Pandemi dan Infodemi
Sudah
satu tahun setengah virus pandemi diindonesia belum juga berakhir begitupun
dengan negara-negara sebagian di asia maupun di eropa. Virus pandemi ini memang
banyak meresahkan semua kalangan entah itu kalangan elit, menengah dan bawah
mereka harus siap tidak siap menelan obat pait ini dengan cobaan yang sungguh
amat deras.
Bahkan
dikondisi seperti wabah ini kita tidak boleh saling menyalahkan satu sama lain
dan begitupun yang mengatur semua urusan rakyat atau pemerintahaan (governance)
harus bias membawa kepercayaan (trust)
bagi rakyat khusunya yang punya pengaruh besar terhadap baik buruknya
pemerintahan tersbeut. Hari ini kita sebagai rakyat maupun unsur dari segala
instrument pemerintahan harus saling menumbuhkan kepercayaan satu sama lain
entah itu dalam membuat kebijakan (policy
making) atau membuat keputusan kebijakaan karena bila ini ditanngani secara
main-main (gimmick) mungkin unsur
masyarakatpun sudah tidak percaya lagi dengan kebijakan-kebijakan yang ada.
Ditambah
saat covid-19 ini menyerang ke masyarakat ada juga tantangan kita sebagai
individu masing-masing agar tetap sadar mengkonsumsi informasi-informasi yang
bertebaran di kanal-kanal media social atau perangkat gawai masing-masing
masyarakat. Saya kutip sedikit banyak dari Irwan Julianto wartawan senior dan
Dosen Fikom UMN
Wabah
disinformasi
Setidaknya
ada dua kamus lain yang juga membuat rumusan tentang infodemi. Cambrige English
dictionary menyebut infodemi situasi di mana banyak informasi palsu yang
disebar masif hingga membahayakan. Adapun kamus Oxford mendefinisikan infodemi sebagai melimpahnya informasi yang
sebenarnya tidak dapat di andalkan tentang suatu masalah, yang menyebar dengan
cepat dan membuat penanganan menjadi lebih sulit.
Ketika
Covid-19 yang berawal di kota Wuhan,
China, pada akhir 2019, kemudian merajalela ke seluruh dunia sejak awal 2020,
organisasi kesehatan dunia (WHO) mengingatkan bahaya lain disinformasi yang
berkelindan di seputar pandemi Covid-19
adalah suatu infodemi yang masif dan mempengaruhi pandemi itu sendiri. Adalah
UNESCO berjudul yang kemudian menciptakan terminologi baru, memodifikasi kata
infodemi menjadi disinfodemi karena memang ancaman pandemi Covid-19 dibayangi
oleh wabah disinformasi. Julie Poseti dan kalian Bontcheva tahun lalu menulis Policy Brief 1 UNESCO berjudul Disinfodemic – Deciphering Covid-19 Disinformation.
Menurut
Poseti dan Bontcheva, mengapa akses terhadap informasi berkualitas penting
selama krisis Covid-19 karena setidaknya ada 2 hal. Pertama, konektivitas
berkecepatan tinggi adalah saluran vital yang membantu kita mengatasi pandemi
dengan memungkinkan para wartawan dan media yang kredibel menjangkau khalayak
luas tentang Covid-19. Juga menghubungkan para pakar kedokteran satu sama lain,
termasuk dengan perantara, seperti para wartawan secara real time.
Kedua,
pada saat yang sama konektivitas massa membawa ancaman informasi yang sesat dan
palsu yang diproduksi dan dibagi secara viral. Akibatnya, para wartawan dan
tenaga medis yang mengungkap disinformasi ini justru menjadi target serangan
mereka yang sudah termakan oleh disinformasi. Contoh paling gamblang adalah
sosok tokoh seperti Bill Gates yang sudah memperingatkan ancaman pandemic virus
korona, seperti SARS dan MERS, pada 2015 dan perlunya masyarakat dunia
meyiapkan diri dengan penelitian, termasuk pencipta vaksin terhadap infeksi virus
korona, tetapi malah dituding dengan aneka teori konspirasi. Kegiatan vaksinasi
Covid-19 untuk menciptakan herd immunity (imunitas kawanan) sempat menghadapi
resistensi dibeberapa daerah Indonesia. Ada pula seorang pesohor awak band yang
menuding Ikatan Dokter Indonesia adalah kacung WHO.
Itulah
salah satu tulisan opini yang dimuat di koren kompas yang judulnya “Wabah Disinformasi” tulisannya amat
bagus untuk dibuat pemicu (trigger) pengetahuan
terkait kondisi yang terjadi saat ini. Karena kondisi hari ini bukan hanya
bicara virus pandemic yang menyerang ke setiap imun tubuh ke setiap individu
tetapi ditambah derasnya informasi digital di kanal-kanal media social yang
berkategori HOAX itu lebih banyak dan
informasi-informasi ini secara tidak sadar mempengaruhi pikiran kita (mindset)
yang masuk sehingga menyebabkan adanya was-was ataupun ketakutan-ketakutan yang
berlebihan lebih tepatnya tidak wajar.
Bahkan
media yang diakui secara nasional ada 74 media masa di Indonesia lewat
verifikasi dewan pers sedangkan sangat tidak idealnya dengan media yang hari
ini dibuat-buat tanpa terverifikasi oleh lembaga-lembaga nasional yang hari ini
memantau perkembangan media di Indonesia, munkin ada banyak sekali media yang dibuat-buat
oleh khalayan (masyarakat) ataupun individu-individu yang nantinya dibuat untuk
kepentingan tidak sehat bagi masyarakat.
Mungkin ini tantangan kita tidak hanya wabah pandemi tetapi infodemi (disinformasi) pun terkait kondisi saat ini sangat meresahkan ditambah adanya kebijakan-kebijakan darurat oleh pemerintah pusat maupun daerah terkait dampak yang terjadi pada saat ini. Mudah-mudahan disituasi sesulit apapun kita sebagai masyarakat Indonesia harus tetap berdua, berikhtiar dan mengikuti protocol kesehatan atau mendengan saran-saran dari ahli-ahli dokter yang paham terkait virus pandemic saat ini, karena kita bangsa besar dan bangsa yang punya kekuatan tangguh yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain.

Comments
Post a Comment