Transformasi Hidup Dewasa
Ada
kata istilah Reformasi menuju Transformasi apa maksudnya kata ini mendominan
dipakai oleh banyak kalangan aktivis maupun kalangan akademis yang sekarang
lagi ngetren-ngetrennya awalnya Reformasi untuk menuju Transformasi.
Dahulu
kata Reformasi adalah untuk memperbaiki (reparasi) membenah perubahan secara
drasitis untuk perbaikan entah itu dalam hal sosial, politik, atau agama dalam
suatu negara untuk mencapai pemehaman masyarakat dalam suatu negara tersebut
bisa berwujud baik.
Sekrang
menuju bukan ke Reformasi tetapi ke Transformasi untuk perjuangan berikutnya
artinya dalam kata Transformasi merubaah secara drastis global dari segi
bentuk, sifat, fungsi dan lain-lain kea rah yang lebih baik dan efektif.
Menyikapi
dalam dua idiom (ungkapan) ini kita harus selektif (peka) terhadap dari
mulainya Ber-reformasi untuk menuju Transformasi supaya apa yang kita
cita-citakan merujuk kepada pergerakan nyata dan kebaikan yang bersifat global
yang artinya “Berloma-lomba dalam kebaikan” untuk negara tercinta kita
indonesia.
Apa
yang harus diperbaiki, yaitu berawal dari dalam diri kita (self) masing-masing
sebagai bangsa yang hidup ditanah ibu pertiwi ini dengan mempunyai spesialisme
nyata untuk mampu bersaing dengan komfetitor-komfetitor yang berada diluar
indonesia.
Perbaikan
diri itu lebih penting dari segala-galanya mengatahui dan memahami serta
percaya diri itu lebih luar biasa lagi untuk mencapai hukum preogriatif dari tubuh manusia yang
mampu memberi subangsih terhadap dirinya dan juga terhadap negaranya.
Tetapi
entah pasti setiap seseorang mempunyai sifat hukum yang berbeda ada orang yang
bersiifat setiap hari bicaranya soal agama hulu hingga hilir bisa persoalan
agama ada yang berdebat dengan membawa agama tetapi kenapa halnya hadirnya
agama kepada mereka menjadi menyerang (appugn) kepada sebagian orang muslim ataupun
non muslim. Bukan berarti tidak peduli dengan masalah persoalan agama apa lagi
yang lagi hangat-hangatnya (topic trending) tetapi kali harus dewasa saya
memahami setiap peroses dan minum orang itu berbeda ada yang belajar agamanya
mungkin dari artikel-artikel ataupun dari media, google ataupun dikampus tetapi
pahamilah belajar agama itu lokalistik memakai guru apalagi gurunya alim ulama
yang tawadhu dan rendah hati dan yang utama belajarlah dari kitab-kitab bagi
yang bisa membaca kitab ataupun belajar kepada gurunya untukmendengarkan kitab.
Tetapi
yang belajar seperti ini hanya ada dipondok pesantren modern ataupun yang lokal
tetapi saya lebih apresiasi kepada pondok pesantren lokal (salafi) yang gaya
hidupnya sederhana dan tidak banyak tingkah. Mereka seringkali tidak melulu
bicara persoalan agama ataupun SARA yang bertentangan dengan agama melinkan
mereka sowan (rindu) ngaji bicara fikih, kehidupan, keinginan dan hal-hal yang
bersifat menyejukan hati karena pada nyatanya Agama itu mebawa cahaya. Agama
seperti halnya bola api, bagaimana untuk mendapatkan bola apa tersebut ambil
cahayanya bukan abunya untuk di pahami oleh kita.
Marikita
ubah mindset (pikiran) kita untuk menuju berlomba-lomba dalam ke arah perbaikan
bukan sibuk menghujat orang lain yang tidak jelas toh kita menghujat orang lain
tidak halnya mengurangi dosanya orang yang dihujat melinkan merugikan dan
menambah dosa kita sebagai umat beragama. Jadi ada kata istilah semua berasal
dari diri sendiri, entah kita pernah berbohong, mencuri, memaharahi dan
lain-lain itu disebabkan oleh dari kita yang mungkin secara tidak sadar
melakukan hal-hal yang tidak baik.
Apalagi
yang sekarang konteks nya menuju Transformasi untuk hidup manusia bukan dari
Reformasi tetapi Reformasi melahirkan Transformasi ke arah pemikiran bangsanya
supaya lebih memahami dirinya secara dewasa (act your age) entah itu dalam
dewasa pemikirannya, kelakuan, akhlak dan menyikapi keadaan di sekitar.
Reformasi
sudah berlalu lewat diperjuangan oleh para pendiri kita yang terdahulu sudah
meninggal untuk sekarang Transformasi layaknya kita yang lahir seblum (funding
of father) bapak pendiri bangsa untuk memajukan negara ini kea rah yang lebih
baik untuk moralitas penduduk bangsanya sebagai bangsa indonesia.
Bukan
merujuk kepada hal-hal yang bertentangan melainkan dengan rasa syukur serta
anugrah yang diberikan tuhan kepada kita negara yang punya adiluhung yang luar
biasa dan futuristik.
Semoga
apa yang diperbuat dan dicita-citakan oleh setiap orang terhujud baik manfaat
untuk kebaikan sekitar maupun personal terhadap diri kita masing-masing ataupun
bagi negara kita yang didirikan oleh orang-orang yang bukan orang-orang
sekarang melainkan orang-orang dari berbagai komponen atau unsur yang
menyatukan kita kearah hidup yang lebih untuh serta merdeka.
Sibuk
itu ketika kita memperbaiki diri dengan berlomba-lomba dalam kebaikan bukan
sibuk mencaci orang lain dengan persoalan-persoalan yang 1% dicapai dengan
hanya membaca dan dikaaitkan dengan orang yang bersifat bertentangan.

Comments
Post a Comment