Nenek Moyang Penipu/Bukan

Sekuat-kuatnya dan sehebat-hebatnya manusia pasti punya rasal welas asih terhadap manusia-manusia yang dalam kesulitan atau cobaan karena sehebat-hebatnya pereman pasti itu bisa menangis da nada rasa galau terhadap dirinya.

Kita memberi apa yang harus kita beri apapun itu asalkan itu menjadi kebutuhan yang kau beri kepada sesama untuk menolong orang dimanapun dan kapanpun itu untuk terus berbuat baik terhadap sesama.

Disatasiun kota bogor awal suatu perjalanan untuk menghadiri acara event di big seminar yang diselenggarakan oleh pak Baharudin Jusuf Habibi event (acara) itu diberi nama dengan festival habibi didalam seminar tersebut banyaknya anak-anak kita mampu berkarya dan berinovasi untuk membuka suatu industri dibidang kreatif.

Pagi itu saya ditemani bersama teman sebaya saya untuk hadir diacara event festival bapak baharudi jusuf habibi dan disitu kami cek ulang kembali saat berangkat untuk tau perjalanan kami via (lewat) google Map supaya kami nanti tidak kebingungan saat di ibu kota Jakarta.

Kami perlahan-lahan mengantri dibelakang untuk membeli tiket dan membayar perjalanan untuk tiba dijakarta tiket yang memberi pelayanan mesin kepada manusia supaya cepat dan efisien dan cepat untuk melayaninya.

Setelah mengantri tiket kita berangkat untuk cek rute rel kereta dimana kita harus teransit dan harus melanjutkan berangkat menaiki kereta lain lagi untuk sampai dijakarta, ternyata dalam informasi “Dash Board Notif” kedatangan kereta kira-kira diantara 45 menit lagi kita memakai kereta Bogor-Jakarta-Angke.

Kami tidak lama duduk dipelataran disamping indomart untuk menunggu kedatangan kereta untuk sampai distasiun bogor, menunggu hingga 45 menit kami melihat orang-orang yang berjalan kami ada yang sedang terburu-buru da nada juga yang sedang menunggu dipelataran stasiun bogor dan saya amat bangga ada yang sudah berolahraga (workout) itu mungkin dari kota depok ataupun kota Jakarta untuk mengunjungi cup free day mancur ataupun disempur.
 
Disebelah kanan saya itu kawan saya dan disebelah kiri saya itu adalah nenek tua yang rasanya nenek tua itu kebingungan untuk ingin pergi kemana berasa dalam hati saya melihat beliau amat kasian melihatnya, dan saat itu tidak lama kemudian wajahnya menoleh ke saya dan memberikan suatu senyuman sayapun menyapanya kembali dan tersenyum kembali menghormati nenek tua itu.

Tidak lama kemudian disebelah kiri nenek itu ada seorang perempuan dan mungkin keluarganya atau saudaranya yang sedang menunggu seperti halnya saya untuk menunggu kereta keberangkatan dan si nenek tua itupun mendekati yang perempuan tersebut dan ingin mengajaknya berbicara tetapi si perempuan itu mengabaikan dan tidak enggan melihat nenek tersebut.

Sedangkan difikiran ku ingin belajar dengan nenek tersebut dan pelajaran itupun mungkin tidak ada dimata kuliah ku yang saat ini sedang menjalani proses menjadi seorang sarjana.
Jadi teringat dengan dosen fisika yang amat mencintai profesi ilmunya dalam bidang ilmu fisika nama beliau bapak hendradi herdienata beliau adalah salah satu praktisi college dari Indonesia yang berprestasi dalam bidang ilmu fisika dan gelarnyapun amat sangat panjang untuk dihafalkan oleh mahasiswanya.

Saya menelaah terhadap tulisan beliau di “Kompasiana” yang berjudulkan “Guru Favort yang Selalu Memberi Nilai A (Kritik Tehadap Mereka yang Suka Pelit Memberikan Nilai) saya menghayati tulisan beliau ternyata ada sebuah permata yang tersembunyi dibelakang tulisan tersebut.

“Proses belajar dan studi banding yang sesungguhnya adalah transformasi moral dan perbaikan berkelanjutan, studi banding untuk membangunkan hati dan menidurkan keserakahan”
Artinya belajar yang sesungguhnya untuk hidup ini adalah belajar dari orang lain, studi banding dan transformasi moral secara berkelanjutan kita tumbuh kembangkan didalam diri kita untuk terus molong sesama disekitar kita bagi yang membutuhkan.

Pada akhirnya nenek itu mendekat dan mengajak berdialog dengan saya dan sayapun tidak malu saya sama halnya menjawab apa yang diutarakan nenek tersebut, dan ternyata nenek tersebut gamang (kebingungan) untuk pulang kerumah anaknya kalau tidak salah nenek tersebut mempunyai 2 orang anak semuanya 2 anak tersebut laki-laki yang satu rumahnya didepok dan yang satu rumahnya dibogor.

Hampir 15 menit saya ngobrol bersama nenek tersebut dan kesimpulannyapun dia ingin meminjam uang kepada saya dan sayapun memberikan untuk bekal nenek tersebut secukupnya dan pergilah nenek tersebut dengan senyum kepada saya untuk keluar loket tersebut.

Dalam fikiran saya entah itu penipu (scam) atau bukan yang penting saya melihat dari kondisi, karena nenek tersebut kebingungan dan sudah renta tua dan tidak ada orang yang mengajak untuk mengobrol dan membantunya ditambah sedang dalam kondisi keadaan sakit nenek tersebut.

Betapa sedihnya melihat bahwa masih banyak orang tua dinegeri ini kekayaan yang luar biasa hidup sedemikian susahnya adalah ironis dan masih ada oknum yang mengkorupsi miliaran rupiah dan memanipulasi polisi dan jaksa bahkan hakim untuk menghianati bangsanya sendiri.

Sedih juga melihat pemborosan uang negara untuk hal-hal yang sebenarnya bisa digunakan untuk memperjuangkan kualitas hidup mereka seperti akses kesehatan dan pendidikan yang lebih besar bagi masyarakat kurang mampu.

Comments

Popular Posts