi (memuncaki) dengan pertimbangan-pertimbangan moral dan kesehatan
ruhani …..”Kreativitas berfikir orang barat kita harus tiru,” katanya. “Tapi,
ekses dari kebudayaan teknologis yang terlalu memanjakan kebintangan, sebaiknya
kita cegah sejak sekarang. Setiap badan perencanaan pembangunan harus
melibatkan para agamawan, budayawan, negarawan, filosof, seniman, orang kecil
yang awam yang arif ……. Kita jangan hanya dipimpin oleh tender-tender ….”[].
Yak inilah anekdot seorang markesot yang
pernah berkunjung ke kota yang maju dan yang modern itu, nantikan artikel
berikutnya, cerita ini bukan akrangan penulis, penulis sebatas hanya bisa
menyampaikan dan mempulbikasikan ke ke kalayak atau ke para pembaca artikel
atau artikellovers, ok semoga artikel hari ini bermanfaat untuk penulsi maupun
pembaca.
Buku
ini diangkat dari buku yang dikarang oleh Ema Ainun Najib (Cak Nun) namabukunya
adalah “Markesot Bertutur” terimakasih.

Comments
Post a Comment