KBBI Bahasa Intelektual
KBBI
(Kamus Besar Bahasa Indonesia) bahasa nasional di negeri kita, tetapi masih
banyak dari kalangan anak-anak ataupun orang tua yang belum mengerti berbahasa
ini, bahasa nasional Indonesia.
Bahasanya
ini nian indah dan penuh cinta, gaya bahasanyapun sungguh mampu menyapa para
pembaca, pembaca yang tau dan adapun juga orang yang tidak tau, malah bahasa
nasional kita di identikan dengan bahasa intelektual atau bahasa aneh.
Bahkan
bukan hanya di pelosok negeri atau di perkampungan bahasa kita juga belum di
kenal oleh kaum-kaum terpelajar, katanya bahasanya terlalu tinggi atau
bahasanya terlalu berat dan terlalu intelek ?
Ada
apa dengan kalangan akademisi, bukannya bahasa kita bahasa nasional yang
mencerminkan NKRI (Negara Kesatuan Rakyat Indonesia) NKRI bukanya negara kita
yang di singgahi oleh seluruh umat manusiawi.
Hanya
yang membuat aneh itu sering kali pengetahuan kita, pengetahuan yang ibarat
laut tidak bertepi dan kita sebagai wadahnya (otak) ada yang mempunyai wadah
seperti kapasitas pengetahuannya seperti cangkir ada yang seperti wajan, gelas,
teko, kendi, piring, botol, basom dan drum dan juga sebagainya tergantung
takeran pengetahuannya.
Ini
gawat atau darurat, atau harus masuk emergency, waduhh kalau di asumsikan
dengan kata emergency malah nanti nya tidak ada sensasi belajar buat kalangan
para akademisi, wajar mereka tau apa yang tidak tau dan mereka mungkin tidak
tau apa yang kita tau.
Tetapi
kebanyakan bahasa nasional kita ini KBBI lebih kental di kalangan para pakultas
yang ketal akan sastra dan seni, karena mereka lebih memahami budidaya seni
negeri ini, mungkin toh saya hanya memprediksi, masalah asli itu tidak tau.
Tetapi
apa salahnya semuanya memahami bahasa nasional kita KBBI ini, dari kalangan
akademisi semua pakultas hingga hingga mencerminkan bahasa ayang menjadi
autentik untuk kita gemari, bawah hingga atas sampai bawah mari kita tumbuhkan
atau tularkan bahasa nasional ini.
Jangan
di tebak apalagi menjadi teka teki bahasa masa kini, itu hanyalah siasat otak
yang kurang gemar membaca kata yang sering di oleh dan digemari tersebut.
Bukan
nya membedakan mana yang rajin membaca atau yang tidak rajin dalam membaca di
sini mengajak untuk bisa menumbuhkan gerakan literasi membaca terutama di
negeri ini, Indonesia.
Anak-anak
Indonesia tercatat hanya 27 lembar dalam membaca dalam jangka 1 tahun,
bayangkan hanya 27 lembar buku itu lembaran buka 1 buku pertahun, inilah
persoalan yang sangat genting bahkan miris dalam era ini.
Kenapa
dikatakan harus menumbuhkan literasi membaca, karena kita bisa membuka jendela
dunia bahkan bisa tadinya tidak tau menjadi tau, tau kata bahasa, ritme gaya
penulisan dan mampu berimajinasi lebih luas lagi dalam buku.
Bisa
menemukan kata yang taadinya kita tau menjadi tau, kata apapun itu tergantung
buku yang di baca apa, semisalkan buku tersebut identik dengan sastra, banyak
hal kata yang bisa di pahami oleh sang pembaca, atau buku tentang iinformatika
(IT) tergantung buku yang kit baca.
Bahasa
kita bukan bahasa aneh, sekali lagi bahasa kita bahasa nasional, bahkan banyak
di gunakan oleh orang-orang eropa mapun orang-orang tetangga seperti Singapur,
Malaysia, Pilifina, Kamboja dan negara tetangga-tetangga lainnya.
Ketika
ada seseorang yang presentasi menggunakan bahasa yang di gunakan oleh si
presentasi itu bukan bahasa tinggi dan buka bahasa intelektual dan juga bahasa
luar/aneh itulah bahasa kita KBBI, tetapi kata yang bersifat kebahasaan
Indonesia ya, pasti bisa membedakan.

Comments
Post a Comment