Retreat Mediasi Setelah Ramadhan 1440 H

BulanRamadhan sudah berlalu yaitu 1 Syawal 1440 Hijriyah. tidak terasa bulan yang yang terkadang kita rindukan oleh umat islam sungguh sangat cepat berlalunya meninggalkan kita semua dalam kurun waku satu bulan yaitu 30 hari, padahal bulan Ramadhan atau bulan puasa teramat sangat moment langka untuk kita temui terutama untuk umat yang beragama islam karena momen bulan Ramadhan yang termasuk didalamnya adalah puasa dan menuju hari raya idul fiitri.

Momen dimana yang sungguh sangat kita rindu-rindukan sebagai umat muslim karena bulan Ramadhan hanya datang satu bulan sekali dalam satu tahun tetapi tetapi terlalu banyak yang dilupakan pada bulan Ramadhan tahun ini ataupun memang siklusnya yang berubah yang lebih parah dari tahun bulan Ramadhan kemarin. Kenapa dikatakan lebih parah ? bicara parah atau tidaknya melihat bulan Ramadhan hari ini bukan masalah sakitnya bulan yang penuh ampunan ini tetapi terlalu banyak orang yang menyepelekan bulan yang penuh ampunan tersebut.

Dalam pandangan parah atau terlalu sangat sadis bila meng-klam bahwasanya sangat para tetapi kita ganti dengan krisis resistensi manusia dalam menghayati Bulan Ramadhan. Artinya bila bulan Ramadhan dikatakan oleh manusia-manusia yang merindukannya kanapa toh bulan yang datang tersebut tidak di hormati dalam momentum yang sungguh berbeda dari bulan-bulan yang lainnya. Artinya harus ada suatu penghormatan dalam di manusia untuk memahami ritual atau ritme dalam memasuki bulan Ramadhan tersebut.

Resistensi (kekuatan) manusia dalam menghayati bulan Ramadhan ini semakin hari semakin tidak peduli bahkan acuh atau terang-terangan untuk tidak beribadah menahan diri dengan sebagai mestinya. Artinya menahan diri tersebut hal yang paling sederhana berpuasa. Berpuasa pada maknanya ini yang manfaat dalam kesehatan manusia bahkan dalam makna muhasabah untuk kehidupan manusia. Meskipun kita pada dasarnya tidak kuat menahan tidak minum, makan atau yang menghindari makruh dalam berpuasa dari waktu 14 jam tersebut. Memang berat untuk mencapai hal ini, memang sangat berat untuk melaksanakan ibadah puasa seperti ini , tetapi saran sarankan tidak kuat setidak kuatnya resistensi manusia bila dia mengendalikan ego atau nafsunya secara sistemik (teratur) supaya ibadah puasanya lancer hingga tibanya azan magrib dan bisa untuk makan dan minum atau berbuka. Artinya bulan Ramadhan 1 hari pertama kalinya memang sangat membuat trending topik, semua kegiatan dijalani hingga ini terciptanya kesadaran manusia terhadap aktivitas bulan Ramadhan, seolah-olah semua manusia masuk gerbong kereta yang sangat gelap sehingga satu persatu manusia tersebut turun karena mungkin bosan atau tidak kuat dalam melewati gerbong kereta tersebut. Terutama beda lagi hal dalam konsukwensi manusia yang sakit. Terutama dalam agama islam agama yang paling adaptif untuk manusia tidak ribet dan meribetkan.

Tetapi selang waktu pertama menginjak bulan Ramadhan semua kian luntur satu persatu mengabaikan (ignore) terutama dalam segi berpuasa, padahal saya menjamin orang yang sehat dan tidak kuat-kuat teramat dalam dirinya untuk tidak berpuasa bukan karena dia di kategorikan sakit tetapi dikarenakan tidak kuat menahan yang yang menjadi kebiasaan yang selama ini di jalani atau aktivitas dijalani. Padahal kuat tidak kuatnya ketika manusia tersebut konsisten dan melawan hantu hawa nafsu yang menempel dalam dirinya itu bisa toh kita tidak akan mati dikarenakan menahan rasa sakitnya puasa, selama bisa memenjarakan hawa nafsu.

Artinya kedepannya bulan Ramadhan untuk disikapi oleh manusia terutama agama islam sudah tidak heran dana sing lagi dalam terang-terangan dalam membuka diri untuk contoh sederhananya tidak berpuasa memang disisi lain hubungan diterimanya ibadah adalah privasi antara tuhan dan manusia tetapi tidak menutup kemungkinan jangan terlalu terang-terangan dalam melakukan hal yang tidak sepatutnya tidak wajar dilihat oleh manusia terutama bagi agama islam. Dalam artian penulispun buka orang bener saat menjalankan Ramadhan atau ibadah puasa tetapi semampu-semampu ku untuk tetap menjaga momentum atmosfir Ramadhan dalam menjalani keseharian ibadahnya, mungkin merekapun harus meditasi semampu-mampu dan sekuat-kuatnya dalam melakukan aktivitas Ramadhan. Tetapi terserah dalam artian kesadaran diri itu ada didalam hak masing-masing individual setiap orang.

Yang saya kawatirkan masa depan ke depannya bulan Ramadhan sudah tidak diistimewakan lagi oleh kalangan umat muslim bahkan terkadang memandang sepele terhadap puasa dan ibadah-ibadah lainnya, terutama dalam menyikapi ibadah puasa. Pada esensinya mereka sebagai manusia paham secara nurani dan fikiran yang logis tetapi susah bila yang memotori itu semua ruang lingkupnya hanyalah nafsu se-saat untuk hanya memuaskan dirinya masing-masing dalam menjalani hidupnya. Mudah-mudahan kita terus dibimbing oleh Allah Swt sebagai pemimpin dimuka bumi ini dengan sebaik-baiknya memimpin entah itu dari contoh atau prilaku dalam bertindak dan lain-lain. Dan terutama selalu diberikan kesehatan dalam menjalani keseharian dalam beraktivitas untuk mengarah kepada kegiatan yang bersifat manfaat untuk dirikita secara pribadi dan keluarga beserta lingkungan.
Minalladizin Wallfaidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Selamat Hari Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah. mudah-mudahan pengarang (author) bisa memberikan auto positif dan manfaat apa yang ditulis. Terimakasih untuk semua khalayak yang membaca tulisan blogger ini.

Comments

  1. Depo 20ribu bisa menang puluhan juta rupiah
    mampir di website ternama I O N Q Q
    paling diminati di Indonesia

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts