Homeschooling Madrasah Pertama Untuk Keluarga
Peran
pendidikan atau madrasah bagi anak-anak memang sangat penting untuk mencari
ilmu, ilmu dimana saja yang ingin dicari entah itu diakademisi, pesantren,
sekolah dan dikehidupan disekitar yang tanpa kita sadari.
Tetapi
bukan mengesampingkan pendidikan birokrasi atau lembaga itu tidak penting
melainkan penting dalam berperan, tetapi yang paling penting (urgen) yang tanpa
kita sadari (awareness) itu pendidikan “Homeschooling Parenting” untuk
anak-anak kita karena mendidik dan mengajarkan anak-anak saat usia dini itu
sangat penting terutama akhlak, moral atau sopan santun untuk ditanamkan untuk
anak-anak sejak dini.
Mereka
belum mengerti apa-apa belum tahu hal ini dan hal itu dan belum mengenal mana
yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik untuk dilakukan, karena otak
anak harus diberikan stimulus kebaikan dan mendidiknyapun butuh kesabaran yang
luar biasa.
Guru
dalam “Homeschooling” yaitu hanya ada dua inilah 2 pahlawan tanpa jasa yang
saling melengkapi dan mengayomi satu sama lain, peran ayah dan ibu terutama ibu
dalam mendidik anak dalam umur balita dan ketika berlanjak 5 tahun dan hingga
dewasa.
Ibu
yang menjadi salah satu guru yang seharusnya luar biasa
memberi-mengasihi-menyayangi-mengajarkan-sabar dalam mendidik putra-putri nya
dalam peran “Homeschooling Parenting” bagi pendidikan (Al-ula) untuk anak-anak
kita saat tumbuh hingga dewasa.
Tetapi
tidak semua ibu yang mempunyai peran aktif mendidik dan mengedukasi anak-anak
nya saat dini, ibu yang jarang yang sekarang minim memahami arti dari pilosofi
makna mendidik anak-anak, terutama mendidik dalam hal moral, akhlaktullkarimah
(afektif/kejujuran) dalam peran yang paling penting untuk kehidupan.
Ibu
yang hebat itu tercipta dengan proses yang hebat bahkan yang luar biasa entah
itu dalam hal masa mudanya,, orang tuanya saat mendidiknya hingga mengerti
pemahaman kognitif terutama dalam agamanya, dan ibu masa mudanya yang tidak
disibukan dengan kehidupan yang jarang dilakukan oleh lingkungan-lingkungan sekitarnya
terus berjalan dan memeperbaiki proses cerminan dalam dirinya supaya kelak
menjadi pribadi dan contoh untuk bisa mendidik peran dalam keluarga
“Homeschooling”.
Contoh
yang jarang kita lihat dari “Selebgram” dari ibu super lembut dan berhasil
memberikan doktrin stimulus afektif yang “sopan santun/prilaku” ibu yang
tinggal di daerah oman muscat yaitu ibu Rethno Hening Palupi yang menjadi peran
utama untuk meng-Homeschooling anaknya “Mayesa Hafsah Kirana” ada salah satu
bentuk yang mungkin ini menjadi kebaikan yang sedikit tetapi punya pencapaian
nilai (startingpoint) yang amat bermoral “Ketika kirana sedang berjalan
dirumahnya ada seekor beberapa semut yang lewat menghampiri kirana, dan
kiranapun berhenti sejenak dan ketika jalan melewati semut tersebut mengucapkan
“Permisi ya semut kirana mau lewat” sungguh anak yang sopan dan baru menginjak
umur 5 tahun bisa selektif/peka terhadap makhluk kecil yang ingin melewatinya,
percayalah hal kecil itu nilainya luar biasa tetapi dari ribuan orang terkadang
yang menilai kecilpun tidak seberapa dan sungguh yang luar biasa itu yang
nilainya besar.
Percaya
bila pengetahuanmu (insight) mu luas maka kamu akan memahami nilai-nilai banyak
filosofi kehidupan belum tentu yang besar itu menjadi hal yang mempunyai nilai
besar dan yang kecilpun tidak selamanya mempunyai nilai kecil.
Bukan
hanya peran ibu melainkan peran ayah “Perempuan yang luar biasa itu cerminan
dari lelaki yang luar biasa” tetapi peran seorang ayah disini tidak terus
mewakili anak-anaknya ayah adalah tulang pungguh keluarga dan penopang bagi
anak-anaknya dan ibunya, tetapi peran ayah juga sangat penting dalam pendidikan
(Homeschooling Parenting) untuk anak-anaknya butuh berbicara dialog dengan
anak-anaknya ketika ada luang waktu libur saat bekerja karena 2 pahlawan ini
harus wajib membentuk anak-putrinya untuk bisa menjadi peribadi lebih baik.
Mengajarkan
anak itu harus dengan intuisi (pendekatan hati) secara persuasif bukan
kekerasan dan pelampiasan kemarahan bila anak mendapat kemarahan dalam diri
kita anak-anak itu lebih menerima dalam kondisi psikologi dan takutnya mental
anak terbebani oleh ucapan kemarahan kita.

Comments
Post a Comment