Mahasiswa Kebingungan



MAHASISWA KEBINGUNGAN


Ketiga kembali membahas ke dunia anak muda, anak muda yang terpelajar tunggi, yang punya komitmen cita-cita ini, kita kontemplasi dari seluruh bahkan semua dunia akademisi, yaitu seorang mahasiswa.
Peran mereka amat penting, paling di katakana urgent dalam tanah air, mereka adalah kaum tepelajar yang punya titel sarjana, dan menjadi seseorang menjadi itu lumayan cukup sulit, sulit bagi mereka yang belum punya passion (tau bahwa dirinya tau), bagi yang menemukan passion dirinya itu adalah anugrah yang harus terus beryukur menemukan jati dirinya.
Mereka di didik sedemikian ada regulasi dari universitas, belajar sedemikian dengan otak yang masih refresh (segar), pemahaman merekapun lebih teranalisis dalam menghadapi suatu problem solving (masalah) dan punya jiwa yang militan dalam mengembangkan diri.
Tetapi semua ada yang di katakan itu sulit dan ada yang mengatakan itu it easy (gampang), itupun setiap mata kuliah yang dipahami oleh mereka yang lagi mengejar menjadi seorang sarjana.
Dari semester pertama dihimpun semester per semester dalam menimba ilmu yang di pelajari di jurusan masing-masing, dari level easy hingga hight level dan menjadikan seorang yang bisa memberikan yang menjadi simnolisasi perguruan tinggi yaitu “Tridarma”
Terkadang mereka sesudah menjadi sang mahasiswa merasa bangga, iniloh mahasiswa, di masyarakatpun juga terdengan amat canggih nama tersebut, karena kecanggihan mahasiswa tersebut identik dengan tahun 1998 era zaman dimana Suharto harus turun memimpin republik bumi putra ini, makanya mahasiswa menjadi viral di kalangan masyarakat.
Setiap di sela-sela jadwal (schedule) merka, mereka selalu ada kegiatan entah kegiatan ada yang bekerja sambil kuliah (kerja menyesuaikan) dan entah itu berorganisasi di kampusnya dan adapun yang berwirausaha dalam mencari uang sambil kuliah, semua berbeda semua bermacam hingga punya ragam dan warna yang luar biasa.
Mereka anak-anak muda regenerasi berikutnya, sistem tubuh dan pikiran terbentang seluas luasnya di benak mereka, hingga mereka di juluki estapet para pemimpin, tetapi mereka tidak semuanya menjadi seorang pemimpin, tetapi dalam hal lain semua kaum adam pasti sebagai calon imam, imam rumah tangga.
Di Indonesia universitas negeri ataupun suwasta mempunya citra yang berbeda salam kampusnya entah itu dalam regulasi sistem tata kelola dalam mengurus universitasnya atau membimbing kepada mahasiswanya hingga menjadi sarjana yang bisa berguna untuk keluarganya, dan juga dalam hal lain dosenpun cara melihat gelagat mahasiswanyapun berbeda-beda dalam membimbingnya, entah itu dalam menasehati dan mengeritiki.
Terkadeang menjadi itu tidak mudah, dengan bisanya menjadi kita harus mencari, mencari apa ? mencari ketertarikan yang disenangi oleh diri kita sendiri, sekecil apapun itu nilainya janganlah di anggap enteng, karena hal yang bisa memberikan kenyamanaan kita hanyalah diri kita sendiri, paling sulit dan paling panjang hanyalah perjalanan diri, yaitu mencari jati diri “Manarafa Nafsuhuu Fakadaroffaa Rabahuu” artinya : “barang siapa yang mengenal dirinya maka ia mengenal rabinya”.
Tetapi kerap kali kita memilih jurusan yang kita pilih bisa mengantarkan kepada pekerjaan yang enak, entah itu enak menajdi seorang direktur atau presiden, wakil presiden. Mentri, pejabat, pengusaha, CEO atau kantoran, sering kali yang bisa memilih sesuatu yang sederhana itu hanyalah hati kita.
Bila ada dosen yang berkata dikelas, semuanya kan sarjana jurusan yang sesuai yang dipilih entah itu jurusan ilmu komputer atau jurusan hokum dan kedokteran, tetapi tak berarti kalian harus menjadi ini atau sesuai jurusan ini keprofesiannya, kebanyakan mahasiswa itu tak semua jatuh cinta kepada jurusannya masing-masing, sekali lagi tidak semuanya mahasiswa dari antar pakultas yang lulusnya ribuan orang menjadi seorang programmer dalam IT, kedokteran jadi dokter, guru menjadi guru tidak semua itu paling hanya sebagian kompetibel dengan jurusannya masing-masing.
Dari semester level 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 hingga mencapai titik penghabisan itu semakin bingung dari kalangan para akademisi ini, bingung entah nanti saya jadi apa dan pusing terhadap apa yang dikerjakan saat ini, percayalah sepusing pusingnya pelajaran tetapi menjadi nyamannya dalam hati dan diri kita itu adalah salah satu benih diri kita, mencintai dengan sedikit demi sedikit hingga terus menerus menjadikan diri kita ini, hingga ingin terus bertanya siapakah diri kita, dan semakin kita megenal diri kita semakin menjadi makhluk misterius diri kita.
Makanya bila ada orang yang mengatakan “WAW ada mahasiswa ente kuliah kerjanya nanti enak donk” bro bro tidak semua mahasiswa itu kerjanya langsung tingkat atas, mereka juga mengalami peroses dedikasi, tenaga, keringat, bergadang, pikiran, otak, uang, menabung, usaha dan kerja itu tergantung di dalam berproses mahasiswanya masing-masing, mereka juga sama seperti kalian yang bukan sarjana, sarjana itu tak jauh IQnya dengan anak SMA kawan.
Dan kami dituntut untuk cari ilmu padahal cari yang tidak mempunyai gelar atau sarjana bisa menuntut ilmu atau mencari ilmu entah itu ilmu apa yang menting ilmu, karena ilmu itu cahaya saking luasnya cahaya itu menerangi semua isi bumu yang berada di dalamnya.
Tetapi apa yang menjadi pokus mereka belum tentu menjadi bagian profesi mereka, dari sisilain mereka belajar senyaman nyamannya untuk supaya lulus menjadi seorang sarjana yang di damba dambakan, dan bisa mendapat sarjana S1 untuk menjadi sarat standar kelulusan di kalangan universitas.
Artikel ini hanya kontemplasi dari beberapa Mahasiswa yang Kebingingan entah itu kebingungan dalam hal apa, pekerjaan, salah jurusan, dan sebagainya yang menjadi kebutuhan yang di milikinya, semoga bermafaat


Comments

Popular Posts