Produktivitas Produksi Manusia



Dalam bulan maret ini banyak kejadian yang harus di ceritakan untuk segelintir kejadian-kejadian entah itu ada di sekitar atau diluar sekitar, maksudnya luar sekitar tersebut di media sosial di televisi dan lain-lain. Cerita apa yang harus diceritaan kepada khalayak tentang cerita-cerita positif yang harus dibangun dengan ketenangan dan tujuan supaya merekapun bisa membaca pola-pola yang selama ini menjadi pola pikir ku hari ini.

Pada hakikatnya manusia diciptakan oleh tuhan semesta langit dan bumi beserta isinya begitupun manusia yang mempunyai setengah bahkan lebih dari kemampuan (ability) yang menyaingi alam raya ini. berangkat dari manakah kemampuan tersebut dari rasa ingin tahu yang di dorong (booster) oleh hadirnya kemampuan untuk terus tidak berhenti mengelola diri supaya terus mengasah ingin rasa tahu atau penesaran supaya menjadi ketahap manusia yang mempunyai kemampuan kongkrit dan jelas.

Yang ingin dibahasa dalam artikel di sini akan menjelaskan bagai mana kita meggunakan alone time my self menuju ke arah yang lebih aktif dan produktif lagi dalam mengelola waktu selama 12 jam dalam sehari entah itu dengan pekerjaan kita ataupun sekolah kita, tetapi asal kalian tau kegiatan-kegiatan yang mencakup menjadi tumbuhnya produktivitas manusia itu terlahir di sekeliling kita tanpa kita sadari.

Kalau menurut Wikipedia Produktivitas itu hampir mencakup ke semua unsur untuk kepada lebih mandiri lagi.

Produktivitas merupakan istilah dalam kegiatan produksi sebagai perbandingan antara luaran (output) dengan masukan (input). Menurut Herjanto, produktivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan bagaimana baiknya sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal. Produktivitas dapat digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan suatu industri atau UKM dalam menghasilkan barang atau jasa. Sehingga semakin tinggi perbandingannya, berarti semakin tinggi produk yang dihasilkan. Ukuran-ukuran produktivitas bisa bervariasi, tergantung pada aspek-aspek output atau input yang digunakan sebagai agregat dasar, misalnya: indeks produktivitas buruh, produktivitas biaya langsung, produktivitas biaya total, produktivitas energi, produktivitas bahan mentah, dan lain-lain (Wikipedia.id)

Tergantung bagaimana geregetnya manusia untuk menghasilkan produksi dari kebiasaan produktivitas (habbit) dalam mengelola dirinya untuk ke arah tersebut karena supaya bisa lebih menghasilkan kemanfaatan lagi entah itu untuk diri kita ataupun untuk disekitar.

Memang sesuatu yang membuat aktifitas kita untuk bergerak itu sungguh tidak menyenagkan untuk diri kita sendiri tetapi dibalik hasil dari produktivitas kita tersebut akan menghasilkan butir-butir yang bisa membuat kita hidup lebih terukur lagi untuk mencapai suatu hal dari keinginan-keinginan atau pencapaian.

Maka dari itu produktivitas itu di produksi oleh manusia pada umumnya dan bisa menghasilkan sesuatu-sesuatu yang berarti bagi kesehariannya untuk terus di kelola dengan sedemikian rupa supaya terlatih dan terbiasa dalam menjalani aktifitasnya.

Ketika lahirlah suatu kegiatan produktivitas maka akan menghasilkan inisiatif-inisiatif baru dalam pekerjaan entah itu dalam pekerjaan apapun dalam kesehariannya supaya lebih pro-aktif lagi dalam menjalankan pengembangan-pengembangan dirinya.

Alhasil ini menjadi salah satu kebiasaan manusia untuk menghadapi kemalasan setiap harinya dengan entah itu libur dalam bekerja ataupun hal apapun, dengan kehadiran adanya produktivitas bisa lebih bisa memproduksi-produksi karya yang lebih konsisten lagi dalam mengelola pekerjaan diluar pekerjaan formal.

Mudah-mudahan artikel ini bisa membuat sekaligus merubah pola fikir kita untuk terus bisa memproduksi DNA produktivitas dalam keseharian ini. untuk bisa sharing kirim komentar di bawah untuk mendapatkan saran-saran dari pembaca. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa mengamalkannya untuk diri sendiri memang sulitnya sedemikian rupa.

Memang bila dalam bukunya “The Power Of IDEAS” konsumsi pemikiran BJ Habibie mengatakan, dalam upaya meningkatkan cadangan devisa, kekuatan ekonomi dan ketahanan nasional, ternyata masih banyak masalah eksplisit dan implisit yang harus dihadapi. Masalah kaitannya dengan produktifitasa dan efisiensi ternyata tidak bisa dilepaskan dari tingakah laku sumber daya manusia itu sendiri serta terkait dengan prasarana ekonomi mikro dan makro yang ada dalam upaya memanfaatkan teknologi yang tersedia untuk dirinya. Oleh karena itu, saya sering mengatakan bahwa produktivitas gabungan adalah gabungan dari produktivitas sumber daya manusia dengan teknologi dan prasarana yang diberikan kepadanya.

Masalah produktivitas gabungan sudah sepatutnya dikaji oleh pakar kebudayaan. Mengapa orang itu sangat efisien bekerjannya, sebenarnya terletak pada budayanya. Misalnya dalam suatu industry (menyebut salah satu industri strategis, red) ada sekitar 20 bagian yang bekerja sendiri-sendiri. Ini tidak bisa dibenarkan lagi. Mereka harus bekerja secara Team Work. Tidak tidak dibenarkan yang satu adalah bagian berlari (running) ke bagian keamanan (security) atau kualitas (quality). Industry memerlukan quality insurance dan quality control, perlu langkah-langkah yang lebih detail dengan dukungan Team Work (kerja sama).  Team Work sangat dibutuhkan dalam melakukan suatu proses yang terdiri dari rangkaian berbagai kuantum terknologi yang sesuai. Padahal bahaimana orang bisa bekerja sama dalam suatu Team Work sangat erat terkait dengan masalah budaya, sikap, prilaku, dan sebagainya.

Kita ketahui bersama bahwa budaya bersumber pada falsafah dan falsafah bersumber pada agama. Baik secara implisit maupun eksplisit dalam falsafah agam terdapat tolok ukur moral. Membicarakan moral atau system moral atau etika yang berakar kepada teologi dan filosofi itu lebih sukar dibandingkan membuat pesawat terbang. Karena kita memanfaatkan nilai-nilai yang tidak berdasarkan pemikiran-pemikiran yang rasional, tetapi didalamnya ada kuantum emosi dan perasaan. Kita juga tidak tahu relasi antara rasio dan kuantum emosi. Itu merupakan problem dalam mempelajari masalah budaya.


Comments

Popular Posts