Semadi Dalam Pancasila
Saya
sengaja mengangkat tulisan “SEMADI DALAM PANCASILA” dalam blog saya
penebarinspiring.blogspot.com, karena dalam tulisan ini pembaca di ajak untuk
lebih teliti lagi dalam memahami sesuatu di dalam dunia ini, bahkan banyak mutiara-mutiara
yang belum terbuka di alam semesta ini.
Kita perlu memahami lagi tentang pemikiran
pemikiran yang santai, asyik dan jangan memandang itu dengan batas ambang
pikiran kita, baca dulu secara perlahan dan telaah secara sebisanya, semoga artikel
ini bermanfaat untuk dibaca untuk referensi hidup kita.
Tulisan ini diangkat dalam buku saya buka
berjudul Republik Ken Arok karya dari Candra Malik, buku ini seputar
tulisan-tulisan Essay yang di tulis oleh beliau tentang betapa gaduhnya republik
ini, dan juga banyak hal-hal yang tidak bisa terduga oleh mindset kita tetapi
itu menjadi logis untuk hidup kita.
Dalam tradisi Buddha Gautama, Pancasila
adalah lima nilai kemoralan yang dilakoni demi mincapai semadi. Pancasila
Buddha Gautama meliputi Lima Tidak:
1. Tidak
membunuh.
2. Mencuri
3. Berzina
4. Berdusta
5. Dan
makan minum menggiurkan.
Ajaran untuk melakukan tidak memberi
penekanan yang lebih kuat dari pada sebaliknya, dalam islam ajaran ini di sebut
Nafi.
, tapi dalam ajaran agama islam, Nafi [Penidakan\Pengingkaran]
disempurnakan dengan Isybat [Pengiyaan/Pengukuhan]. Nafi
dan Isybat
ini di ajarkan dalam ilmu tauhid [Ilmu Memurnikan ke Esaan Tuhan], khususnya
mengenai Laa ilaaha illa ‘l-Laah.
Nafi
berlaku pada “Laa ilaaha”, pengingkaran terhadap Tuhan. Laa: tiada. Illaha:
yang mutlak di tuju, di puji dan di sembah. Isybat berlaku pada “illa
‘l-Laah”, pengakuan terhadap Tuhan. Illa : selain Allah :
yang mutlak di tuju, dipuji, disembah. Nafi-Isybat wajib di lakoni
sempurna, setimbang dan seimbang. Itulah konsep Shirat al-Mustaqiim dalam
islam. Semadi yang hakiki. Laa ilaaha illa ‘l-Laah adalah Kalimat
Thoyibah atau kalimat yang baik, di dalamnya memuat Yin-Yang atau (Yin
dan Yang), tidak dan ya, sekaligus.
Semadi atau samadi dalam islam termaktub
dalam QS Al-Ikhlas [122]: 2, “Allahu ash-Shamad” [Allah kepadanya
segala sesuatu bergantung]. Mencapai Semadi, sebagai mana di ajarkan Budhha
Gautama, ialah mencapai keadaan Gumantung Tanpa Canhtelan dalam ilmu
jawa. Gumathung Tanpa Chantelan [Bergantung Tanpa Pengait], di
ibaratkan langit yang kokoh tanpa tiang, karena Tuhan yang menopang nya.
Dalam ajaran islam, berpegang tanpa
gantungan tanpa pengait di ibaratkan sebagai berpegangan pada
Buhul [Tali Pengait] yang takkan putus. Dalam QS Al-Baqarah [2]: 256,
di sebutkan Buhul ini adalah “Laa ilaaha illa ‘l-Laah, Muhammadan
Rasuulullah” inilah jalan mencapai Semadi.
Segala mengenai Ketauhidan [Ilmu
memurnikaan ke Esaan Tuhan] itu terangkum dalam QS. 112] 1, “Allahu Ahad [Tuhan
yang Maha Esa]. Dari sinilah kiranya Sukarno melahirkan sila Ketuhanan
Yang Maha Esa. Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, mengandung
Allahu
Ahad, Allahu ash-Shamad, dan Laa ilaaha illa ‘l-Llaah, Muhammadan
Rasulullah.
Mudah di maklumi kenapa Wahid Hasyim
berjuang menghapus kata “dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi para
pemeluknya” sebab, Wahid Hasyim mencita-citakan nilai kemoralan yang melampaui
kewajiban menjalankan syariat, yaitu keadaan semadi, bertauhid.
Kalimat “dengan ke wajiban menjalankan
syariat islam bagi para pemeluknya” di ganti dengan kata sifat yang mutlak,
“Yang Maha Esa” sifat Allah sebagai sang Maha Esa ini tercantum dalam 20 sifat
wajib Allah, yaitu Wahdaniyah, Ke Esaanya tanpa sekutu.
Tidak banyak yang tahu Sukarno mengaji
ilmu Tasawuf dari H.O.S Cokroaminoto semasa belia di paneleh, Surabaya jauh
sebalum ia menjadi tokoh muda, di Bandung. Ilmu Tasawuf yang di pelajarinya
berakar pada suluk Sunan Bonang. Wajar bila kemudian hari pikiran Sukarno muda
banyak di pengaruhi Cokroaminoto.
Di situlah, rasa ketuhanan Sukarno di
tempa yang dalam prosesnya meliputi Nafi [Pengingkaran] dan
Isybat [Pengakuan] atas Tuhan. Menjadi mudah dipahami mengapa Sukarno
leluasa hati bergaul dengan kalangan kiri dan kanan secara sempurna, setimbang,
seimbang.
Selain oleh Sukarno, bagaimana “Nafi
‘Isybat
Laa ilaaha illa ‘l-Laah Muhammadan Rasulullah” dijalankan, lihatlah Gus
Dur. Baru dari sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, Sukarno dan Gus Dur menjelma
karakter bangsa yang sangat kuat dan tak tergantikan. Menjadi mudah mudah
dipahami mengapa Gus Dur, yang ketua umum PBNU, leluasa hati bergaul dengan kalangan
komunis, atheis, Yahudi dan lain sebagainya.
Muslim, manusia yang bersyahadat, yang
bersaksi Laa ilaaha illa ‘l-Llaah Muhammadan Rasulullah, sempurnakanlah Nafi
Isybat. Janganlah Nafi saja tanpa Isybat. Jangan pula Isybat
saja tanpa Nafi. Demikianlah ramuan Pancasila diolah, yaitu untuk Semadi.
Contoh salah satu pemimpin atau bangsa
KH.Abdurahman Wahid atau di sapa Gus Dur dan IR.Sukarno Hatta atau sering di
sapa Bung Karno salah satu 2 tokoh utama yang universal dalam memahami
pemikiran-pemikiran yang jarang dimiliki oleh orang lain, pemikiran tersebut
dalam pemikiran terbuka.
Dan
cerita ini ada kaitanya dengan IR. Sukarno atau Bung Karno, banyak orang yang
tidak tau akan track record nya Sukarno, dan kebanyakan dalam segi kepemimpinan
di dalam banyak buku IR Sukarno hanyak deskripsi dari kepemimpinanya dan
pemikiranya dalam track recordnya atau rekam jejaknya. Dan salah satu guru saya
pernah suatu seketika dalam jarah ke belitar pas entah saya lupa itu acara apa,
beliau melakunan ikhtiar, iktiar melakuan solat istikharah setiap malam dan
beliau ingin bertemu seorang tokoh besar itu IR Sukarno.
Suatu seketika beliau bermimpi Sukarno
bukan orang bisa, Sukarno bahkan lebih dari yang di gambarkan oleh
autobiografinya dalam hidupnya, tak jarang orang memahami beliau dengan
data-data yang hanya ada, tetapi dalam hal yang tidak jarang beliau orang yang
amat luar biasa.
Comments
Post a Comment