Encouragement or Discouragment in Indonesia Education
Dalam
salah satu dari cerita dibawah cerita dan pengalaman empiris dari seorang prof.
Renald Kasali guru besar Manejemen Ekonomi Universitas Indonesia. Profesor ini
memberikan simpul-simpul pemikiran yang amat takjub dan excellent.
Mungkin
berawal dari pengalaman serta dididik denga reselenasi jiwa yang kuat dan
menejemen waktu yang mampu melewati dari segala masalahnya dalam menyikapi
hidup. Beliau adalah salah satu akademisi tetapi bukan hanya sekedar atau semata-mata
akademisi tetapi mempunyai jiwa emosional spiritual dan afektif yang tinggi.
Beliau
sungguh mengkeritik dalam suatu sektor atau banyaknya sektor yang terhambat di
indonesia seperti di DPR, MPR, MKD, Pendidikan, Kurikulum, Kebijakan
Pemerintah, Ekonomi, Distrupsi dan lain-lain. Dalam pemikiran beliau bukan seolah-olah
hanya mengkeritik serta sinis dalam berbicara tetapi lebih dari hal keritik
melainkan keritik secara ide atau solutif dalam mengeritk sub-sub sektor dari
kebijakan-kebijakan pemerintah.
Simak untuk cerita dan pengalaman
Profesor Renald Kasali saya kutif di buku “Self Driving” dari buku beliau
:
Lima
belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuh sekolah tempat
anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya,
karangan bahasa inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai
E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru
saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis
sehari sebelumnya itu pernah di tunjukan kepada saya dan saya mencemaskan
kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk, logikanya
sangat sederhana.
Saya
memnintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah. Rupannya, karangan itulah
yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah
dipuji. Ada apa ? Apa tidak salah memberi nilai ? Bukankah pendidikan
memerlukan kesungguhan ? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya
khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima
saya hanya bertanya singkat.”Maaf Bapak dari mana ?” Dari Indonesia”, jawab
saya. Dia pun tersenyum.
Budaya
Menghukum.
Pertemuan
itu mereupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saya
yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti”, jawab ibu guru yang
wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa
kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,”
lanjutnya. “Di negara Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami
mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar
maju. Encouragment!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya
sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun, untuk anak sebesar
itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa inggris, saya dapat
meminjam, ini adalah karya yang hebat”, ujarnya menunjuk karangan bahasa
inggris yang dibuat anak saya.
Dari
diskusi itu, saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur
prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya saya
menyelesaikan studi saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga
doctor. Sementara di indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik
ditengah ancaman Drop Out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian
program doctor, saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan
mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun,
suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji
yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberi jalan begitu
mereka tahu jawabannya.
Mereka
menunjukan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya
sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa
depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke
tanah air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan
saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk dibangku ujian.
Ketika
seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pernyataan, penguji
marah-marah, tersinggung,dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan
kebaikan itu ada udang dibalik batunya. Saya sempat mengalami frustasi yang
luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hamat
saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan Encouragement, melainkan Discouragement.
Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun
kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan
saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada
semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di
Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak mampu
menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan meperima Hadiah Nobel.
Bukan mereka karena punya guru yang pintar secara akademis, melainkan
karakternya sangat kuat, karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke
pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Jangan kita mengukur kualitas anak-anak kita
dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan” ujarnya dengan penuh
kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis
dalam bentuk verbal.
Anak-anak
Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak
diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja
lebih keras, dia mencoba dengan sungguh-sungguh. Namun sarat telah menunjukan
kemajuan yang berarti.
Malam
itu, saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya.
Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang
tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti Excellent
(sempurna), tetapi saya mengatakan “guru
salah” kini saya melihatnya dengan kaca mata yang berbeda.
Berakhiri
Note :
Apa yang teman-teman
dapatkan dan baca secara perlahan-lahan mempu mengubah pola fikir dan ide-ide
yang membuat hati kita untuk bergerak kea rah perubahan dan mempu mengubah
keadaan-keadaan saat ini.

Comments
Post a Comment