Membangun Manusia Bukan Kepentingan
Hari-hari
ini ditahun 2018 orang-orang terlalu banyak untuk berlomba-lomba untuk mencapai
tujuannya masing-masing dalam membuat formasi entah itu dalam sekala negatif
ataupun formasi dalam sekala positif, yang terpenting target dari tujuan
(perpose)-nya sampai apa yang diinginkannya.
Bukan
semua orang mempunyai tujuan dan capaiannya masing-masing untuk meraih hak
prerogratif (hak istimewa) tujuan capaian dirinya?
Memang
semua insan manusia mempunyai tujuan tersebut tetapi terkadang manusia itu
tidak mengenal rem tangannya untuk tahu batasan-batasan terhadap apa yang
diperbuat oleh dirinya sehingga apakah capaian itu jelas manfaat bagi orang
lain dan bagi dirinya!
Kita
perlu bertanya beberapa kali terhadap hati nurani kita masing-masing apalagi
dimata sekarang yang konon katanya adanya tahun politik untuk negara kita
indonesia semua ramai diperbincangkan apalagi agama sebagai indikator untuk adu
domba perpecahan supaya manusia terpecah belah menjadi potongan kueh yang
berceceran dan kaisarpun tepuk tangan untuk menertawakan bahwa bangsa ini sudah
pecah dan tidak bersatu lagi (nauddzubilahimindzalik).
Bertanya
kepada diri kita ketika manusia ingin mempunyai capaian yang sebenarnya murni
dalam capaian tersebut pasti manusia menggunakan akal fikirannya dalam menelaah
baik-baik tentang capainnya yang ingin diraih entah itu berbentuk capaian yang
artinya membangun manusia bukan kepentingan!
Yang
artinya membangun manusia bukan kepentingannya pribadi secara personal atau secara
kelompok untuk membangun kepentingan dirinya sekaligus kepentingan itu menjadi
alat kekuasaan atau ke sewewenangan terhadap dirinya maupun terhadap kelompok
dirinya msing-masing apalagi merubah sekala manusia-manusia untuk keranah hal
yang membuat mereka hancur dan takabur untuk tidak semakin dewasa saat mengenal
batasan-batasan terhadap perlakuan dirinya untuk kepentingannya.
Bukan
hanya dipartai petinggi-petinggi parpol-parpol besar yang rintangan (challenge) pelurunya sudah amat canggih
dan hebat. kita teropong dari dekat jangankan dari jauh yang jauh juga sudah
seram apalagi cermin yang dekat itu hanya gambaran dari yang jauh.
Salah
satunya dari banyak orang yang dikatakan adalah “agent of change” pembawa perubahan, Mahasiswa inilah Maha atas
tinggi ilmunya dari disiplin ilmunya dan keritis akan pertanyaan-pertanyaan
terhadap dirinya dan Siswa seorang pembelajar yang sedang mencari ilmu
dibirokrasi atau lembaga.
Negara
kecil dari seorang pembelajar Mahasiswa yaitu Universitas atau disebut kampus
untuk menekuni ilmunya ataupun belajar berorganisasi entah itu di Himpunan,
Lembaga BLM, BEM dan KBM Universitas atau Fakultas. Mereka belajar katanya
supaya pintar, mereka berorganisasi katanya supaya public speakingnya bagus
saat berbicara didepan umum semua dikemas dalam kesatuan ilmu sehingga
membentuk pola pikir yang cerdas dan tajam.
Sehingga
mereka belajar dan merasa bebas terhadap dirinya untuk mengendalikan suatu
pergerakan dan menjadi “agent of change”
dilingkungan universitas untuk membangun kepentingannya perbadi terhadap
kelompok-kelompoknyapun, semua berbicara tiada henti, yang benar dianggap
jagoan yang salahpun entah mungkin dianggap sebagai ayam jago. Semua berokrasi
lembaga bermain tiada henti dengan strategi entah itu taktis ataupun secara dinamis
(perlahan-lahan).
Kita
yang sering melihat yang terdekat itulah gambaran kasar dari bobroknya
identitas manusia-manusia yang terkadang dianggap hebat oleh kita, jagoan oleh
kita dan cerdas oleh kita padahal bukti detailnya seperti apa yang dimainkan ataukah
ini hanya sekedar permainan semata untuk melatih mereka dilingkungan lembaga
hingga merekapun dilepas menjadi salah satu respirator yang memakai topeng
identitas anonym (tanpa nama) diwajahnya.
Sungguh
dalam tataran luar gejolak persaingan antara lawan politik sungguh besar
pelurunya dibanding dengan peluru-peluru yang dilingkungannya masih kasat mata
seperti organisasi, lembaga, birokrasi maupun instansi untuk suatu goal
relasionship kepentingan kekuasaan bukan

Comments
Post a Comment