Maha Atas Kesiswaan
MAHA
ATAS KESISWAANNYA
Sudah lama jarnang melepaskan
pikiran pikiran-pikiran yang tertahan ini diotak yang mempunyai kapasitas lebih
besar dibanding mikro SD ataupun memory komputer, dalam artikel kedua ini
setelah saya menulis tentang anak muda yang pertama rupa-rupa mahasiswa yang
kedua pendidikan pemuda-pemudi dan yang hari ini adalah Maha Atas Kesiswaanya,
semua tentang seseorang anak muda yang ingin mengejar cita-cita (wish) dalam di
dunia yang penuh dengan dinamika ini, artikel ini bukannya saya menjelekan
seorang mahasiswa atau kalangan anak muda tetapi artikel ini sebagai ajang
latihan saya untuk terus menulis dan untuk memberi kesadaran sesame atau saling
mengingatkan satu sama lain.
MAHASISWA tingginya seorang
pelajar, mahasiswa lebih dilihat dara kalangan bawah hebat (be the best), punya
daya juang, tingginya semangat, teliti dalam meneliti, ditinjau nota benenya
tinggi, dibanding orang-orang yang tidak merasakan yang namanya menjadi
MAHASISAWA.
Memang kami kaum terpelajar yang ingin
mecari bungkus kehidupan dalam disiplin ilmu, waktu, tenaga, kegiatan, dan
paling berharga yaitu adalah sebuah pengalaman (Exsperience) mungkin kami tak
sehebat orang-orang tak tidak merasakan menjadi mahasiswa, tetapi semuanya itu
seiringnya perkembangan waktu, zaman, teknologi, pergaulan dan cara olah system
akademik dari tahun ke tahun entah itu bias dikatakan menjadi sia-sia (useless)
atau menjadi buang-buang waktu.
MAHASISWA tak sesibuk yang anda
pikirkan dalam dunia otak orang tua ataupun masyarakat, paling dibandingkan
sibuk tidaknya seorang mahasiswa itu bermacam-macam sibuk itu hanya minoritas
dalam dunia mahasiswa terutama dalam S1, kami tak sesibuk yang orang lain
bayangkan dalam mindsetnya, sekali lagi sibuk itu didunia akademik hanya minoritas.
Dari kebanyakan kami hanya
main-main dan main (playing) kami lupa akan waktu kami lupa akan disiplin dan
kami lupa akan situasi yang harus dimanfaatkan oleh kami, dimana kami harus
ikut yang namanya organisasi eksternal maupun organisasi internal, dan kami
sempat lupa untuk dimana momen-momen pengalaman yang harus didapatkan yaitu
untuk turun kejalan.
Turun kejalan untuk berteriak
sekencang mungkin melihat negeri ini akan situasi yang amat kompleks, momen
dimana orasi harus dimanfaatkan oleh seorang mahasiswa, supaya tidak minder
ketika bericara, minder ketika berpidato, minder ketia berbicara kepada elitis
politik, aparatur negara, kepala presiden atau wakilnya, dan para
kongromerat-kongromerat yang punya jabatan si super duper jabatan.
Ini semua kita gunakan untuk
moment-moment positif bukan negatif, dan menjadi sebuah pengalaman untuk
diceritakan kepada anak beserta cucu kita dikemudian hari kita pas menjadi
mahasiswa, tatapi kami dibutakan dengan akan adanya rasa asocial atau tidak
peduli dengan semua itu, padahal itu semua bias kita gunakan dan menjadi sebuah
pembelajaran dan pengalaman untuk diri sendiri sebagai mahasiswa.
Pengalaman kami hanyalah
bimbingan-bimbingan ooohh bimbingan kepada dosen, pengalaman kami hanyalah
berdiam dikosan-dikosan ooooohh dikosan, pengalaman kami hanyalah tugas-tugas
ooooooh tugas yang selalu menemani dimalam hari, pengalaman kami hanyalah
skripsi-skripsi ooooooh skripsi dan pengalaman kami hanya siding dimana kami
harus lulus membawa selembar ijasah dengan nilai yang sudah dicapai oleh
mereka, yang dirasakan mayoritas perosesnya seperti ini, halnya saya.
Tetapi saya mengerti akan seorang
MAHASISWA atau manusia yang menjadi bungkusnya MAHASIWA tetapi dalamnya
hanyalah manusia, manusia dimana hidup mereka bisa memilih dan memilah ada yang
ke kiri dan yang ke kanan, ada yang ke atas dan juga ada yang ke bawah, semua
oleh sang maha pencipta dihimpun sedemikian rapih atau terstruktur dalam
takdirnya, rejekinya, fassionnya atau kemampuannya, berjuangnya atau
dedikasinya, dan keseriusannya.
Tetapi yang saya khawatirkan
dimana seseorang MAHASISWA tidak ingin mencari keseriusan dalam ilmu, ilmu apah
saja yang senag digemarinya, minimal IQRA baca, kalau dibenaknya hanyak
main-main dan main (playing) itu tak jauh beda halnya seperti kamu menaburakan
uang ke semua orang tetapi secara tidak
ikhlas.
Mari untuk semuanya terutama
MAHASISWA kembangan diri kalian, lawan rasa malas, hajar rasa malas, dobrak
rasa malas, tendang rasa malas, bongkar rasa malas, mumpung kita berada masih
ditanggungan orang tua, orang tua menyekolahkan anaknya untuk mengekpose
dirinya secara luas sehingga mereka mampu menemukan apa yang mereka gemari dan
senang dalam menjalaninya serumit apapun hal itu, kalau itu menjadi sebuah
kemampuan kita insaallah it easy (gampang) dalam menjalaninya.
Yang dikahwatirkan dalam kadar malasnya
seorang pelajar padahal hal yang menjadi vital (penting) dalam tanggung
jawabnya (responsibility) adalah akademik kepada orang tua, saya tidak harus
menyarankan aseorang MAHASISWA tidak salah bergaul atau pun melarang bargaul,
tatapi bergaulan sedisiplin anda, buat jadwal atau timetable untukdiri a nda
supa anda bisa disiplin dalam waktu.
Salama untuk semuanya seluruh
diseluruh tanah air ini untuk para anak muda Indonesia terutama sektor kaum
terpelajar untuk terus belajar melihat kondisi dilingkungan kita atau disekitar
kita, salam pemuda-pemuda Indonesia, semoga kita bisa menjadi orang
semanfaat-manfaatnya hidup didunia. Maha Atas Kesiswaannya


Comments
Post a Comment