Sinergi Positif
Kenapa
betema’kan SINERGI POSITIF, sinergi positif disini mencakup pembahasan yang
luas, bisa diartikan dengan berperasangka kepada orang lain, tetapi bukan hanya
berperasangka kepada orang lain melainkan kepada apa yang kita jalani, menjalaini
hidup contohnya ketika kita mendapat musibah ataupun teguran orang tua kepada
anaknya, dan sesuatu yang dijalani tetapi yang dijalani tersebut tidak sesuai
apa yang diharapkan atau yang diinginkan oleh kita.
Banyak
pengalaman dari berbagai renfrensi atau experience human yang hidupnya yang
tidak menyandang gelar atau tidak lulus dalam kuliahnya dari universitas, dan
ada juga seseorang perempuan menjadi mentri diindonesia, hanya lulusan SMP
(junior hight school) menjadi mentri diindonesia, ada pengalaman lulusnya lama
ketika kuliah diuniversitas amerika tapi mereka mendapat apresiasi dari
kalangan tokoh dunia atau mendapatkan suatu orang yang mempunyai sipat
pilantrofi diberbagai dunia yang karyanya yang banyak yang dipakai oleh
kalangan dunia, jangan takut ketika kita punya kekurangan apa yang kita punya,
toh kita juga bisa mengcover atau menutupi sesuatu dalam kekurangan di diri
kita, assalkan kita mampu mencari ketertarika tersebut lewat apa, ekpose diri
kita, atau iqro memabaca, karena apa yang kita nanti baca akan mencajdi sesuatu
ketertarikan-ketertarikan yang ditemukan dan merawat ketertaria-ketertarika
tersebut.
Kalau
kita melihat kehidupan diberbagai belahan dunia melihat takdir seorang manusia
(Human) pasti banyak warna-warni yang terdapat dalam esensi manusia ini, mapun
dalam takdir, tidak terjangkau, ataupun tidak kuat karena terikat dalam apa
yang manusia jalani, tetapi semua bila dijalani dengan Lilahitaalla (karena
Allah SWT) yang memberikan kehidupan ini, atau menjadikan takdir manusia ini,
pasti Allah menempatkan seseorang manusia itu bukan sekedar sembarangan dalam
menempatkan manusia ini, karena sekenario sang maha pencipta tidak bisa
dideskripsikan dengan kata-kata maupun mimpi-mimpi kita, kita meminta hanya
bisa berusaha (ikhtiar) dalam hidup ini, tak hanya berikhtiar dalam ikhtiarpun
harus punya bom yang amat dasyat untuk mengantarkan keinginan kita kepada
tuhan, yaitu Doa, Doa adalah sesuatu yang tak bisa ditebak atau diprediksi
kapan doa kita terkabulkan atau tersampaikan kepada sang maha gofur, dan
mungkin juga sang maha pencipta mengabulakn doa tersebut bukan dengan waktu
yang diinginkan tetapi waktu yang dibutuhkan, dan satu lagi Tawakkal kepada
sang maha pencipta Allah SWT.
Karena
ketika takdir seseorang ditentukan oleh Tuhannya pasti itu yang terbaik (Be The
beast) untuk manusia, asalkan apa yang kamu sedang dihadapi yang menjadi
sandarannya bukan lagi manusia ataupun teman tapi mintalah ke pada sang maha
pencipta Allah SWT yang telah mengidupkan miniatur semua umat manusia, bernafas
manusia, berjalan manusia, sampai berkedip pun itu diatur sedemikian oleh Allah
SWT, banyak hal spele atau hal kecil yang membuat sadar maupun tidak sadar
untuk melihat kenikmatan hidup ini yang diberikan oleh Allah SWT, mungkin kita
yang tidak sadar akan hal kecil itu, entah itu berupa perbuatan ataupun
peringatan yang menjadi teguran dalam kehidupan kita disekitar.
Sekali
lagi jangan takut tetapi terus berusaha meraih apa yang kita ingin raih, dan
satu jangan lupa apa yang kita ingin raih dekatilah dengan sang maha pengatur
hidup, jangan terlalu berlebihan, semisalkan contoh : “ada seorang anak muda
yang kuliahnya ingin terus mengejar nilai atau IP yang tinggi, IP yang ia
targetkan mulai dari IP 3,2 sampai mencapai mentog aatau 4,0 pass, hebat menurut
saya, setiap dipulang kulah pekerjaannya terus belajar dan terus belajar,
hingga lupa siapa yang menciptakan ente-ente pula didunia, sekali lagi IPK
memang menjamin, melainkan tak semua IPK menjamin, artinya tergantung kita
berproses, andaikan si pemuda tadi mengejar IPK nya karena Allah SWT, mencari
ilmunya pun karena Allah SWT, ikhtiar OK tapi lupa akan sang maha pencipta, dia
lupa akan berdoa kepada tuhannya, coba kalau si orang pemuda it uterus berdoa
dan berdoa dan iktiarnya pun mantep, dijamin sipemuda akan lulus lancer dan
mencari pekerjaanpun gampang dilancarkan oleh Allah SWT.
Karena
ketika si pemuda melamar ke perusahaan bonafit didaerah mana saya kurang tau,
soalnya sefrensi ini via Youtobe, si pemuda ditanya dan interview disuruh
mempertanggung jawabkan apa yang dia ia raih dalam proses menadapatkan IPK ini,
akhirnya takdir menentukan bayaknya pertanyaan, yang menghantam si pelamar
tersebut dan tak luluslah si pemuda ini dalam melamar ke perusahaan yang
bonavit ini.
Nah
intinya ketika kita fighting dalam hidup libatkanlah Allah SWT yang telah
mengatur sedemikian hidup kita, ketika kita berada dijona yang tak tidak nyaman
libatkanlah Allah SWT karena Allah yang mampu akan mengukur kekurangan dan
kelebihan kita dan mampu untuk melindungi kita, karena hidup ini buakan tentang
tercapainya atau terciptanya mimpi-mipi yang masih bergelantungan, tapi hidup
ini tentang seberapa kita berjuang, seberapa kita usaha, dan seberapa kita
ikhtiar.
IHDINAS SHIROTOL MUSTAQIM Tunjukkanlah Kami Jalan Yang Lurus
(QS. Al-Fatihah [1]: 6)
Kata
ihdinaa (tunjukkanlah kami) dalam ayat di atas merupakan bentuk kata perintah
(fi’lu al-amr) dari kata hadâ-yahdii. Hadâ-yahdii sendiri artinya adalah
memberi petunjuk kepada hal-hal yang benar. Kata hidayah merupakan bentuk fi’lu
al masdar dari kata ini. Dalam “Tafsir Munir” karya Dr. Wahbah Az Zuhaily,
hidayah ada lima macam. Satu hidaya...h ke hidayah yang lain bersifat
hierarkis, di mana hidayah yang ada di bawahnya akan menyempurnakan hidayah
yang ada di atasnya. Jadi semakin ke bawah maka semakin tinggi nilainya. Adapun
kelima hidayah tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama,
Hidayah Ilhami. Hidayah ini adalah fitrah yang Allah SWT berikan kepada semua
makhluk ciptan-Nya. Contohnya, Allah SWT memberikan hidayah ilhami kepada lebah
yang suka hinggap di bunga untuk mengambil saripatinya, dapat membangun sarang
yang menurut para ahli adalah desain yang paling sempurna berdasarkan
fungsinya.
Seorang
bayi yang lapar diberi hidayah ilhami oleh Allah SWT untuk menangis dan
merengek-rengek pada ibunya agar diberi ASI. Siapakah yang mengajari lebah dan
bayi tadi untuk melakukan hal tersebut? Tentunya kita yang beriman kepada Allah
SWT akan menjawab: itulah kekuasaan Allah SWT yang telah memberikan hidayah
ilhami kepada makhluk-Nya. Semua makhluk yang diciptakan Allah SWT akan
menerima hidayah ini. Dalam bahasa kita, hidayah ilhami ini adalah insting,
yang merupakan tingkat inteligensi paling rendah.
Kedua,
Hidayah Hawasi. Hidayah hawasi adalah hidayah yang membuat makhluk Allah SWT
mampu merespon suatu peristiwa dengan respon yang sesuai. Contohnya adalah,
ketika manusia mendapatkan kebahagiaan maka ia akan senang dan jika mendapatkan
musibah maka ia akan sedih. Dalam istilah kita, hidayah hawasi ini adalah
kemampuan inderawi.
Hidayah
hawasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Maka respon yang ditimbulkan dari
sebuah peristiwa sangat tergantung dengan lingkungan kita. Jika lingkungan itu
normal maka respon kita akan normal. Misalnya, orang yang mendapatkan musibah
akan sedih karena lingkungannya mengajarkan untuk merespon peristiwa tersebut
dengan bersedih. Di lain tempat dan waktu mungkin saja respon ini berubah
karena lingkungannya merespon dengan hal yang berbeda.
Maka
untuk mendapatkan hidayah hawasi ini kita harus membuat atau mengondisikan agar
lingkungan kita normal alamiah.
Ketiga,
Hidayah Aqli (akal). Hidayah akal adalah hidayah yang diberikan khusus pada
manusia yang membuatnya bisa berfikir untuk menemukan ilmu dan sekaligus
merespon peristiwa dalam kehidupannya dengan respon yang bermanfaat bagi
dirinya. Hidayah akal akan bisa kita miliki manakala kita selalu mengambil
pelajaran dari segala sesuatu, segala peristiwa, dan seluruh pengalaman hidup
kita ataupun orang lain.
“Dia-lah
yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung
mereka pada saat pengusiran yang pertama. kamu tidak menyangka, bahwa mereka
akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat
mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan bagi mereka
(hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Allah melemparkan
ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan
tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian
itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS.
Al-Hasyr [59]: 2).
Yang
dimaksud dengan ahli Kitab dalam ayat ini ialah orang-orang Yahudi Bani Nadhir
pada masa Nabi Muhammad SAW di Madinah. Merekalah yang mula-mula dikumpulkan
untuk diusir keluar dari Madinah karena mereka mengingkari Piagam Madinah.
Ayat
ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengambil hikmah dan ‘ibroh dari segala
kejadian dalam kehidupan ini, dengan harapan kita tidak terjebak pada permasalahan
yang sama. Hidayah akal ini akan bekerja dengan ilmu yang diperoleh, dari
proses pembelajaran kehidupan yang telah dilakukan, yang kemudian digunakan
untuk memilih respon yang terbaik bagi diri di masa mendatang. Semakin banyak
kita mengambil pelajaran maka semakin tinggi kualitas hidayah akal kita.
Namun
Hidayah akal ini mempunyai keterbatasan dalam menyeragamkan respon terhadap
sebuah kejadian untuk seluruh manusia. Ada pepatah “lain ladang, lain pula
belalangnya. Lain kepala, lain pula isinya.” Mungkin respon tertentu baik
menurut kita, akan tetapi belum tentu baik menurut orang lain. Maka diperlukan
sebuah standar untuk menyeragamkan mana yang baik dan mana yang buruk, mana
yang hak dan mana yang batil. Jawaban untuk hal ini ada pada tingkatan hidayah
selanjutnya.
Keempat,
Hidayah Dien (agama). Hidayah agama adalah sebuah panduan ilahiyah yang membuat
manusia mampu membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang baik dan
yang buruk. Hidayah agama ini merupakan standard operating procedure (SOP)
untuk menjalani kehidupan. Tentunya yang membuatnya adalah yang Maha
segala-galanya, yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah SWT. Karena
yang Allah SWT tentukan, pastilah itu yang terbaik. Allah SWT berfirman :
“Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu, padahal ia tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang
kamu tidak Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216).
Maka
apa saja yang ditentukan oleh agama, pastilah itu yang terbaik untuk kita.
Hidayah agama ini bisa kita peroleh manakala kita selalu belajar dan
memperdalan agama Islam ini.
Seperti
Allah SWT tegaskan dalam Al Qur’an:
”Tidak
wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan
kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi
penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (Dia berkata):
“Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al
Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali Imran : 79).
Semua
orang mampu mempelajari agama ini (Al Qur’an dan As Sunnah), akan tetapi tidak
semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan
agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.
Kelima,
Hidayah Taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya
akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya.
Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya
bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani.
Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang
tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima
hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT :
”Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan
kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut : 69).
Maka
tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali
dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan
agama yang indah
Hidayah
Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan
dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya,
karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar
matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar
tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih, maka kita akan mudah
untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan
diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk
mendapatkan sinar hidayah-Nya.
Cobadeh
renungkan dan resapi oleh kita semua, semoga menjadi motivasi untuk terus
berjalan dikehidupan ini dan terus berjuang dalam menjalani kehidupan ini,
karena yang dibutuhkan perjuangan, karena Tuhan pun tidak mencatat apa yang
kita capai, melinkan seberapa anda berjuang dan perjuangan itu menjadi bibit
atau benih hasil dari keringat kita, ikhtiar kita, doa kita, tawakal kita,
jadilah buat semua akumulasi menjadi suatu keberhasilan yang diraih, dan yang
diraih pun pastinya ada perjuangan lagi untuk mempertahankan, hingga kita selesai
untuk mencari dan menjadi manusia yang berguna untuk sekitar, semoga kita termasuk
orang-orang yang terus punya rasa SINERGI POSITIF terhadap apa yang kita jalani
dalam meraih pilihan-pilihan di kehidupan ini.

Comments
Post a Comment