Profesor Kebingungan
Dalam cerita ini “PRFESOR KEBINGUNGAN” menceritakan
seorang profesor sedang kebingungan ingin membuat tesis untuk lulus meraih
gelarnya, setiap profesor pulang profesor selalu kebingungan judul yang mau
diangkat apa, atau ingin penelitian apa ?
Dan tidak lama kemudian profesor selalu
diskusi dengan sekumpulan temannya yang sudah lulus menjadi profesor, profesor
ini masih belum menyandang gelar, tatapi di dalam anekdot ini nama profesor
adalah profesor.
Diskusi dengan seluruh rekan mitranya
prosesor selalu ditanya oleh seorang teman-temannya yang sudah menyandang gelar
profesor.
Teman1
: profesor perasaan profesor lama sekali ya kuliah S3 nya, kapan nih mau
penelitina ?
Teman2
: iya kapan nih, katanya judul tesisinya pun belum juga ada judul ya ?
Profesor
: he, he, he iya saya kebingungan dan baru seperti ini saya bingung dalam tesis
dan penelitian (kata seorang profesor sambil tersenyum)
Banyak mitra rekannya yang memberi masukan
tentang judul tesisi seorang profesor, ini dan itu dan profesor menolak dengan
judul yang diberi oleh mitra rekannya.
Sudahlah acara hangout bersama mitra
rekannya disebuah caffe ditempat biasa profesor bertemu rekan-rekanya dan
ngobrol hingga lupa akan waktu, tetapi tidak lupa akan waktu ibadah, semua
temanya ber aneka karakter, prilaku, dan watak.
Tetapi semuanya memang sudah berada
diposisi menikah, termasuk juga seorang profesor yang kebingungan akan judul
tesisinya.
Pagi telah tiba profesor bangun dan
menunaikan solat subuh berjamaan dekat rumahnya, sesudah solat subuh profesor
ini berdoa ingin di lancarkan dan di mudahkan dalam menyelesaikan studinya.
Profesor
pagi itu lari pagi (work out) di komplek rumahnya memperbaiki jasmaninya supaya
sehat selalu, profesor lumayan jauh larinya dari komplek rumahnya, dan profesor
hanya lari sendirian.
Sesudah lari profesor berhenti di tempat
ingin rehat sejenak diwarung kopi yang amat sederhana dan di warung kopi itu
ada satu orang pemuda yang bersarung dan memakai peci sedang menikmati
secangkir kopi.
Profesor duduk disebelah si pemuda
tersebut yang sedang menikmatik secangkir kopi yang di minumnya.
Profesor
: bang tolong minta minumnya air putih satu ya. (cakap seorang profesor)
Pedagang
: ok siap pak air putih ya satu.
Profesor merasa lelah sekali dengan
larinya itu, dan profesor tidak sadar kenapa dia lari begitu jauh, soalnya
jarang seorang profesor ini lari lumayan jauh dari kompleknya.
Santri :
pak ngopi pak (pemuda itu menawarkan kopi ke profesor tersebut)
Profesor
: ooooh iya dek, mari-mari bapak jarang ngopi
Santri
: ooooh iya pak maaf ya pak. He, he, he
Profesor
: tidak apa-apa, (sambil tertawa profesor).
Tidak lama kemudian seorang profesor
bertanya kepada santri tersebut, dan profesor itu tidak tau itu seorang santri.
Profesor
: dek, adek baru solat subuh ko pakaiannya masih memakai baju solat ya ? (tanya
seorang profesor)
Santri
: he, he, he. Maaf saya santri memang kalau santri selau begini pakaiannya
karena apa adanya peci dan sarung.
Profesor
: ooooh, santri toh kirain beres solat subuh baru solat (ucap seorang profesor)
kebetulan warung kopi tersebut dekat dengan masjid.
Santri
: he, he, he tidak pak.
Profesor
: saya baru tau ada pesantren di sekitar sini dek, memang pesantrennya di
sebelah mana deket dari sini ?
Santri
: lumayan deket lah, di belakang masjid ini pak (sambil tersenyum seorang
santri tersebut)
Profesor :
oooooh iya iya iya. (jawab profesor sambil mengangguk angguk)
Percakapan
profesor dan santri itu terlepas demikian mereka salang diam, santri sedang
konsentrasi dalam meminum secangir kopinya dan profesorpun melamun untuk judul
tesis penelitannya.
Seorang santri menengok ke arak seorang
profesor itu, dan langsung bertanya ke profesor tesebut.
Santri
: maaf pak itu di minum airnya pak ko tidak dibuka ya, bukanya saya liat bapak
lesu sekali habis lari jauh (tanya seorang santri)
Profesor
: eeeeeh iya maaf, maaf (profesor kaget dengan ucapan seorang santri tersebut)
Santri
: jangan kebanyakan melamun pak, nanti takutnya kesurupan lagi he, he, he
(santri tersebut guyon)
Dan profesor malah curhat ke seorang
pemuda santri tersebut tentang bingungnya tesis atau penelitian seorang
profesor itu.
Profesor
: adek pernah kuliah, sekolah diuniversitas diperguruan tinggi ?
Santri
: waduhh saya hanya lulusan SMA sehabis lulus dari SMA disuruh mondok atau
nyantri oleh orang tua.
Profesor :
ooooooh iya, iya, iya bagus, bagus iya kamu harus menjadi seorang ulil albab
atau pemimpin yang jujur dan bermanfaat untuk orang lain, tetapi kelihatanya
jadi santri itu tidak ada usingnya yah dek ? (tanya seorang profesor kepada
santri tersebut)
Santri
: yah kadeng pusing, pusing dengan hafalan dan pusing dengan ilmu yang
dipelajar susah masuknya ke otak. Wk, wk, wk. (sambil ketawa seorang santri
tersebut)
Santri
: tatapi yang namanya belajar, belajar apapun seorang santri itu dari segala
ilmunya harus takdim kepada guru, nanti juga insaallah semua akan mudah tanpa
kita sadari, intinya takdim atau mengabdi kepada guru. (ucap seorang santri)
Profesor
: ooooooh begitu ya, berarti tak seperti saya saya soalnya baru kali ini ingin
menyandang gelar profesor untuk tesisi atau penelitian saya sebingung ini, saya
ini ingin penelitian saya itu yang menomenal (kata profesor kepada seorang
santri tersebut)
Santri
: ooooh jadi bapak ini bingung ya dengan penelitan bapak tentang judulnya ?
(sambil muka dengan kurang mengerti santri tersebut)
Profesor
: iya intinya judulnya lah saya masih bingung, padahal rekan-rekan saya sudah
kelar sebagian tinggal saya dek.
Santri
: pak tetapi saya selalu bingung nih, saya terasa jarang melihat seseorang
peneliti-peneliti itu jarang meneliti manusia (anggak ngacok seorang santri
dalam berbicara)
Profesor :
maksudnya apa dek ?
Santri
: iya, saya selalu berfikir bahkan berfikir keras melebihi bapak yang sekarang
sedang kebingungan mencari judul seperti skripsi tersebut (meskipun seorang
santri berbicara terbata bata).
Profesor :
emang kamu memikirkan apa dek ?
Santri
: iyah saya melihat teman-teman saya sekarang yang sudah lulus dari SMA atau
SMK da nada juga sebagian kerja dan kuliah da nada juga kuliah sambil kerja,
jadi begini pak mereka kan sudah besar dan otaknya juga pasti mempunyai akal
sehat dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya,
tetapi kebanyakan teman saya itu kenapa otaknya itu murni atau tidak murni sih
dirinya masih ada yang mabok, pengobah, narkoba, judi, narkoba, main perempuan
dan segala hal yang merusak kita dan saya ingin sekali mengajak mereka ke pada
akal yang sehat, saya mengajak karena saya kasingan dengan mereka, saya bukan
orang baik toh dan buak orang suci, tatapi kenap gitu dengan otak mereka,
padahal udah gede-gede.
Profesor
: ooooh saya mengerti dengan apa yang dipikiran kamu, kesimpulanya sekian
banyak profesor ataupun peneliti-peneliti ataupun sekalian ilmuan jarang
mengelaborasi apa yang ada dibenah mereka sehingga mereka tidak bisa membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk, begitu toh deh (ucap seorang profesor)
Santri
: nahhhh iya begitu lebih tepatnya pak (santri itu sambil tersenyum)
Profesor
: waduuuh ini bisa menjadi bahan penelitian atau judul tesis saya nih untuk
lulus dek (profesor sambil tersenyum dan melihat kearah santri tersebut)
Santri
: waduuhh bukanya itu sulit ya pak ?
Profesor
: santai ini kan menjadi sebuah tantangan untuk saya, dan ini jarang
diteliti-teliti oleh orang-orang, kan kalau dalam agama kita islam itu kan
semuanya hanya nafsu yang mengendalikan kita, tetapi bapak ingin lebih
mengelaborasi (meneliti secara cermat) di dalam otak manusia tersebut, sulit
tidak sulit ini menjadi suatu tantangan untuk bapak dek (kata profesor dengan
wajah riang)
Santri :
ok, ok, ok sukses ya pak penelitiannya (sambil dengan wajah tersenyum)
Profesor
: iya, kamu juga sukses nyantrinya harus jadi orang yang bermanfaat bagi
sekitar, sekecilapapun manfaatnya ya dek.
Santri
: iya, iya.
Berakhir sudah percakapan seorang
profesor dan santri tersebut hingga profesor menemukan solusi lubang untuk
menyandang gelar tersebut, dan profesor kembali dengan fokus dengan tesis atau
penelitiannya yang berjudul “ELABORASI
OTAK MANUSIA DALAM RANAH KETIDAK DEWASAAN DALAM BERFIKIR”. Nah prfesor
saatnya bekerja dengan tekun sehingga profesor mendapatkan kesimpulan tersebut,
bahwa kenap dengan OTAK MANUSIA ????
Comments
Post a Comment