20 Tahun Mahadul Ittihad
Menjelang
beberapa tahun atau beberapa bulan belum rasanya untuk menengok sailaturahmi ke
pondok pesantren cianjur Al-ittihad yang umurnya sudah yang ke 20 tahun
dasawarsa. Silaturahmi untuk sono kepada para guru, kawan-kawan dan kepada
pimpinan pondok pesantren tercinta ini pak Iyai Haji Kamali Andul Ghani. Beliau
adalah pengasuh atau pimpinan dari pondok pesantren Al-ittihad cianjur,
pesantren yang berdekatan dengan terminal rawa bango cianjur.
Semenjak
entah berapa tahun atau berapa lama jarang rasanya untuk silaturhami ke pondok
pesantren yang cintai dan menjadi kebanggaan ini untuk terus menengok dimana
waktu dahulu menimba ilmu di kota yang dikenal dengan kota santri. Kena disebut
dengan kota santri?
Cianjur
memiliki dengan identik filosofi yakni NGAOS, MAMOS dan MAEN
PO yang mengingatkan kepada kita semua pada 3 aspek ke paripurnaan
hidup :
1.
NGAOS adalah tradisi mengaji yang mewarnai suasana
dan nuansa Cianjur dengan masyarakat yang dilekati dengan keberagaman Citra
sebagai daerah agamis.
ini konon sudah terintis sejak Cianjur lahir
sekitar tahun 1677 di mana wilayah Cianjur ini dibangun oleh para ulama dan santri tempo dulu yang gencar mengembangkan syiar Islam.
Itulah sebabnya Cianjur juga sempat mendapat julukan gudang santri dan kyai sehingga
mendapat julukan KOTA SANTRI. Bila di tengok sekilas sejarah perjuangan di
tatar Cianjur jauh sebelum masa perang
kemerdekaan, bahwa kekuatan-kekuatan perjuangan kemerdekaan pada
masa itu tumbuh dan bergolak pula di pondok-pondok pesantren. Banyak pejuang-pejuang yang meminta restu para kyai
sebelum berangkat ke medan perang. Mereka baru merasakan lengkap dan percaya
diri berangkat ke medan juang setelah mendapat restu para kyai.
2. MAMAOS adalah seni budaya yang
menggambarkan kehalusan budi dan rasa menjadi perekat persaudaraan
dan kekeluargaan dalam tata pergaulan hidup.
Seni mamaos tembang sunda Tembang Cianjuran lahir dari hasil cipta, rasa dan karsa
Bupati Cianjur R. Aria Adipati Kusumahningrat yang dikenal dengan sebutan Dalem
Pancaniti. Ia menjadi dalem tatar Cianjur sekitar tahun 1834-1862. Seni mamaos
ini terdiri dari alat kecapi indung (Kecapi besar dan Kecapi rincik (kecapi
kecil) serta sebuah suling yang mengiringi panembanan atau juru. Pada umumnya
syair mamaos ini lebih banyak mengungkapkan puji-pujian akan kebesaran Tuhan
dengan segala hasil ciptaan-Nya.
3. MAEN
PO adalah seni bela diri pencak silat yang menggambarkan
keterampilan dan ketangguhan. Pencipta dan penyebar maenpo ini adalah R.
Djadjaperbata atau dikenal dengan nama R. H. Ibrahim, aliran ini mempunyai ciri
permainan rasa yaitu sensitivitas atau kepekaan yang mampu membaca segala gerak
lawan ketika anggota badan saling bersentuhan. Dalam maenpo dikenal ilmu
Liliwatan (penghindaran) dan Peupeuhan (pukulan).
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Cianjur)
Disela
sela kesibukan yang selalu mewarnai hidup dalam diri ini untuk belum sempat
melihat suasana dan aroma dari kehidupan santri dan aktifitas dipondok
pesantren yang dulu menimba ilmu.
Ternyata
banyaknya perubahan dalam pondok pesantren ku ini. Bukan hanya pondok pesantren
atau mahad yang berubah tetapi kawan-kawan atau sahabatpun kian berubah,
berubah dalam artian sudah tau dimana letak mereka untuk dewasa untuk peka dan
mandiri terhadap gejala-gejala yang mereka alami dan mencari kesejatian hidup
dirinya masing-masing.
Lumayan
banyak pengalaman dan cerita meskipun tidak banyak mereka ceritan dan tukar
pikiran untuk bicara sesuai dengan pengalaman yang dialami mereka masing-masing
tersebut. Sungguh saya bisa belajar banyak tentang aroma hidup pengalaman
mereka meskipun hal itu buruk ataupun baik toh yang baik kita jadikan motivasi
hidup untuk terus tetap bersyukur dan harus mempunyai sifat Qona’ah dan yang
jelekpun kita gunakan sebagai cermin dari diri kita supaya kita bisa berkaca
dan ngaca untuk belajar batasan-batasan pengalaman tentang hidup mereka.
Sayangnya
belum bisa menghadiri acara 20 tahun milad ini dengan secara keseluruhan melainkan
satu setengah malam karena kawan-kawan disana sudah mengahadiri acara pada
tanggal 19 dan 20 Januari 2018 sekalian dengan adanya “Reuni Akbar Ponpes
Al-itihad Dua Dasawarsa” kira-kira ada sekitar 15 angkatan dalam renui Ponpes
Al-ittihad yang hadir secara keseluruhan.
Allhamdullilah
kita semua 13 Jauharulmaknun untuk sowan (rindu) kepada pak iyai dan bu iyai
untuk silaturahmi ke rumah beliau dan allhamdullilah dihadidri juga oleh ketua
angkatan yang hadir untuk sowan ke pak iyai.
Menunggu
sekitar setengah jam untuk antri ke rumah pak iyai dan bu iyai untuk
silaturahmi ternyata banyak yang sowan dan rindu dengan beliau dari angkatan
bawan dan sudah bertahun-tahun. Sedangkan angkatan ku ini masih muda angkatan
13 yang baru kemarin.
Setelah
tiba dan masuk ke rumah pak iyai kami semua masuk dengan sopan dan bagaimana
mestinya seorang santri yang selalu mencium tangan guru atau mursyidnya untuk
sowan kepada pimpinan pondok (Mudirul-Mahad). Rumah beliau sangat sejuk dan
bersih dan juga banyak makanan dan bingkisan untuk sowan ke pada beliau untuk
silaturahmi terutama para alumni.
Disaat
semua sudah duduk rapih ada beberapa pertanyaan yang mewakili dari semua
banyaknya pertanyaan untuk angkatan kami dan hanya 3 pertanyaan yang kami
pertanyakan kepada pak iyai untuk dijawab dan sekalian shering supaya tidak
terlalu untuk dibawa serius.
Jawaban
yang pertama untuk mewakili pertanyaan dari angkatan kami :
1. Pak
iyai bagaimana perasaan pak iyai dengan adanya milad 20 pondok pesantren
Al-ittihad ini dan banyaknya Alumni?
Pak iyai menjawab dengan sepontan
dan penuh kehati-hatian lembut dan enak allhamdullilah bersyukur dan banyak
silaturahmi dengan antar angkatan dan juga beliau. Ucap pak iyai
2. Pak
iyai apa yang harus menjadi pegangan kami saat berada dilingkungan luar?
Pak iyai pun menjawab juga dengan
singkat kalian belajar dulu kata pak iyai, belajar aja dulu, yang suka dengan
keprofesiannya yang ingin konsentrasi dengan ilmunya seperti ilmu umum atau
agama dan umumpun juga dan agamapun juga ada cabang-cabangnyapun lagi yang
kalian harus cari. Pokus dulu saja belajar dulu saja yang suka ini sok belajar
yang suka dengan itu sok belajar.
Dan
aku sedikit memfilter dan mencerna dari jawaban kedua dari pak iyai dalam
pemaparan beliau dengan bahasa yang sederhana meskipun tidak spesifik tapi
mengerti dan singkat jelas untuk memahami yang jawaban ke 2 ini. Aku jadi
sedikit ingat tentang cerita mahfud MD yang sekarang beliau pernah menjabat
mentri pertahanan di era kepresidenan Gus Dur (KH. Abdurahman Wahid/Addakhil).
Dimana dulu beliau hidupnya sangat susah dan tidak hanya kepada keluarga beliau
(pak mahfud) tetapi ayah nyapun juga mengajarkan artinya pendidikan kepada
anaknya untuk terus belajar dan berpegang teguh kepada pendiriannya.
Ayah
beliau sedikit bercerita tentang kisah Nabi Sulaiman kepada anaknya (Prof.
Mahfud MD).
Ayah
: Mahfud kalau engkau mau sukses (dalam
artian hidup bahagia), tirulah Nabi Sulaiman
Anak
: Kenapa dengan Nabi Sulaiman?
Ayah
: Karena ketika Nabi Sulaiman itu ketika
muda oleh tuhan diberi 4 pilihan, Sulaiman engkau mau diberi karunia oleh
Allah. Apakah engkau mau memilih jadi
raja, apakah engkau jadi orang kaya didunia, apakah engkau mau mempunyai istri
yang paling cantik (kaya) dan yang terakhir apakah engkau hanya ingin memilih
belajar saja mempunyai ilmu. Dan Nabi Sulaimanpun menjawab dan diapun memilih
ilmu. Dan setelah itu dia belajar habis-habisan sehingga dia menguasai semua
ilmu dan dengan ilmunya itu dihebat menjadi raja yang tak terkalahkan, menjadii
orang kaya tertandingi sampai hari ini sehingga ada film “King Solomon Mine’s”
kemudian yang mempunyai istri saat itu paling cantik Ratu Balqis itu tercatat
dalam sejarah itu ratu paling cantik pada masanya. Nah inilah karena Nabi Sulaiman
memilih ilmu.
Mahfud kamu tau maksud dari cerita
ini ?
Anak
: Ndak
Ayah
: nahh …. Disini kamu sekarang kalau
menginginkan sesuatu kamu harus belajar dulu dan harus belajar dulu nanti kalau
kamu sudah punya ilmu kamu bisa dapatkan apa saja dan bisa milih apa saja. Itu
Nabi Sulaiman.
Kisah
nabi sulaiman memang tidak asing lagi bagi kita tetapi banyak yang tidak
menelaah dan menganalisis cerminan bahwa benar autentik ilmu itu bisa
mengangkat derajat seseorang manusia. Sungguh mulianya dan sucinya agama ini
islam begitu wajibnya bagi kita untuk menimba ilmu.
“Tolabullilmi
Faridatun Alla Qullimuslimmin”
Mungkin
ini yang dimaksud dengan jawaban pak iyai. Betapa pentingnya mencari ilmu
ketika kita masih muda tetapi jawaban kita apakah kita bisa atau mampu
menemukan ilmu di segala banyaknya ilmu didunia ini yang cocok (capable) untuk
kita konsisten terhadap ilmu yang dipelajari oleh kita, sungguh sangat
fluktuatif saat kita konsisten terhadap semangat kita untuk coba ikhtiar dalam segala
proses yang kita tekuni. Dan terkadang kita ini seperti mengambang atau
menyelam bahkan belum apa-apa melainkan masih didarat.
3. Pak
iyai supaya kita bisa konsisten atau pesan dari pak iyai untuk menjalani hidup
diluar? (atau menanyakan tentang amalan/another lupa dengan pertanyaan nomer 3).
Pak iyai menjawab cukup sederhana
cakap pak iyai kata beliau : sesudah solat lima waktu cukup baca Al-fatihah 11
kali setiap solat yang lima waktu. (ucap beliau)
Semua
terdiam dan mengangguk-ngangguk untuk mendengarkan ucapak pak iyai dan semoga
mereka semua mampu (capable) dalam mengingat perkataan beliau hingga mereka
berada dilingkungan yang berbeda pula juga, semoga kita dan semua bisa
memperaktekan dan mengamalkan ucapan beliau yang disampaikan dalam selaturahmi
pada 20 tahun dasawarsa pondok pesantren Al-ittihad.
(Kami disimpan, menangis, mengenal, bersyukur,
belajar, memahami, mengerti, berfikir, berjuang, bersedih, berteman, disiplin
hingga menjadi permata apa yang menjadi filosofi nama angkatan kami yaitu “Jauharul
Maknun” yang artinya : “Permata yang
Tersembunyi” apakah jadi manusia yang harum untuk peribadinya sendiri dan
orang lain, atau mungkin menjadikan manusia yang haram yang dilahirkan untuk
menjadi manusia yang tak tau diri untuk dirinya dan orang lain. Yang mampu bisa
menjawab hanya hati mu dan diri mu peribadi)

Comments
Post a Comment