Pahlawan Nyata
Ternyata
tanpa kita sadari disekitar lingkungan kita ketika kita menjalankan suatu
aktifitas diluar rumah maupun dilingkungan yang kita sering kunjungi seperti
pasar, stasiun bis, lampu merah, kemacetan, stasiun kereta dan lain-lain. Ternyata
kita bersama harus membuka (open minded) mata kita secara jeli dan biarkanlah
hati yang mampu menyikapi dan menerima tanpa disadari bahwa begitu banyak
pahlawan-pahlawan dipojok kiri dan kanan serta disela-sela para pahlawan nyata
itu.
Siapakah
dia dan siapakah mereka, jelasnya mereka bukan pahlawan super seperti di
film-film animasi, kartun dan juga film box office seperti dalam film marvel
transforment, hulk, antman, spiderman dan juga heroik-horoik lainnya yang bisa
menumpas kejahatan.
Merekapun
bukan ajudan-ajudan yang sehari-harinya memakai pakaian mecing (keren) dan juga mewah. Tetapi sering
kali merekapun berpandangan bahwa yang dinamakan pahlawan itu yang bisa membuat
dirinya bahagia akan kepuasan cita-cita personal dirinya dan bisa membanggakan
keluargannya.
Nyatanya
pahlawan adalah mereka tidak pernah mengeluh akan kondisi hidupnya, perjuangan
hidupnya dan ikhtiar dalam aktifitas keseharian hidupnya untuk bekerja secara
fisik untuk membiayai keluarganya ataupun untuk mereka sendiri.
Berapakah
banyak orang itu disekitar kita dan berapa milyar orang itu di sisi kanan dan
di sisi kiri kita tanpa kita sadari merekalah para pengais rejeki jalanan para
kariyawan, kaum pelajar, tukang becak, kaum proletar, pedagang kaki lima,
tukang bakso dan lain-lain yang tekun untuk mengais rezeki dan memburu ilmu
serta pengalaman yang penuh.
Diri
kitapun tanpa kita sadari (be aware)
bahwa diri kita yang termasuk orang-orang yang tergolong para pejuang yang haus
akan kepuasan hak preogratif dirinya untuk membahagiakan kelaurga dan kepuasan
dirinya untuk berjuang menuju garbong yang lebih terang.
Semua
mengapresiasi bahwa semua didunia ini yang berjuang para pahlawan nyata,
misalkan tukang bakso menoleh kaum terpelajar atau mahasiswa itu adalah salah
satu orang yang elit bisa memperoleh ilmu hingga menjadi orang yang benar-benar
menjadi salah satu kebanggaan untuk orang tuannya. Bahkan demikianpun kaum
terpelajar bisa memahami dari kondisi orang-orang yang tidak sama sekali
mengenyam pendidikan ataupun mereka hanya tamatan (graduate) SD dan SMP karirnya hanya sebagai tukang sederhana
misalkan ojek, buah, rokok jalanan dan lain-lain. Kami mengapresiasi bahwa
mereka bekerja untuk menghidupi dirinya dan keluarganya dan tak sama sekali
merekapun bekerja untuk mengeluh dan bosan mereka pahlawan nyata dan kitapun
sama pahlawanpun seperti mereka sama tapi dalam proses mungkin yang lebih
berbeda.
Kami
semua memahami dalam proses hidup dalam perjuangan hidup bahwa proses sejatinya
hidup manusia tak ada yang sia-sia bila kita tak berhenti untuk tetap berproses
karena “Sungguh Hitung-Hitungan Sang Pencipta Jauh Lebih Hebat dari Logika
Manusia” artinya tak paham untuk memahami takdir secara jelas untuk
perubahan seorang manusia bahwa yang tidak mengenyam pendidikanpun bisa menjadi
orang kaya bahkan punya perusahaan dan wirausaha, apakah logika kita sampai
kepada sang maha pencipta bahwa apa yang kita sadari belum tentu akan seperti
itu.
Sekarang
berapa banyak lulusan sarjana yang (fresh
graduate) dalam vokasinya (kejuruan)
yang lulus dalam wisudanya dan bekerja tapi kepropesian ilmu dalam 4 tahun
kuliah apakah mereka yang dulunya belajar komputer menjadi seorang programmer,
apakah mereka yang belajarnya di fakultas kedokteran menjadi ahli dokter dan
apakah mereka yang dulunya pusing-pusingan dijurusan akutasi jadi ahli ekonom
semua jauh berada diekpetasi masing-masing dan berbeda ketika mereka bekerja
diluar. Itulah yang tanpa kita sadari dan sulit kita mengerti bahwa tidak
selamanya kita ini hidup untuk statis tetapi dinamis.
Semua mengerti bahwa
pahlawan nyata (real heroic) itu
adalah diri mu, diri kita, diri kami dan setiap dalam diri orang-orang yang
mampu memahami dan mengapresiasi bahwa hidup ini harus dengan nilai rasa syukur
yang tinggi serta sabar yang kuat dalam memikul diri pribadi sendiri.

Comments
Post a Comment