Senyum Serdadu
Nah
skarang ada anekdot baru ni kawan-kawan, cerita tentang seorang Markesot
kemarin Markesot mengunjungi kota New York, dan sekarang akan berkunjung ke
negara Jerman Barat dan Jerman Timur temanya adalah SENYUM SERDADU, kenapa
senyum serdadu, mungkin Markesot sedang senyum melihat indahnya alam kota
Jerman dan Timur apakah senyum melihat kegalauan diunia Jerman yang amat
kompleks, mari semak ceritanya tentang seorang Markesot ini.
Cerita
ini bukan penulis yang membuat melainkan penulis hanya mempublikasi yang
sekirannya bisa membuat para pembaca bermanfaat untuk dibacanya maupun untuk
dihayati artikel yang dibacanya, buku ini penulis beliau adalah Emha Ainun
Najib, www.caknun.com
Cita-cita
saya tercapai!”Berkaya Markesot kepada teman-temannya pada suatu pagi, “Cuma
sayang seribu sayang, saya tak bisa melihat dan mengalaminya secara langsung”.
“Cita-cita
apa Sot? “Sahut seorang temannya.
“Eaalaaa
…..!, anak-anak memperotes
“ini
pasti soal tembok berlin jebol?!”
“Mbok
ya, biarin!, tembok berlin mau jebol atau ambrol! Orang jerman mau cebol atau
methekol! Babahno ………”
Mereka
bersahut-sahutan.
“Lho!”
potong Markesot, “Kalau kepada bangsa Belanda, kalian masih punya alasan
sejarah untuk bilang seperti itu. Tapi, apa salah orang Jerman?diantara
bangsa-bangsa Eropa penjajah, Jerman adalah salah satunya yang tidak menjajah
negara-negara diAsia atau afrika. Ia malah menjaga tetangga-tetangganya
sendiri, dan lagi, negara jerman itu golongan ramah kepada bangsa indonesia
kita bebas masuk ke sana tanpa visa sampai tiga bulan. Meskipun memang mereka
punya maksud tertentu yang ekonomi sifatnya yang belakang itu …..”
Memang
Markesot kelihatan sangat senang sekali sejak membaca koran yang ada berita
tentang jebolnya Tembok berlin yang berita ada jebolnya Tembok Berlin yang
mahaakngker itu. Mungkin itu sekedar nostalgia’kan, Markesot pernah tinggal di
Berlin Barat beberapa tahun. Larapa disana sebagai buruh kasar dan gelandangan,
pasti dia punya romantisme tersendiri terhadap dibukanya hijab bainal masyriq
wal magrhib, batas antara timur dan barat.
Markesot
mengalami persis suka duka menjadi penduduk Berlin Barat. Itu kota separuh dari
kota Berlin terkurung ditengah negeri Komunis Jerman Timur. Tembok setinggi 3
meter menguranginya dengan ancaman ranjau, kawat berlistrik, serta senapan bagi
siapa saja yang berani-berani melintasinya.
Kalau
Perang Dunia ke III meletus, Berlin Barat lah sasaran pertama peluru kendali
negeri-negeri komunis. Markesot hidup diwilayah “RT Amerika Serikat” daerah
yang secara militer yang berada dalam kekuasaan negeri Uncle Sam, tapi dengan
bebas setiap saat bisa nonggo ke “RT Inggris” atau “RT Francis” Bahkan.
Sesekali bisa dolan ke perbatasan untuk melihat-lihat betapa angkernya serdadu
Uni Soviet yang melintas-lintas dengan JIP, Truk Militer atau Tank.
Tembok
Berlin adalah lambang nyata dan realistis dari kebiadaban dunia politik umat
manusia. Sanak famili, sahabat atau handai tolan dipisahkan secara mendadak
oleh makhluk yang bernama ideologi politik. Pada 1959 itu, seorang ibu yang
pergi belanja ke pasar, tiba-tiba tak bisa pulang kerumah karena mendadak telah
berdiri tembok yang membuatnya puyeng membayangkan anak-anaknya menangis
menunggunya. Demikianlah yang terjadi pada masyarakat Berlin ketika itu.
Politik diciptakan dan dimanifestakan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk
menyediakan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia. Tapi, yang terjadi
adalah sama sekali sebaliknya.
Negeri,
tinggal di Berlin Barat. Jarang orang bersedia “kost” di sana. Tapi, justru
polisi itu yang membuatnya maju dan khas. Pemerintah Jerman Barat pernah
membebaskan pemuda-pemuda dari kewajiban dinas militer asal bersedia tinggal di
Berlin Barat. Jadinya, bagia sebagian anak muda Berlin Barat, justru merupakan surga.
Pemerintah
Jerman Barat juga membangun berbagai fasilitas ekonomi dari kebudayaan agar
Berlin Barat menarik perhatian sebanyak mungkin orang untuk menyemayaminya.
Kota itu segera menjadi wilayah modern, metropolis, dan megah mewah. Gedung
kesenian termewah diseluruh daratan eropa berdiri disana. Seniman indonesia
yang pernah ngicipi gedung pertujukan itu adalah Rendra, Putu Wijaya, Emha
Ainun Najib, serta sebuah grup teri Bali yakni, ketika berlangsung Pestival Horizone
1985.
Sangat
Romantik hidup di Berlin Barat, meskipun kehidupan yang hanya untak-uthek di
situ-situ saja. Bisa hidup agak ilegal, meskipun kalau ada ketahuan yang wajib,
yang agak gawat juga. Hidup tanpa izin, tinggal tanpa KTP, tapi, terus terang,
malah itu yang dimanfaatkan oleh Markesot dulu, juga beberapa anak indonesia
yang lainya. Soalnya begini, kalau ingin pulang geratis ke tanah air, carilah
perkara asal tidak kriminal agar kau ditangkap polisi. Itulah juga yang
dilakukan oleh Markesot. Dia mendekati-dekati polisi supaya diperiksa
identitasnya, begitu ia ketahuan ia legal, lantas dikurung satu dua hari,
dibelikan tiket, dan disuruh pulang ke indonesia. Allhamdullilah.
Tapi,
ada keahlian putra-putri indonesia yang sukar disaingi oleh pemuda-pemudi
dimana pun. Ialah memanfaatkan telepon rusak di otak atik sedemikian rupa
sehingga bisa dipakai untuk telepon ke tanah air berapa jam pun yang ia mau
……..dengan gratis. Ah, macam-macam pokonya romantisme jerman
ini…...rasa-rasanya Markesot kadang sudah pernah bercerita barang satu dua bab.
Namun,
soal serdadu Jerman Timur tersenyum, itu serius bagi Markesot. Dulu, kalau
Markesot berpergian keluar Berlin Barat tentunya saja di saja ketika punya KTP
(Kartu Tanda Penduduk) entah ke Jerman Barat ke bagian not-berlin, ke
Cekloskovakia, Hungaria atau Polandia. Setipa kalu melewati perbatasan Jerman
Timur, selalu saja harus siap seeblum bertemu serdadu negeri komunis itu.
Soalnya mereka sangar-sangar, tak pernah tersenyum, menggeledah tidak
ranging-tangung, mengundal-undal tas atau koper, bahkan kalau perlu
menelanjangi orang yang dicurigai. Mungkin mereka menyangka dibalik alat vital
si pelancong itu ada bom. Apalagi Markesot yang berpotongan teroris.
Beda
dengan petugas-petugas yang dari Jerman Barat yang suka ngantuk dan dengan
ringan mempersilahkan terutama orang indonesia untuk memasuki negerinya. Tanpa
pemeriksaan yang ketat “Toh dia membelanjakan uang nya, itu meningkatkan devisa
kami” mungkin begitu pikiranya. Polisi Jerman Barat, si pengantuk adalah pavorit
Markesot.
Di
Jerman Timur bahkan diwarung-warung atau bahkan tempat-tempat resmi hampir taka
ada orang-orang tersenyum.
“Apa
di sana ada wabah nasional sakit gigi?” tanya salah seorang.
“Bukan
begitu,” jawaban Markesot “memang tak ada perlunya tersenyum. Mereka itu orang
yang tak memperoleh demokrasi, tak punya kebebasan omong, sehingga selalu
mangkel kepada bangsa lain. Kalau mereka bertugas jadi pelayan toko atau
restoran, tak merasa selalu tersenyum karena toh upahnya sama saja ……..”
“Tapi,
namanya tidak memikat pelanggan?”
“Mau,
ada pelanggan atau tidak, itu urusan pemerintah. Mereka para pelayan tak rugi
apa-apa kalau bisnis restorannya maju, juga gaji tidak naik. Lha wong itu
restoran negeri. Restoran inpes, itulah perlunya sektor swasta. Lihat saja,
Jerman Timur yang anti swasta itu jadi buram dan terbelakang, miskin dan
begitu-begitu terus mobilnya hanya satu macam. Beda dengan Jerman Barat yang
menjulang ……..”
“Tapi,
dulu kamu cerita bahwa di Jerman Timur tidak ada gelandangan, sedangkan di
Jerman Barat banyak”
“Memang,
di Jerman Timur, orang dicukupi dengan semua keperluannya meskipun terbatas dan
sederhana. Maka cukup, minum cukup, sadang, rumah, air, listrik, apa saja asal
tidak mewah. Syaratnya, jangan omong macam-macam, pokonya ikuti saja apa kata
pemerintah. Kalau di Jerman Barat, orang bebas berpendapat, babas bersaing,
sehingga sangat maju sehingga banyak orang kalah dan terpinggirkan menjadi
gelandangan atau gila. Lah, kalau di indonesia ini lengkap, Orang sangat kaya
ada, sangat miskin ya ada. Orang-orang bebas omong ya ada, tak bebas omong ya
ada, Pokonya Paripurna, ada bagian sendiri-sendiri, ada yang bebas omong
seenaknya, ada yang omong sakecap dikeplak. Pokonya paling lengkap negeri kita
ini ……….”
“Tapi,
di negara kita, tidak ada orang yang tidak tersenyum!” bantah temannya, “Biar
merarat atau sengsara kaya apa yang tetap bisa tertawa!”.
“Kita
memang bangsa yang luar biasa, kita tetap tersenyum, ada kepentingan atau
tidak. Beda dengan Jerman Barat atau negeri-negeri kapitalis lainnya. Di sana,
kalau ada pelayanan tersenyum, itu buka berarti kau disenyumi sebagai manusia.
Yang disenyumi adalah uang yang kau akan belanjakan. Coba kalau kau masuk
warung atau toko hanya untuk melihat-lihat lah
suwe-suwe dipernguti…….”
semoga bermanfaat untuk semuanya ...........................
semoga bermanfaat untuk semuanya ...........................

Comments
Post a Comment