Guru dan Murid



Guru adalah salah satu pasilitator untuk Murid supaya murid dapat berkembang dan tumbuh semangat belajar hingga tercetaknya murid-murid yang unggul dalam masing-masing bidang ilmu kemampuannya untuk menjadikan murid yang tercetak menjadi murid yang madani (unggul).

Guru tanpa murid bagaikan pohon tanpa daun dan begitupun juga sebaliknya Murid tanpa guru bagaikan pohon tanpa buah dan filosofi buah inilah yang mengantarkan murid apakah murid ini tercetak dengan sepantasnya oleh guru yang mendidiknya atau mungkin begitupun sebaliknya seperti bagaikan buah yang kurang baik untuk dikonsumi.

Tetapi sebagai guru itu pengajar sungguh mandat yang amat berat untuk mendidik sekaligus mengajarkan anak-anak hingga polarisasi (proses) anak dalam belajar menjadi responsif terhadap dirinya masing-masing dalam belajar diruang kelas.

Gurupun harus adil se-adil adilnya terhdap dirinya bahwa apa yang disampaikan sesuai wicara atau ucapan harus sebanding dengan prilaku dirinya untuk suatu kebaikan terhadap peserta didiknya dalam menyampaikan sesuatu, dan mencontohkan prilaku yang sopan kepada murid-muridnya untuk membimbing dan membina secara komunikatif antar murid dan guru.

Semakin berubahnya waktu zaman serta budaya prilaku guru semakin berbeda untuk mendidik murid-muridnya diruang kelas terkadang mereka bukan mendidik jatuhnya tetapi mengajar ya mengajarkan apa yang menjadi dasar pengetahuan (basic knowledge) untuk para murid contohnya murid-murid hanya di ajarkan disekolah hanya dengan matematika ataupun bahasa indonesia secara monoton tetapi tidak secara membawa suasana cerita secara interaktif untuk semua murid-muridnya dikelas, dan menyampaikannyapun harus dengan terkait sejarah pengetahuan yang dapat membawa mereka bertanya supaya ruang belajar hidup kembali dan tak menjadi ruangan jenuh kembali.

Tanamkanlah akhlak diruang kelas karena percuma seorang guru membuat anak didiknya atau muridnya pintar entah itu dalam matematika (eksak), bahasa indonesia, bahasa inggris dan ilmu komputer semuanya percuma untuk dicapai dan dipelajari hingga kepintaran tersebut menjelma secara laten (tersembunyi) untuk berlindung dan menipu orang dengan ilmu yang berhasil dicapainya, karena itu semua tidak akan hidup dan terang bila tidak di sinari dengan akhlak atau prilaku dan karakter yang terlatih supaya anak didik kita menjadi anak didik yang menjadi anak bodoh karena pintar.

Memang sungguh berat terciptanya seorang guru yang bisa mencetak murid-muridnya yang unggul dan jujur merekapun mungkin terkadang yang belum paham bahwa begitu sulit mendidik mereka dan mengolah mereka supaya mereka menjadi manusia yang mampu memahami kemampuan di dalam jati dirinya msing-masing.

Mendidik, mengajarkan dan membuat paham itu sungguh sangat rumit dalam mengajarkan kepada anak didik ataupun apa yang kita saat ini menjadi tanggung jawab kita sebagai guru (akademisi), bahkan jangankan mengajarkan anak-anak diusia dini mengajarkan orang tua sekalipun sungguh amat susah untuk mengerti dan paham, kalaupun orang yang mengajarkannya itu tidak membuat yang diajarkan berarti seorang yang mengajarkannyapun belum disebuh berhasil dalam mengajarkan orang lain masih tergolong gagal.

Percaya atau tidak bila kita mengajarkan kepada seseorang yang menurut kita belum paham artianya sangat susah membuat anak didik paham apa yang kita sampaikan itu bukan salah anak didiknya atau murid melainkan tenaga pengajar atau guru yang selama ini belum begitu tahu tentang teknik cara memberikan materi kepada seorang murid, bila kita sempat koreksilah diri masing-masing dan juga murid yang tak kunjung paham dalam belajar jangan dianggap bodoh dan idiot. Sekian banyak orang cacat dan tidak sesempurna dalam organ tubuhnya tetapi Tuhan tidak menciptakan mereka itu dengan hanya fisik yang kurang bagus ada hal tersembunyi yang jauh melampaui batas diantara kesempurnaan manusia yang tubuhnya normal dan manusia yang hidupnya sukses dan enak.

Yang sekarang pendidikan birokrasi, lembaga sungguh jauh berbeda denga yang masa dulu yang diajarkan oleh penggagas sistem dari pendidikan indonesia Ki Hadjar Dewantara yang sistem pendidikannya (education system) banyak di apresiasi oleh orang-orang eropa maupun dunia.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara bukan hanya semata-mata proses yang tidak pendek untuk mendapatkan pemikiran yang seperti halnya orang yang membalik telapak tangan. Sungguh proses beliau amat panjang untuk mendapatkan pemikiran seperti halnya yang diinginkan semua masyarakat dan konon katanya sistem pendidikan Ki Hadjar Dewantara sampai sekarang sudah dipakai oleh negara Finlandia.
Tetapi pendidikan di Finlandia sungguh tidak sama percis dengan pendidikan yang di ajarkan Ki Hadjar Dewantara mereka memperbaharui (update) kondisi keadaan, lantas seperti apa keadaan tersebut?

Keadaan adanya perkembangan ilmu terutama ilmu Teknologi yang sekarang viral-varalnya banyak digunakan dibidang segala aspek tetapi bukan hanya secara sistem yang dalam artian pengamanan (security system) melainkan dengan cara edukasi permainan (game education) untuk memperkenalkan ke anak didik tentang konsep mendidik berbasis game tetapi mengandung uncur teori seperti contoh dalam ilmu astronomi ataupun ilmu alam kenapa? Supaya peserta didik dapat belajar dan memahami dengan personal meskipun harus ada sedikit bimbingan untuk para pembimbing atau guru.

Mari ciptakan guru-guru yang waktu dizaman dahulu menyenangkan dan asik untuk mengajarkan murid-muridnya ketika berada diruang kelas atau madrasah dan saya cukup menilai bahwa hanya sistem pendidikan pesantrenlah yang salut untuk diapresiasi dan saya terlihat bangga ketika para kiyai menjelma menjadi guru untuk mengajar kepada anak-anak muridnya dan sempat ketika anak muridnya tidak paham dalam penyampaian seorang gurunya (kiyai) kiyai itu berucap bukan peserta didik yang bodoh melainkan saya yang kurang jelasnya dalam menyampaikan pemahaman dan tidak membuat mereka tidak mengerti, saya harus belajar kembali dan mendoakan murid tersebut. Itulah yang kami mau untuk tercetaknya guru-guru indonesia sebagai penopang peserta didiknya.

Comments

Popular Posts