Kang Muhammad



Oleh pengalaman hidup yang panjang dan berguncang-guncang Kang Muhammad akhirnya menyimpulkan bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu untuk mencari uang.

Kalau saya berbuat sesuatu untuk tujuan duit, selalu gagal. Tapi kalau saya kerjakan sesuatu karena saya memang wajib mengerjakannya sesuai dengan perintah Allah, anehnya duit lantas datang dengan sendirinya” katanya.

Kang Muhammad hidup di wilayah dekat pesisir utara Pulau Jawa. Ia lakukan apa saja yang diyakininya baik setiap hari tanpa pernah “kehabisan ide”, sebab kebaikan senantiasa tersedia di sekitar kita untuk dikerjakan. Misalnya, menolong orang sakit yang dokter sudah tak sanggup mengobatinya. Ia mengambil anak-anak terlantar yang dijumpainya, padahal ia tak punya modal ekonomi yang cukup dan rasional untuk itu. Pokonya ia kerjakan saja yang baik.

Segala yang kita jumpai adalah amrullah, perintah Tuhan”, ujarnya kepada Jon, “Kalau ada kayu melintang di jalan, itu perintah Allah agar kita menyingkirkannya”.

Tentu maksudnnya mengajak Jon berpikir bahwa kayu itu bisa berarti macam-macam. Bisa penyakit tubuh. Bisa penyakit masyarakat. Bisa kultur politik. Bisa sistem perekonomian. Bisa apa saja.

Kang Muhammad sering merasa kewalahan melayani begitu banyak hal-hal baik yang bisa 
dikerjakannya tiap hari. Pada saat yang sama, ia juga merasa kewalahan kalau rizqullah pas datang berduyun-duyun.

Misalnya dia harus menolong kawan di Jakarta, lho, kok, tiba-tiba ada yang memberinya sangu (nasi). Misalnya ia mengkhitankan anaknya ya sekedar khitan saja tapi kok orang-orang banting uang untuk merayakannya
[Buku : Secangkir Kopi JON PAKIR, Emha Ainun Najib, Hal ; 94-95]

Comments

Popular Posts