Pondok Pesantren Wahana Pendidikan Sepanjang Masa

Dalam empat tahun terakhir lulus dari pondok pesantren rasanya tidak cukup untuk terus belajar atau menggali ilmu dengan serius, sehingga ilmu tersebut memberikan dampak yang bermanfaat untuk pribadi sehingga bisa dipelajari dan diamalkan dengan sesuai konsentrasinya ilmunya masing-masing.

Tetapi disisilain dalam empat tahun ke belakang bpendidikan dipondok pesatren nyatanya sangat memberi tantangan (challenge) bagi yang kuat (retensi) bertahan 3 tahun ataupun 6 tahu pendidikan dipondok pesatren. Bukan suatu hal merugi untuk anak-anak  karena banyak butiran-butiran makna filosofi kehidupan yang bisa diambil di pendidikan pondok pesantren, bukan hanya bicara soal pendidikan dalam belajar agama tetapi saling berdampingan pendidikan yang bersifat keduniaanpun harus di pelajari seperti IPA (biologi, kimia, matematika, bahasa) IPS (ekonomi, sejarah) kenapa harus belajar karena ilmu yang bersifat keduniaan adalah modal atau ongkos kita sebagai Manusia untuk memperoleh atau menguasai ilmu tersebut dalam kompetensi bidangnya masing-masing. Tetapi bila yang ingin konsentrasi dalam ilmu agama seperti memafhumi banyaknya kitab itupun bagus sehingga bisa menjadi ahli juga dalam memahami secara keseluruhan terutama dalam bahasa arabnya.

Pendidikan pesantren adalah pendidikan sepanjang masa meskipun dunia kian berubah sangat cepat dalam dupuluh kebelakang modal pendidikan yang utuh saat ini dan kedepannya adalah pendidikan pondok pesantren entah itu yang bersifat salafiah maupun yang modern (Boarding School) karena pendidikan dipesantren tidak hanya berbicara tentang teori semata tetapi diluar teori entah itu penghormatan kepada guru atau mengambil berkah dari guru-guru pondok supaya ilmu yang didapat menjadi ilmu yang bisa bermanfaat dalam diri setiap individu masing-masing.

Beda hal dengan pendidikan formal biasa yang terlalu mengedepankan teori dan praktik dalam kesehariannya sehingga pendidikan itu hanya semata-mata pendidikan yang hanya mengedepankan citra materi tetapi tidak ada yang terlibat dalam citra non materi artinya dari citra materi adalah dipendidikan formal lebih mengedepankan rasionalisasi tanpa melibatkan toleransi citra non materi yang mengedepankan doa, berkah dan toleransi untuk peserta anak-anak didiknya. Tetapi mungkin jadi sesuatu hal yang beda soalnya tidak bisa disandingkan dengan pendidikan formal biasa. Tetapi yang berkesan (impresif) di kebanyakan pondok pesantren adalah kedisiplinan yang mengkarantina kita supaya menjadi manusia yang bisa mengaur diri masing-masing ketika terjun keluar.

Tetapi apa jadinya bila di Indonesia tidak ada pendidikan yang berbasis pesantren mungkin tidak ada para santri yang mondok. Tetapi ketika dulu memaknai menjadi santri meskipun hanya 3 tahun seharusnya 6 tahun tetapi untuk mengatur diri ini sangat susah berdamai dengan hati sehingga waktu itu masih senang-senangnya bermain di lingkungan luar dengan teman-teman sejawat. Andaikan waktu bisa diulang tetapi belum ada tools teknologi yang bisa mengulang waktu tersebut sehingga waktu kebelakang ternyata rasanya sangat berharga dan ingin untuk memperbaiki diri lagi.

Pelajaran yang bisa didapatkan di pondok pesantren yang jarang didapat dipendidikan formal biasa yaitu :

1.  Disiplin, disiplin itu adalah salah satu hal yang tidak dimiliki oleh semua sifat manusia karena itu dipesantren manusia-manusia diajarkan untuk bisa menghargai waktu atau temapat guna dalam menggunakan waktunya dalam sehari-hari sehingga membentuk manusia yang punya jiwa disiplin (inner discipline) untuk membentuk kebiasaanya dalam mengatur waktu. Demi masa sesungguhnya manusia itu merugikan. 

2. Mengantri, budaya yang harus dimiliki manusia hari ini adalah yang bisa tertib dalam mengargai orang lain. Contohnya kita dipondok pesantren diajarkan untuk dispilin mengantri meskipun terkadang susah untuk menertibakn santri tersebut tetapi memang harus dibiasakan untuk mengantri supaya hal yang menjadi kebiasaan saat mengantri di podok pesantren tetapi bisa diterapkan diluar.

3. Mandiri, pengertian mandiri bisa juga di artikulasikan dengan Makan-makan sendiri, Mandi-mandi sendiri. Tetapi yang lebih jelasnya setiap manusia pastipuna tanggung jawab terhadap dirinya masing-masing entah itu tangung jawab individu ataupun diluar individu sehingga kita diajarkan untuk belajar yang belum bisa didapatkan ketika dirumah seperti menyuci sendiri, makan sendiri, merapihkan baju sendiri, bangun sendiri, mengafal mendiri dan semua serba sendiri terutama dalam menjalankan kepengurusan roda organisasi untuk mengabdi kepesantren selama 1 tahun dan menjadi pribadi sebagai contoh untuk santri-santri junior terhadap tingkah prilaku kita ataupun dilaur prilaku kita.

4. Bersyukur, salah satu yang jarang didapatkan dalam dimanapun kecuali di pesantren yaitu bersyukur kita sebagai seorang santri ketika hidangan makan tidak enak, ketika tidur tidak ada kasur dan tempatnyapun kotor dan ketika mandi wc nya tidaknyaman untuk kita gunakan tetapi memang itu semua adalah pelajaran tolak ukur untuk kita sebagai santri jangan pernah mengeluh terhadap kondisi yang saat itu kita lakukan dan ketika kita saat hidup diperantauan orang lain kita tidak kaget dalam menjalankan aktivitas keseharian kita ditempat perantauan entah itu dalam kondisi apapun kita tetap menjadi pribadi yang bisa bersyukur dan konaah terhadap diri kita sendiri. 

5. Kebersamaan, kebersamaan dalam dunia pesantren memang itu adalah prihal penting dalam kehidupannya sehingga kita berbondong-bondong setiap harinya makan bersama, tidur bersama, mandi bersama dan salaing meminjam satu sama lain bersama itu seolah-olah menjadi manisfestasi kita bersama dalam kesehariannya.

6. Menghargai Guru, takdim kepada guru adalah permata berharga untuk kita menjadi santri dipondok pesantern sehingga ketika ketika kita belajar dikelas atau ngaji bukan toh hanya semata-mata mendengarkan tetapi kita juga membantu guru-guru entah itu dalam prihal usaha atau nurut untuk diperintah oleh guru “Sami’na Waatana”. Sehingga tolak ukur keberkahan ilmu bisa dirasakan terhadap hubungan diri kita dan diri seorang guru tersebut dan mengasilkan ridho gurunya untuk memberikan ikhlas sepenuhnya terhadap ilmu yang diberikan oleh seorang guru kepada murid. Keberkahan itu hanya disadari oleh kegiatan-kegiatan sehari-hari kita tanpa kita sadari dan tidak bisa di ukur dengan kemampuan manusia manapun karena berkah adalah suatu non materi yang tidak bisa di rasionalisasikan.

Mungkin cukup untuk mengakhiri tulisan ini dan mudah-mudahan bermanfaat untuk pembaca yang budiman dan janganlupa terus monitor artikel-artikel yang bernuansa positif yang bisa membangun kita ke arah yang lebih baik dan bermanfaat terimakasih, mohon keritik dan sarannya atas terciptanya tulisan ini.















Comments

  1. ayo segera bergabung dengan kami hanya dengan minimal deposit 20.000
    dapatkan bonus rollingan dana refferal ditunggu apa lagi
    segera bergabung dengan kami di i*o*n*n*q*q

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts