Eko-Spiritualisme

Krisis ekologi di dunia ini makin serius. Lingkungan biotik maupun abiotik makin rusak. Puncak kesadaran manusia atas problem ekologis itu kini ditandai dengan kesadaran adanya perubahan iklim. Krisis ekologis tersebut telah coba dijawab oleh kalangan ilmuwan sosial yang melahirkan politik lingkungan, sosiologi lingkungan, ekonomi lingkungan, dan seterusnya. Namun kini dalam perkembangan ekologi-politik. para ilmuwan sudah melihat agama sebagai salah satu sumber solusi.

Barnhill dkk (2001) mencoba mengangkat hal ini melalui bukunya DeepEcology and World Religions: New Essays on Sacred Ground. Buku ini mengungkap bagaimana agama-agama di dunia memandang persoalan ekologi serta bagaimana agama-agama tersebut memberikan kerangka etik untuk memandu manusia berinteraksi dengan alam.

Di sinilah eko spiritualisme mulai berkembang. Bagaimana puasa dan Idul Fitri mampu membangkitkan eko-spiritualisme baru? Manusia: Makhluk Ekologis? Mestinya berpuasa menjernihkan pemahaman kita tentang eksistensi manusia. Saat ini eksistensi manusia masih selalu difokuskan pada dua hal, yakni relasi dengan sesama manusia (habluminannas) dan relasinya dengan Tuhan (habluminallah), Karena itu etika pun seolah hanya berlaku untuk kedua jenis relasi itu.

Telah banyak manusia atau rel nilai dan norma yang mengaturnya, baik agama, aturan adat, Imaupun aturan formal. Sementara itu relasi manusia dengan alam ih diletakkan dalam kerangka kepentingan relasi manusia- sin atau relasi sosial. Artinya, relasi manusia-alam belumlah sebagai relasi etik sebagaimana kedua relasi lainnya.waliknya, yang terjadi adalah relasi dominasi manusia atas alam.

Akibatnya, kerusakan lingkungan terus terjadi, karena etika hanya berlaku pada manusia. Inilah kira-kira yang sering disebut sebagai aliran antroposentrisme yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta, sehingga manusia dan kepentingannya merupakan nilai tertinggi yang harus diperhatikan (Keraf 2002) Pendekatan antroposentrik tersebut merupakan aliran yang paralel dengan aliran pemikiran pencerahan (the enlightenment thought). Aliran ini berpusat pada individu dengan mengagungkan rasionalitas-instrumental. Suatu rasionalitas yang tidak mengandung isi moral dan menganggap penilaian moral sebagai suatu yang menghambat efisiensi dan efektivitas.

Namun demikian, dominasi aliran ini lalu dikritik oleh penganut Teori Kritis (critical theory) yang melihat bahwa the Enlightenment thought mengandung nilai-nilai yang : (a) menekankan penguasaan manusia atas alam (dan pengetahuan hanyalah alat untuk mendominasi alam). (b) menganggap ilmu pengetahuan mesti positivistik, dan (c) sarat dengan dominasi manusia atas manusia.

Dominasi manusia terhadap alam tersebut membuat manusia meninggalkan aspek aspek kemanusiaannya (moral, insting, keindahan), sehingga pada akhirnya akan menyebabkan dominasi manusia atas manusia (Wallace 1996). Bagaimana idul fitri mampu membangun kesadaran baru bahwa manusia adalah makhluk ekologis?

Dengan memadukan pendapat Berkes (1999) dalam bukunya Sacred ecology dan Richard Scott (2001), maka institusi pengelolaan sumber daya alam sangat dipengaruhi tiga pilar, yaitu pilar normatif yang berisi pandangan tentang dunia (worldview), pilar regulatif tentang aturan main, kebijakan maupun organisasi, serta pilar kognitif yang berisi pengetahuan dan metode pengelolaan. Ketiga pilar itu saling terkait, bahwa pandangan tentang dunia sebagai landasan utama bagaimana sebuah aturan main dan kebijakan dibuat. Ketika orientasi pasar dominan sebagai pandangan hidup.
maka aturan main dan kebijakan yang ada akan selalu menggunakan instrumen pasar. Artinya kebijakan yang ada akan memberikan ruang yang cukup besar bagi pasar dengan segala karakteristiknya untuk berkembang. Sebagai contoh, ide perdagangan karbon, misalnya, adalah pilar regulatif yang digerakkan oleh pilar normatif berupa pandangan hidup bahwa ideologi pasar bisa menyelesaikan persoalan perubahan iklim.

Dalam melihat relasi pilar normatif, regulatif, dan kognitif tersebut di atas, makin terlihat agama punya peran penting sebagai sumber nilai untuk membentuk pandangan hidup tentang alam ini.
Puasa yang dipahami sebagai proses pengendalian diri, selama ini ditafsirkan sebagai proses rehabilitasi relasi sosial dan relasi ketuhanan semata. Selama bulan puasa orang berlomba-lomba minta maaf kepada sesama manusia dan minta ampun kepada Tuhan. Namun dalam perspektif ekosentrisme-bahwa manusia juga juga merupakan makhluk ekologis yang memiliki relasi etik dengan alam-maka mestinya puasa dapat ditafsirkan sebagai proses rehabilitasi relasi manusia dan alam.

Proses rehabilitasi ditandai dengan tekad pengendalian diri dari keserakahan eksploitasi sumber daya alam. Dalam Islam, ditegaskan kita seharusnya tidak memanfaatkan alam lebih dari yang kita butuhkan, dan kita dilarang membuat kerusakan di muka bumi. Puasa yang merehabilitasi relasi manusia-alam mestinya manusia pun pada momentum idul fitri ini "minta maaf kepada alam. "Minta maaf kepada alam diwujudkan dengan beberapa langkah.

Pertama, reideologisasi dan reorientasi pandangan hidup atas alam dengan spirit penggalian nilai-nilai agama sebagai kerangka etik dalam rehabilitasi relasi manusia-alam (greening ethics). Kedua, reorientasi dan reformulasi kebijakan (greening policy) dan praktik pemanfaatan alam tidak berdasar keserakahan. Ketiga, menghijaukan ilmu pengetahuan (greening science and knowledge). Dengan ketiga langkah itu, semoga idulfitri menjadi momentum baru berkembangnya ekospiritualisme.


Comments

Popular Posts