Manusia is Eart Mother
Dalam
catatan sejarah manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk
yang agung dan penuh ke autentikan (keaslian) pada dirinya masing-masing.
Mereka berfikir mempunyai akal dan hati untuk mepertimbangan hal-hal yang baik
dan buruk dengan sesuai analisanya.
Mereka
hidup tetap hidup seperti layaknya binatang mempunyai nyawa dan ingatan tetapi
yang membedakan manusia dan binatang hanyalah akal semata akal yang mengatur
naik turun baik dan buruknya hal yang dilihat oleh manusia supaya apa yang
menjadi penglihatannya sebagai pertimbangan dan membedakan anatra baik dan
buruknya sesuatu tersebut. Tetapi lain halnya dengan binatang, binatang
dikendalikan oleh nafsu semata mereka tidak punya akal mereka merujuk kepada keinginan
nafsunya untuk keinginan-keinginan sesaat.
Makanya
ada yang bilang “musuh terbesar kita khususnya sebagai umat manusia seberapa
kuat musuh mu diluar kalian masih kalah dengan musuh yang namanya musuh hawa
nafsu”
Hal
yang heran dan yang sering ku tanyakan yang menyangkut ada kaitannya dengan
umat manusia adalah kenapa mereka merusak, merusak apa, merusak alam yang
dititipkan oleh tuhan kepada kita supaya kita manusia bisa menjaganya dengan
penuh kecintaan dan kemanfaatan supaya sumber daya alam (SDA) –nya mampu
meberikan kehidupan domestik untuk kita sebagai yang mengurusi bumi di muka
bumi ini.
Bila
alam dioleh dan dimanfaatkan secara produktif oleh manusia sungguh sangat
makmur dan sejahtera manusia untuk punya kegiataan yang dominan seperti
bercocok tanam, bertani, hidroponik (bercocok tanam dengan air) dan
kemanfaatan-kemanfaatan yang bersifat menguntungkan untuk kemaslahaatan kita
bersama sebagai pengelola alam semesta.
Tetapi
kenapa berbanding terbalik dengan halnya yang menjadi perusak, alih-alih membuat
pabrik untuk kebutuhan bersama juga tetapi apakah wajar bila gunung di pecahkan
dan digali secara hancur apakah wajar. Tidak bahkan tidak wajar untuk di bor
dan digali untuk dijadikan materialnya menjadi bahan pabrik. Saya sama sekali
tidak setuju dengan hal-hal yang bersifat mengancur meskitpun alih-alih dengan
berbagai dalil-dalil kepentingan bahkan kepentingan negara sekalipun.
Saya
sungguh sangat perihatin dengan melihat kepala saya sendiri didaerah cibinong
yang sebagia besarnya terdapat gunung-gunung kecil yang dahulunya nan indah,
tetapi lain hal sekarang semua hancur dan berserakan menjadi
sepongkahan-sepongkahan seperti karang menjadi tidak enak untuk dilihat dan
dipandang melainkan menjadi rusak karena di bor oleh beberapa orang dan dihancurkan
untuk menjadi bahan pabrik materialnya dan diproduksi menjadi hal-hal yang
dapat bisa dibuat produk dan dikomersialkan (dijual belikan).
Inginnya
sih bertanya ke setempat bahkan ke para pegawainya langsung untuk
mempertanyakan hal tersebut, berpuluh-puluh pertanyaan bahkan hingga ratusan
pertanyaan yang ada di otak (mindset) saya untuk menanyakan hal tersebut.
Memang hal tersebut mungkin sebagian orang ada yang acuh tak acuh dan ada juga
sedikit orang yang peduli akan hal tersebut apalagi ini sudah ada kaitannya
dengan lingkungan alam yang dahulunya bagus nan indah toh sekarang justru malah
sebaliknya.
Memang
tidak mudahnya untuk menggali dan mempertanyakan hal tersebut apalagi dalam
ruang lingkup sudah menyangkut instansi atau perusahaan pasti ada beberapa
permainan yang dimainkan untuk kepentingan bersama dan kemanfaatan bersama.
Dalam konteks bersama bukan dalam artian kepada kariawan-kariawan tetapi kepada
para bos yang merancang rencana besar (Grand
Design) untuk di balik kepentingan tersebut.
Memang
semua punya kepentingan tetapi adakalanya kepentingan itu harus tau dan diambil
alih dengan hati dan rasa menuju kepentingan yang menguntungkan kemaslahataan
bersama. Tetapi ini lain lah nya bukan menuju ke kemaslahataan bersama tetapi
sudah dalam ruang menghancurkan dan menimbulkan pencemaran di alam bumi ini.
Dijamin
seburuk apapun manusia dan apapun agamanya pasti mereka mempunyai rasa kasih
nurani dan mampu mebedakan mana hal yang merusak dan meperbagus untuk dirinya
dan untuk sekitarnya masing-masing. Tetapi lain hal terkadang mereka cari aman
dan yang penting mempunyai penghasilan yang amat besar dan menjamin untuk
kehidupan keluarga yang lebih baik tetapi apakah mereka ingat dengan sekilas
cermin yang mereka lakukan itu baik untuk alam atau untuk bumi ini apakah baik?
Baik
buruknya itu ada pada setiap diri orang masing-masing untuk menjawab akan hal
tersebut. Tuhan menciptakan alam semesta ini titipan, hadiah untuk kita rawah
sebagai insan cita manusia yang mulia dan agung untuk merawat bumi ini supaya
bumi ini aman dan tetap indah dan tentram justru jangan sebaliknya dirusak
apalagi dimanfaatkan dengan tidak sewajarnya demi kekuasaan dan sesuai kehendak
nafsu.
Memang
sulit dengan semua ini ingin tidak ingin kita harus menerima dengan anugrah yang
Allah SWT berikan kepada sekenario yang Allah SWT buat apalagi yang dicari
selain kebutuhan makan dan minum hanya itu point utamanya untuk kita hidup,
lain hal lagi dengan sesuatu yang bersifat cita-cita kita atau kebutuhan yang
ingin kita capai untuk menjadi manusia atau khalifah fillardi (pemimpin dimuka
bumi) semua toh bakal menjadi pemimpin tetapi bagaimana si pelaku pemimpin itu
mengakomodir rakyat-rakyatnya apakah dengan tidak baik dan dengan baik untuk
memimpinnya tersebut.
Dan
kembali lagi kepertanyaan setiap diri manusia apakah manusia memimpin dirinya
sudah selesai terutama nafsunya sebelum memimpin orang lain dengan keadaan
benar dan contoh untuk dirinya dan rakyat-rakyatnya supaya apa yang mereka
lihat dan mereka dengarkan menjadi bukti kongkrit untuk bisa menjadi contoh
bagi mereka tersebut.
“Mendengar dan melihat orang itu lebih mudah
untuk mendengarkan seberapa hebat kualitas orang yang presentasi untuk
menyampaikan sesuatu kebaikan-kebaikan untuk dirinya dan untuk orang lain,
tetapi yang sulitnya luar biasa itu ketika kita tidak mampu mengingat dan
menyimpan dengan apa yang kita dengar dan lihat untuk contoh kepada dirikita
minimal sekaligus dalam ruang yang maksimalnya untuk orang banya atau orang
lain”
Teruntuk
juga kepada kaum pelajar khususnya yang berpendidikan tinggi Mahasiswa coba
lebih memperhatikan lagi dilingkungannya masing-masing atau sekitar terutama di
kampungnya tempat lahir mereka lahir dan dibesarkan sehingga mampu pulang lagi
ke halamannya untuk membawa sekilas cahaya yang mampu menerangkan anak-anak dan
khususnya masyarakat. Terpelajar juga harus mempunyai empati yang tinggi dan
adil sejak menyandang pendidikan dalam belajar.
Saya
sempat ingat dengan kata seorang sastra terkenal Pramodya Ananta Toer : “seorang terpelajar harusnya sudah adil sejak
mengenyam pendidikan”.

Comments
Post a Comment