Peran Pendidikan Formal dan Informal untuk Pendidikan di era New Normal
Virus pandemi(covid-19) sejak desember 2019 masuk ke indonesia telah mengubah segala bentuk
aktifitas kehidupan manusia, entah itu dari aktifitas ekonomi, pendidikan,
sosial atau berkomunikasi dan lain-lain. Ribuan tahun negara Indonesia belum
terimajinasi akan berhadapan dengan wabah virus pandemi yang menyerang penyakit
ini tubuh manuisa yang dahulu-dahulu padahal virus itu hanya menyerang ke
binatang-binatang seperti ayam, anjing dan jenis-jenis binatang yang lainnya.
Siap tidak siap sebelum
virus pandemi (covid-19) ini asal usulnya dikota wuhan di china pada akhir 2019
dan pada juni 2021 dan telah menyebarnya ke seluruh dunia termasuk ke negara
kita indonesia. Virus pandemi ini memang sangat meresahkan bukan hanya
meresahkan kaum elit tapi semua warga negara Indonesia yang dibuat resah oleh
ke adaan virus pandemic (covid-19) ini.
Terutama yang paling
saya resahkan ataupun yang sebagian banyak orang tua resahkan itu kepada sektor
pendidikan kita hari ini, sejak ditutupnya lembaga pendidikan formal oleh
pemerintah pusat atau disebut lockdown
karena harus mengurangi mobilitas kerumunan bukan hanya seklah tapi pasar,
pusat perbelanjaan, pelayanan unit pemerintahan dan lain-lain. Tetapi yang
paling urgent ini sektor dari pendidikan kita harus mempunyai formulasi baru
dalam pendidikan hari ini dan sampai sekrang.
Karena ini menyangkut
generasi kedepan dan kualitas pendidikan kita sebagai warga negara Indonesia
dan siap tidak siap harus melewati tantangan ini. Model pembelajaran sekarang
ini harus adannya edukasi pendidikan formal (lembaga) dan informal (sekitar)
karena masalah (problem) hari ini kita banyak berfokus bagaimana pendidikan
sekarang ini materi-materi yang diajarkan bisa sampai ke murid-murid (siswa/i)
disekolah ? karena untuk pendidikan hari ini ditembok oleh teknologi/internet
yang tatap mukanya hanya sebatas layar bukan langsung interaksi mengajar secara
dekat dan emosional itu bisa terbentuk antara siswa dan guru.
Jujur banyak sekali
yang mendiskusikan masalah (problem) ini dibanyak institusi pendidikan terutama
dilembaga level pendidikan seperti SD, SMP dan jenjang SMP/SMK ini memang
problem serius kalau ini didiamkan tidak adaknya percakapan-percakapan kita
untuk membuat solusi kolektif generasi yang akan datang akan seperti apa ?
Memang pendidikan yang
bagus itu mempunyai fasilitas yang kumplit dan mempunyai guru yang berkualitas
secara pengetahuan umum dan fokus pengetahuan.
Jujur pendidikan hari
ini di dominasi oleh kemungkinan-kemungkinan pendidikan yang harus diberikan
sistem kebebasan kepada masing-masing individi atau siswa/i tetapi dengan
catatan kebebasan itu bukan sepenuhnya melepaskan untuk seenaknya saja siswa/i
misalkan bermain atau mengakses internet kearah yang negatif, tetapi yang
dimaksud kebebasan disini adalah guru dan orang tua harus sama-sama mementor
anaknya dengan belajar secara kreatif dan inisiatif atau mandiri dengan
memanfaatkan telepon pintar/laptopnya masing-masing dirumahnya dengan pendidikan
digital literasi supaya anak bisa berusaha mencari (eksplore) diri terhadap
apapun yang membuat penasaran anak sehingga kita hanya menjadi pengarah dan
anak bisa mencari tahu pengetahuan-pengetahuan yang ada didunia digital.
Meskipun pendidikan
hari ini didominasi oleh aktifitas internet atau memakai telepon pintar/leptop
banyak sekali keterbatasan terutuk saatnya pembelajaran dimulai entah itu dari
jaringan, perangkat tidak mendukung dan lain-lain, masalah ini sangat komplek (rigit) untuk dicarikan solusi bahkan
tidak ada solusi yang real dari
belajar daring (dalam jaringan) karena problemnya banyak da nada
dimasing-masing identitas mungkin bila ada solusi real untuk masalah
pembelajaran daring itu suatu keniscayaan untuk semua orang.
Saya sedikit
mengutip kata dari mantan mentri agama dan pendidikan indonesia Prof.Dr. A.Malik Fadjar, M.Sc. “Didiklah anak-anak kalian dengan hal-hal yang tidak
seperti yang telah kalian pelajari diajarkan. Sesungguhnya mereka itu
diciptakan dalam zaman yang berlainan dengan zaman kalian diciptakan” kita hari
ini sebagai orang tua ataupun pendidikan harus mengajarkan yang berbeda dizaman
generasi kita yang lahir sekakrang atau (digital
native) dan tidak bisa mereka mengadopsi lagi gaya-gaya seperti jaman
dahulu karena akan tidak laku tetapi bukan meninggalkan gaya-gaya zaman dulu
juga tetapi harus mengadopsi dua-duanya ada istilah “act local think global”.

Comments
Post a Comment