Pendidikan dan Keluarga

Pendidikandan Keluarga adalah salah satu hal yang paling utama dalam mendidik anak cucu kita untuk diperhatikan entah itu di sisi lain dalam ruang pendidikan (education) atau diruang lingkup Keluarga (Parenting) dua variable ini yang penting dan harus di perhatikan selalu dalam mendidik anak-anaknya.

Bagaimana kita harus menyikapinya diantara ruang Pendidikan dan ruang Keluarga, dengan kongkritnya hanya satu kepedulian terhadap anak-anak ketika pendidikan menjadi lembaga utama untuk menjadikan anak-anaknya itu untuk kuwajibannya mencari ilmu atau menuntut ilmu supaya menjadi manusia yang bisa mencetak martabat akademis dalam ruang pendidikan, bukan hanya akademis tetapi merekapun mendapat dan mengenal dari beberapa pelajaran yang dipelajari ketika mengenyam pendidikan tersebut.

Mereka sedikit-sedikit mengenal beberapa pelajaran yang di sampaikan oleh guru-gurunya seperti pelajaran dasar matematika (ekstak), bahasa indonesia, menggambar atau seni (art), bahasa sunda, membaca, mengejah, bahasa inggris dan lain-lain yang menjadi dasar pengenalan untuk membuka sedikit stimulus supaya anak tersebut termotivasi dengan ketertarikan ilmu yang ingin di embannya masing-masing.

Guru yang sebagai pasilitator keluarga kedua untuk transfer ilmu terhadap pengajaran yang di berikan kepada anak-anak kita supaya mereka katanya tidak buta huruf untuk ragu-ragu (skeptis) dalam membaca danpun diberi pemahaman dasar tentang ilmu matematika (eksak) agar mereka bisa menghitung dan berhitung secara ilmu dasar yang di pelajari masing-masing mudrid atau anak-anak kita.

Pendidikan tanpa monitoring keluarga tidak akan efektif dalam pengawasan dalam anak-anak didiknya untuk belajar diruang lingkup sekolah atau lembaga (institusi) karena mengapa? Mereka butuh nilai tambah (additional value) untuk anak-anak kita supaya dapat terkendali dan terpantau selama proses belajar diruang kelas dan apakah mereka merasa nyaman ataukah belum berartinyaman dalam ruang kelas untuk menerima pelajaran.

Keluarga hanya untuk dibawa pada nilai persuasif (pendekatan) terhadap anak-anak kita selama mereka belajar di institusi atau sekolah, persuasif (pendekatan) disini dalam refresentasi adanya kepedulian terhadap bimbingan (guidance) ibu ataupun ayah dalam peran keluarga supaya anak terus tidak terabaikan selama sekolah dalam peroses pembelajarannya.

Karena peran guru tidak semua diberikan kepada murid-meuridnya sepenuhnya efektif dalam memahami pendekatan kepada anak-anak didiknya dalam peran pendidikan, apa yang membuat mereka tertarik (interested) dan apa yang mereka sedang alami dalam gejolak dirinya terhadap tidak bisa atau bisanya dalam memahami semua pelajaran yang di ajarkan oleh gurunya.

Merekapun tidak seharusnya hanya diberikan edukasi teori tetapi mereka harus juga diberikan kebebasan berfikir dalam memahami ruang kehidupan disekitar nilai-nilai dasar yang banyak sekali harus mereka pahami diluar yang diajarkan, bukan berarti hal-hal yang aneh melainkan untuk melihat kehidupan alam dalam pembelajaran yang diciptakan oleh tuhan dalam jangka sekian (ilmu agama) dan mengenai hidup bersyukur terhadap apa yang kita lihat disekitar (akhlak).

Karena menurut penyair terkenal Khalil Gibran menyatakan “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu Mereka adalah putra putri kehidupan Kau bisa berikan kasih sayangmu Tetapi tidak pikiranmu”

Memahami kata dari penyair ini bahwa mereka adalah putra dan putri kehidupan yang terlahir menjadi benih-benih penerus generasi-generasi selanjutnya untuk memahami ruang luasnya kehidupan alam semesta ini dengan melihat dan mendengar dengan bersyukur dan takjub pada ruang ‘Kehidupan’ situasi mereka jalani dan mereka cari dan merekapun wajib diberikan kasih sayang terhadap bisa diartikan orang tua ataupun guru-guru yang menjadi peran dalam mendidik mereka, tetapi tidak pikiranmu dalam artian bukan pikiranmu disini jangan memaksakan mereka untuk tetap jadi hal yang kamu inginkan, semisalkan orangtuanya ingin anaknya menjadi seorang ahli dalam kedokteran tetapi pikiran dan hati mereka belum tentu sesuai hal yang menjadi mereka senangi dan gemari dalam pikiran mereka yang ingin disalurkan untuk mereka yang harus menjadi ini dan itu. Gurupun halnya sama dalam memahami setiap muridnya masing-masing.

Semoga kita semua bisa memahami ruang pendidikan dan ruang dalam keluarga yang harus selalu menjadi tangan kanan untuk membuka ruang hati anak-anak kita dalam arti aspirasi selama mereka dalam peroses belajar dikelas tetapi mereka paham atau tidaknya selama belajar dan mengerrtinya dan terteriknya dalam belajar apa inilah dua tangan kiri dan kanan dalam arti pendidikan dan keluarga sebagai sarana kita untuk terus jadi variabel 2 peran utama kita terhadap anak-anak generasi didik.


Comments

Popular Posts